Kabar Politik

Tingkat Partisipasi Politik Rendah, KPU Bentuk Kawasan Percontohan Peduli Pemilu di Kaltim

Tingkat Partisipasi Politik Rendah, KPU Bentuk Kawasan Percontohan Peduli Pemilu di Kaltim
Tingkat partisipasi politik di Kaltim masih rendah menyusul sikap skeptis masyarakat terhadap kebijakan pemimpin yang dianggap tidak menyejahterakan rakyat. (ilustrasi)

Tingkat partisipasi politik rendah, KPU bentuk kawasan percontohan peduli pemilu di Kaltim. Banyaknya masyarakat yang masih berpandangan skeptis terhadap pemilu, menjadi tantangan tersendiri bagi KPU.

Akurasi.id, Samarinda – Tingkat partisipasi politik rendah, membuat Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengambil langkah terobosan. Langkah yang diambil yaitu membentuk kawasan percontohan dalam program desa peduli pemilu dan pemilihan (DP3).

Adapun, di Kaltim sendiri 2 kawasan terpilih untuk mengikuti program perdana itu, yakni Samarinda tepatnya di Kelurahan Pelabuhan di Kutai Timur tepatnya di Sangatta.

Ketua KPU RI Ilham Saputra mengatakan, setiap provinsi hanya memperoleh jatah sebanyak dua kawasan sebagai desa percontohan pemilu. Yang mana, akan dipilih dikarenakan rendahnya tingkat partisipasi politik di kawasan tersebut.

Menurutnya, program desa percontohan ini sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi politik. Tentunya tidak hanya dari sisi kuantitas namun juga kualitas. Berkaitan dengan pemahaman masyarakat terhadap nilai pemilu itu sendiri.

Yang mana, dari pemilihan yang dilakukan akan berdampak kepada kehidupan masyarakat ke depan. Karena berkaitan dengan program-program yang akan dilakukan oleh pemerintah.

“Itu yang harus dipahami. Sehingga kader-kader kami nanti akan menularkan apa yang mereka terima, untuk disampaikan kepada masyarakat,” kata Herli.

Diungkapkannya, banyaknya masyarakat yang masih berpandangan skeptis terhadap pemilu, menjadi tantangan tersendiri bagi KPU. Padahal kebijakan yang akan diambil seorang pemimpin sangat berdampak kepada warganya.

“Untuk itu kami harap teman-teman nanti dapat berpartisipasi secara aktif dalam kepemiluan. Entah itu sebagai penyelenggara atau melaporkan dugaan potensi kecurangan,” ucapnya.

Secara tidak langsung, ia menyebut, program ini juga bertujuan untuk mempermudah kerja KPU dalam merekrut kader maupun penyelenggara pemilu. Karena telah mendalami program-program yang diberikan selama desa percontohan dilakukan.

Sementara itu, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim Rudiansyah mengungkapkan, tingkat partisipasi politik warga Kaltim termasuk rendah. Sehingga, hal tersebut menjadi bahan evaluasi pihaknya karena belum mampu memberikan kontribusi khusus kepada masyarakat sekitar untuk meningkatkan partisipasi politik.

“Itu juga menjadi alasan kami dalam program percontohan ini. Mudah-mudahan hasilnya bisa didapatkan secara maksimal,” katanya.

Pihaknya berharap, dengan program desa peduli pemilu dan pemilihan dapat meningkatkan proses pemilihan masyarakat selama pemilu. Yang mana ada dua kategori yang ditekankan, yaitu baik dalam hal kuantitas hingga kualitasnya.

“Bukan hanya menggunakan hak pilihnya, tetapi lebih aktif juga dalam proses-proses pengawasan pemilu,” tuturnya.

Di sisi lain, diharapkan melalui program-program ini dapat memperkuat masyarakat agar tidak terpengaruh terhadap hal-hal berbau politik seperti politik uang, politik sara, dll.

“Diharapkan pemilih lebih aktif meneliti visi dan misi kontestan pemilu dan pemilihan. Kemudian, trace record setiap pihak yang berkompetisi,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut akan mendorong peningkatan tingkat partisipasi politik masyarakat. Di sisi lain, sikap kritis terhadap program-program yang dibawa setiap partisipan yang sekiranya mampu menyelesaikan atau menyentuh persoalan krusial di suatu wilayah juga dirasa penting untuk menjadi perhatian.

“Begitu pula dengan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah,” katanya. (*)

Penulis: Devi Nila Sari

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Back to top button