Covered Story

Kisah Sayu Kejamnya Covid-19: Renggut Kebahagiaan, Anak Mendadak Kehilangan Orang Tua

Kisah Sayu Kejamnya Covid-19: Renggut Kebahagiaan, Anak Mendadak Kehilangan Orang Tua
Ummul Syahada melamun, memandangi foto ayahnya (Fajri/Akurasi.id)

Kisah sayu kejamnya Covid-19: Renggut kebahagiaan, anak mendadak kehilangan orang tua. Pandemi Covid-19 merenggut nyawa banyak orang. Tak sedikit anak-anak bahkan menjadi yatim piatu karena orang tuanya meninggal dunia usai terpapar Covid-19.

Akurasi.id, Bontang – Remaja berjilbab biru itu duduk termangu di depan teras rumah. Sesekali ia melongo menghadap badan jalan. Memperhatikan satu persatu kendaraan yang melintas. Baginya, suara knalpot motor seakan nyanyian tak bernada. Dia adalah Ummul Syahada seorang pelajar tangguh namun rapuh karena masa lalu.

Saat ini usianya menginjak 16 tahun. Ummul duduk di bangku kelas 1 SMK Negeri 2 Bontang. Ia sama seperti anak-anak pada umumnya, sangat senang dengan bermain dan bertemu teman baru. Namun, belakang ini Ummul selalu menutup diri dari orang-orang di sekitar. Setiap sore ia duduk di teras rumah sambil memandangi langit senja. Lamunannya jauh terbawa angin.

Dulu, Ummul adalah anak yang ceria. Dibandingkan dengan kakaknya, ia adalah anak yang sangat akrab dengan ayahnya. Sejak ayahnya Ahmad Hidayat (53) meninggal akibat Covid-19 akhir Juli lalu, melamun seorang diri menjadi kebiasaan barunya. Kini, remaja itu tinggal bersama ibunya Syamsinar dan kakaknya.

Ummul bercerita, semasa kecilnya bersama sang ayah banyak kenangan yang tak bisa dilupakan. Katanya, ayahnya itu sosok yang ceria. Dia sering diajak bermain ke pelabuhan Tanjung Laut ketika sore, sekedar melihat laut dan berbincang bersama.

“Dulu, setiap sore saya sama bapak ke pelabuhan. Saya juga sering diajak mancing sama bapak,” ujar Ummul, saat disambangi di kediamannya, yang berada di Jalan Selat Karimata 3, Kelurahan Tanjung Laut, Bontang Selatan. Selasa (31/08/2021).

Terkadang, ingatan tentang ayahnya masih sering kali menyelinap dalam benak Ummul. Kesedihan Ummul ditinggal pergi ayahnya masih begitu membekas. Namun, kesedihan dan kenangan itu tidak akan membuatnya berhenti memperjuangkan cita-citanya seberat apa pun tantangan yang akan dihadapi. Dukungan keluarga dan berbagai pihak membuatnya tetap bersemangkal.

”Saya masih harus berjuang. Saya belum bisa merdeka jika cita-cita sebagai seorang desainer belum tercapai,” kata Ummul.

Keinginan Ummul menjadi seorang desainer karena sejak kecil dia memang suka melukis. Bahkan, kata ibunya Syamsinar, seisi tembok rumah sudah pernah di coret-coret oleh anak sulungnya itu.

Mendengar cita-cita anaknya, ibu Ummul menunduk sejenak, seperti membayangkan apakah kelak setelah lulus SMK ia bisa membiayai kuliah anaknya. Karena ia hanya seorang ibu rumah tangga dan suami yang selalu menjadi tulang punggung keluarga sudah berpulang.

Syamsinar bercerita. Sepeninggal ayahnya, anak keduanya itu memang sering ia dapati melamun di waktu-waktu tertentu. Semangatnya seolah menghilang. “Sering saya liat dia melamun. Kadang di kamarnya, kadang juga di teras rumahnya,” ucap Syamsinar.

Ayah Ummul meninggal 30 Juli 2021 lalu. Setelah terkonfirmasi positif Covid-19. Syamsinar bilang, suaminya memang memiliki riwayat penyakit jantung, diabetes, dan paru-paru. Sejak dua tahun lalu, suaminya itu hanya terbaring di atas tilam. Tak bisa terlalu banyak bergerak.

“Memang, sudah dua tahun ayah Ummul sakit-sakitan. Tidak bisa banyak bergerak. Bahkan untuk sekedar berjalan susah,” ujarnya.

Sejak saat itu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya, Syamsinar berjualan kue kering dan empek-empek. Penghasilan yang didapat pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dan biaya sekolah anak-anak.

Kisah sayu kejamnya Covid-19 yang dialami Ummul hanya satu dari ratusan anak di Bontang yang harus kehilangan orang tua, akibat badai pandemi Covid-19. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Kota Bontang, mencatat  per 24 Agustus 2021, ada sebanyak 125 anak yang menjadi yatim, piatu, dan yatim piatu akibat Covid-19.

Kepala Seksi (Kasi) Pemenuhan Hak Anak, Trully Tisna Milasari mengungkapkan jika ada sebanyak 74 anak berstatus yatim akibat kehilangan ayah karena Covid-19. Sedangkan untuk anak piatu yang kehilangan Ibu sebanyak 47 orang. Sementara yang berstatus yatim piatu ada 4 anak.

Trully menuturkan, anak kehilangan orang tua yang dihimpun DPPKB ini hanya yang berusia 18 tahun ke bawah. Pendataan bagi anak yatim piatu ini dilakukan sejak awal pandemi hingga September nanti. Seluruh data anak ini akan diserahkan ke Dinas Sosial untuk dilakukan verifikasi.

Kemudian, data tersebut akan diajukan untuk mendapat bantuan sosial dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim).

“Nanti Dinsos yang akan melakukan verifikasi. Kami hanya melakukan pendataan buat usulan penerima bantuan,” ucapnya. (*)

Penulis: Fajri Sunaryo

Editor: Rachman Wahid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Back to top button