
Tren Covid-19 Bontang turun drastis, penambahan kasus per hari hanya 1 pasien, prokes jadi kunci. Di balik tren Covid-19 Bontang turun signifikan, IDI tetap mengingatkan agar prokes diutamakan. Selain itu, mempercepat vaksin juga sangat berperan penting.
Kaltim.Akurasi.id, Bontang – Kasus positif Covid-19 hasil tes harian di Bontang menurun jauh dibandingkan dengan bulan Juni atau Juli lalu. Penambahan kasus cukup stabil, rata-rata antara 2-5 kasus per hari. Status PPKM Level 3 untuk Bontang sudah berlangsung 11 hari dan angka kasus Covid-19 positif hasil tes PCR harian menunjukkan tren membaik.
Dari laman Instragram resmi @promkes.bontang disebutkan, memasuki PPKM Level 3 pada 19 Oktober 2021, angka kasus positif harian tercatat sebanyak 2 kasus. Pada 20 Oktober, tak ada penambahan kasus dan 21-22 Oktober kasus positif tercatat ada 1 kasus. Pada 23 Oktober ada 4 kasus, 24 Oktober penambahan kasus kembali menurun 1 kasus.
Pada 24, Oktober penambahan hanya 1 kasus positif. Pada 25, 26, 27, 28 Oktober penambahan kasus positif masih stabil di angka 1 dan 2. Kasus naik lagi pada 29 Oktober, terdapat 7 kasus positif. Penambahan angka positif kembali turun pada hari Sabtu, (30/10/2021), hari ini tak ada penambahan kasus.
Menanggapi hasil yang baik tersebut, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bontang, dr Suhardi mengapresiasi kinerja Tim Satgas Covid-19. Menurutnya capaian saat ini perlu dipertahankan.
“Capaian hingga saat ini semakin membaik. Itu perlu dipertahankan. Tapi di sisi lain, kita harus tetap waspada mengantisipasi kemungkinan gelombang ketiga Covid-19,” katanya kepada Akurasi.id, Sabtu (30/10/2021).
Menurutnya, kolaborasi perlu diperkuat lagi. Dinas Kesehatan harus tetap bergandengan tangan dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan. ”Kita tidak berani berspekulasi. Kemungkinan buruk itu tetap bisa terjadi. Maka dari itu, harus tetap waspada,” tukasnya.
Meski Bontang masih ada di PPKM Level 3, pemkot harus terus berupaya mengendalikan pandemi. Kata dr Suhardi, penerapan tracing, testing, dan treatment (3T), harus tetap digalakkan. Selain itu, vaksinasi pada masyarakat juga harus digenjot. “Intinya masyarakat jangan longgar terhadap protokol kesehatan dalam keseharian,” imbuhnya.
Dia juga bilang, warga Bontang pernah merasakan kondisi pandemi yang amat menantang di bulan Juni dan Juli. “Kita tidak ingin situasi itu terulang. Artinya tanggung jawab bersama, masing-masing kita ambil peran untuk saling mengingatkan. Apabila kita menyaksikan ada satu aktivitas yang berpotensi, bukan hanya melanggar, tetapi juga berpotensi penularan kita bantu untuk dicegah,” katanya.
Kata dia, kondisi seperti ini harus terus terjaga. Pengawasan perlu dilakukan bersama-sama. Tidak hanya pengawasan oleh pemerintah, karena sebagian besar kegiatan itu berada di wilayah privat, yang tidak selalu mudah diawasi aparat penegak aturan.
“Ruang pertemuan, di kantor, ruang keluarga, itu semua tempat yang tidak mudah untuk dilakukan pengawasan. Itulah pentingnya kesadaran bersama,” jelasnya. (*)
Penulis: Fajri Sunaryo
Editor: Redaksi Akurasi.id