Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda menindaklanjuti laporan warga terkait dugaan pencemaran sumber air di kawasan Jalan Batu Besaung, RT 37, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara. Pencemaran tersebut diduga berasal dari aktivitas pembuangan sampah dan limbah yang telah meresahkan warga sekitar selama enam bulan terakhir.
Pengawas Lingkungan Hidup DLH Samarinda, Lilly Yurlianty, mengatakan pihaknya menerima surat pengaduan warga melalui kelurahan setempat pada 3 Oktober 2025. Laporan itu, kata dia, kini sedang ditangani sesuai dengan prosedur yang berlaku.
“Surat pengaduannya baru sampai ke meja saya tanggal 3 kemarin. Kami langsung tindak lanjuti sesuai SOP dan peraturan menteri lingkungan hidup tentang tata kelola pengaduan dan penyelesaian sengketa,” ujarnya.
Lilly, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pengelolaan Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa Lingkungan, menjelaskan bahwa timnya telah melakukan langkah awal dengan menggelar rapat internal bersama Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan serta Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Ia menambahkan, sebelum rapat dilakukan, DLH telah menurunkan Pejabat Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan, Zainal Abidin, untuk melakukan peninjauan awal di lapangan. Karena itu, verifikasi tambahan dinilai tidak diperlukan.
Baca Juga
“Hasil tinjauan lapangan sudah kami pegang. Jadi rapat kami fokuskan pada tindak lanjut dan koordinasi lintas instansi,” terangnya.
Ke depan, DLH akan melibatkan Tim Yustisi Pemkot Samarinda dalam rapat lanjutan. Tim tersebut memiliki kewenangan untuk menutup lokasi pembuangan sampah yang terbukti mencemari lingkungan.
“Mereka bisa memasang semacam garis pembatas atau police line agar tak ada lagi aktivitas pembuangan di sana. Dasar hukumnya sedang kami siapkan,” katanya.
Sementara itu, Arbani, pemilik lahan yang terdampak pencemaran, mengaku telah lama menunggu tindakan tegas dari pemerintah. Ia mengatakan air yang tercemar telah menurunkan hasil panennya secara drastis.
“Dulu hasil panen lumayan, tapi sekarang turun drastis. Airnya bikin tanaman mati kalau dipakai nyiram,” ungkapnya.
Menurutnya, warga lain yang memanfaatkan sumber air tersebut juga mengalami dampak serupa.
“Ada kolam ikan yang rusak, bahkan ada warga yang kena penyakit kulit karena airnya tercemar,” jelasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id