Sekolah Rakyat Samarinda Menyulam Kembali Mimpi yang Robek

Dulu, Ahmad Faris berhenti sekolah karena tak mampu membeli buku dan seragam. Kini, di bawah naungan Sekolah Rakyat, bocah 15 tahun itu kembali mengenakan seragamnya, bukan sekadar untuk belajar, tapi untuk membuktikan bahwa harapan tak pernah benar-benar hilang.
Fajri
By
2.3k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Di tengah masih banyaknya anak yang berhenti sekolah karena alasan ekonomi, Program Sekolah Rakyat hadir menjadi secercah harapan baru. Di Kota Samarinda, program sosial ini kini membuka ruang belajar bagi anak-anak kurang mampu agar bisa kembali melanjutkan pendidikan.

Saat ini, Sekolah Rakyat telah beroperasi di tiga lokasi: Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kaltim, Balai Latihan Kerja (BLK), dan SMA 16 Samarinda.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan harapan dan menggali potensi anak-anak sesuai bakat mereka.

“Melalui teknologi yang dikembangkan oleh Bapak Ari Ginanjar, kita bisa memetakan bakat dan kejeniusan siswa. Guru dapat membimbing mereka sesuai talenta yang dimiliki sejak dini,” ujar Saifullah.

Ia menjelaskan, pemerintah juga menyiapkan pendampingan bagi para siswa setelah lulus, baik yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun yang memilih langsung bekerja. Semua disesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing anak.

“Ini adalah program prioritas Presiden. Pemerintah menyiapkan seluruh kebutuhan siswa. Sekolah Rakyat didesain berasrama agar mereka belajar dengan tenang dan fokus,” tambahnya.

Program ini menjadi jawaban atas persoalan klasik dunia pendidikan: anak-anak yang harus berhenti sekolah karena faktor ekonomi.

“Setiap tahun ada anak yang lulus SD tapi tidak lanjut ke SMP, atau lulus SMP tapi tidak lanjut ke SMA. Ini menjadi pekerjaan rumah besar yang ingin kami jawab melalui Sekolah Rakyat,” tegasnya.

Dari Putus Sekolah ke Asrama Harapan

Salah satu siswa, Ahmad Faris (15), kini duduk di kelas 1 Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Samarinda. Ia mengaku bersyukur bisa kembali bersekolah setelah sempat berhenti karena keterbatasan biaya.

“Saya dulu berhenti karena nggak ada uang buat bayar-bayar, beli buku, sama baju sekolah. Sekarang sekolah lagi, mau banggain orang tua,” ujar Faris.

Selain alasan ekonomi, Faris juga bercerita pernah mengalami perundungan di sekolah lamanya. Ia kerap mendapat ejekan bahkan kekerasan fisik dari teman-teman sekelasnya.

“Dibully, dibilang gendut, hitam, sampai dipukul juga,” kenangnya pelan.

Kini, Faris merasa jauh lebih nyaman dan aman di lingkungan barunya. Ia mulai berani bermimpi lagi.

“Temannya sopan-sopan,” katanya singkat sambil tersenyum.

Sekolah Rakyat menyediakan fasilitas lengkap untuk para siswa, mulai dari asrama, perlengkapan pribadi, hingga makanan sehari-hari.

“Di kamar ada kipas, handuk, selimut, tilam, guling, bantal, sabun, tempat cuci baju, semuanya lengkap. Makan juga disiapkan,” jelasnya.

Faris mengaku betah tinggal di asrama dan mulai menata mimpi besarnya. “Cita-cita saya mau jadi pilot. Habis SMP nanti lanjut ke SMA, terus mungkin ke SMK juga. Pokoknya mau terus sekolah,” ucapnya penuh semangat.

Menurutnya, suasana belajar di Sekolah Rakyat terasa berbeda dibanding sekolah umum. Kedisiplinan dan pembinaan karakter menjadi bagian penting dalam keseharian siswa.

“Kalau di sini lebih sopan, teratur, bangun pagi, sholat, terus diarahkan jadi lebih baik,” ujarnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }