Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Hari Ayah Nasional jatuh pada hari ini, tepatnya 12 November di setiap tahunnya. Meskipun tidak menjadi hari libur, namun beragam perayaan digelar sebagai bukti cinta kasih anak kepada sang ayah.
Sayangnya di balik peringatan ini, Indonesia justru menghadapi fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu meningkatnya kasus fatherless society atau ketidakhadiran figur ayah dalam hidup anak.
Kondisi ini tidak hanya dialami oleh mereka yang orang tuanya bercerai atau ayahnya telah meninggal dunia. Namun tak jarang, hal ini terjadi bagi anak yang masih tinggal bersama dengan orang tua, namun tidak memiliki sosok tersebut di dalam hidupnya.
Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) Maret 2024 mencatat, diketahui 20 persen dari 79,5 anak di Indonesia mengalami kondisi tersebut.
Sementara itu, 20 persen atau setara 15,9 juta anak fatherless ini, 4,4 juta hidup di keluarga tanpa ayah. Sedangkan sisanya 11,5 juta anak lain tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari.
Baca Juga
Kejadian ini pun menjadi sebuah ironi yang memprihatinkan. Karena situasi tersebut dapat memberikan sejumlah dampak negative, baik bagi diri anak sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.
Mengutip dari detik.com, Psikolog Universitas Gajah Mada (UGM) Rahmat Hidayat menyebut, jika kekosongan sosok ayah dalam hidup anak dapat berpengaruh pada karakter mereka. Salah satunya, ia menyinggung terkait strawberry generation.
Di mana julukan generasi strawberry ini muncul, karena mereka dianggap seperti buah stroberi, terlihat cantik dan menarik dari luar, tetapi mudah memar atau rapuh ketika menghadapi tekanan.
Baca Juga
Untuk itu, ia berpesan, agar orang tua dapat menjalin kualitas pengasuhan dan kedekatan emosional yang baik.
Menurutnya, anak tidak hanya butuh dukungan materi, namun juga perlu berikan secara mental. Terutama di momen yang penting bagi mereka. Misalnya saat menjelang ujian atau momen merayakan kelulusan.
Rahmat pun meminta, agar orang tua saat ini merubah pola pikiran mereka. Di mana pengasuhan tidak menjadi tanggungjawab ibu semata, melainkan peran ayah dinilai memiliki posisi yang tidak kalah penting.
Semoga perayaan Hari Ayah Nasional ini, menjadi momentum berkurangnya fenomena fatherless society di Indonesia. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari