Akmal Malik Nilai Pemprov Kaltim Belum Fokus Atasi Ketahanan Pangan

Devi Nila Sari
150 Views

Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik kritisi pemprov yang belum fokus atasi ketahanan pangan. Sehingga, ketika harga barang naik, pemerintah tidak bisa mengurai persoalan karena pasokan berasal dari luar.

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat banyak mengeluhkan melangitnya harga beras. Tak hanya terjadi sekali atau dua kali, kenaikan harga beras terjadi secara berkesinambungan setiap pekan. Sehingga, sangat dirasakan oleh masyarakat.

Tidak hanya terjadi di Provinsi Kaltim, namun melambungnya harga kebutuhan pangan masyarakat ini terjadi di seluruh Tanah Air. Penyebabnya tak lain, karena gagal panen yang berdampak kepada berkurangnya pasokan.

Sementara, Provinsi Kaltim masih mengandalkan pasokan beras dari luar daerah. Otomatis ketika pasokan berkurang, warga hanya bisa merasakan harga barang yang naik perlahan atau secara keterlaluan.

Menyikapi hal ini, Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim Akmal Malik menilai, pemerintah provinsi belum fokus dalam menangani isu ketahanan pangan.

“Soal ketahanan pangan kita masih tidak fokus. Kebijakan kita kecil. Padahal memancing ikan besar harus menggunakan umpan yang besar pula,” terangnya di Samarinda, Selasa (27/3/2024).

Akmal Malik Ingin DPTPH Kaltim Tanam Kebutuhan Pangan, Jangan Selalu Impor

Ia pun mengkritisi kinerja perangkat daerah yang bergelut di masalah ketahanan pangan yang belum maksimal. Misalnya, 85 Balai Penyuluh Pertanian (BPP) yang ada di Kaltim. Kata dia, harusnya setiap BPP memiliki program kerja tentang penyuluhan pertanian yang dimulai dari diri sendiri.

Masing-masing dari 85 BPP memiliki 5 hektar lahan, jika ditanami cabai maka tidak perlu lagi mendatangkan cabai dari Palu. Namun, karena belum fokus ke sana, lagi-lagi untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus impor dari luar daerah.

“Penyuluh pertanian jangan seperti orang berkepala botak yang menjual penumbuh rambut. Maksudnya hal ini harus dibuktikan dulu dari diri sendiri,” kata dia.

Minimal penyuluh pertanian harus punya lahan yang bisa dijadikan percontohan atau biasa dikenal demontration plot (demplot). Sehingga, masyarakat mempunyai arahan untuk diikuti.

Sebagai informasi, demplot merupakan metode penyuluhan inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani. Dalam menerapkan teknologi pertanian terbaru.

Lahan percontohan ini dibuat di lokasi yang mudah diakses oleh para petani. Dimana mereka dapat melihat langsung penerapan teknologi baru dalam budidaya tanaman. Mulai dari pemilihan varietas unggul, penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat, hingga teknik panen dan pascapanen.

Dengan melihat langsung hasil panen yang optimal dan efisien di demplot. Diharapkan para petani termotivasi untuk mengadopsi teknologi tersebut di lahan mereka sendiri. Sehingga, dapat meningkatkan produktivitas dan hasil panen secara keseluruhan.

Ia pun meminta kepada Kepada Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kaltim agar fokus kepada beberapa tanaman yang masih membutuhkan impor. Misalnya beras cabai, serta bawang. Untuk ditanam sendiri.

“Saya kira kalau cabe bisalah. Jangan ditanam durian, itu (berbuahnya) sepuluh tahun lagi. Persoalan kita kelangkaan. Harus ada keserentakan,” tambahnya. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }