Trending

Mudahnya Pelajar Lakukan Aborsi, Psikolog: Minimnya Edukasi Seks dan Efek Negatif Medsos

Mudahnya Pelajar Lakukan Aborsi, Psikolog: Minimnya Edukasi Seks dan Efek Negatif Medsos
Kasus aborsi seperti yang dilakukan seorang mahasiswi di Samarinda menjadi bagian dari fenomena yang seolah sudah lumrah terjadi di kalangan pelajar. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Mudahnya pelajar lakukan aborsi, Psikolog: Minimnya edukasi seks dan efek negatif medsos. Di balik mudahnya pelajar lakukan aborsi atau masyarakat menggugurkan janin, sedianya telah menjadi fenomena lama. Kondisi itu kian lumrah dengan akses informasi di ragam jejaring medsos.

Akurasi.id, Samarinda – Kasus penemuan mayat janin yang terungkap Rabu (23/9/2021) di sebuah indekos, Jalan Wolter Monginsidi, Samarinda, membuat warga Kota Tepian kaget. Pasalnya, diketahui penemuan janin tersebut merupakan hasil tindak aborsi yang dilakukan oleh mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Samarinda.

Namun, sejatinya kasus penemuan mayat janin seperti itu bukanlah hal baru, terutama di daerah perkotaan. Sebab, beberapa pasangan lebih memilih menggugurkan janin hasil hubungan di luar nikah dengan berbagai alasan seperti malu atau menganggap hal tersebut sebagai aib.

Menurut Dosen Psikologi Universitas Mulawarman Lisda Sofia, mudahnya pelajar lakukan aborsi merupakan fenomena yang terjadi sejak dulu. Namun dikarenakan kini akses media sosial lebih terbuka sehingga kasus aborsi lebih ter-blow up dan menjadi konsumsi publik.

Dikatakannya, hal demikian biasanya terjadi lantaran minimnya pendidikan edukasi mengenai seksual dan penguatan jati diri di kalangan wanita Indonesia. Untuk itu, ia menekankan pentingnya pengenalan akan organ-organ tubuh maupun alat vital mengenai kewanitaan maupun lelaki oleh orang tua sejak dini.

“Tentu saja hal ini dilakukan dengan bahasa sederhana yang mudah dicerna anak. Begitu pun dengan penjelasan cara berteman dengan lawan jenis, anak sudah harus diberi pengertian sejak kanak-kanak,” kata dia.

Selebihnya, pendidikan edukasi seksual juga dinilai penting dilakukan minimal sejak anak berada di bangku SMP. Lantaran, di masa-masa tersebut seorang anak sudah memulai pencarian dan pembentukan jati diri, serta sangat rentan tersusupi tontonan film-film dewasa maupun pengaruh negatif dari luar.

Tidak hanya itu, menurut dia mengingatkan, penting bagi seorang wanita untuk menanamkan nilai-nilai seperti menghargai dan mencintai diri sendiri. Tidak mudah terpengaruh oleh rayuan maupun pengaruh negatif dari luar. Hal yang demikian merupakan salah satu cara membendung ajakan hubungan di luar nikah yang berasal dari pribadi sendiri.

“Pendidikan seksual dan nilai-nilai kewanitaan juga sangat penting diberikan kepada anak SMA. Namun lagi-lagi, hal yang demikian memang masih tabu di negara kita,” ujarnya.

Namun demikian, ia juga mengakui, bahwa pembentukan jati diri dan pemberian edukasi seksual tidak selalu mampu membendung tindakan seks sebelum menikah, yang berujung pada tindakan aborsi seperti yang dialami mahasiswi asal Bontang beberapa hari lalu.

Selain itu, dikatakannya, apabila pelaku berusia di atas 18 tahun atau bisa dikategorikan dewasa, maka tindakan yang dilakukannya sudah dapat dikategorikan dilakukan secara sadar setelah mempertimbangkan beberapa konsekuensi.

“Kalau kasus pengguguran janin dilakukan oleh mahasiswi, berarti ia sudah dewasa dan mengetahui konsekuensi seks di luar nikah. Artinya, kembali kepada pribadi masing-masing untuk membentengi dirinya sendiri agar tidak melakukan tindakan tersebut terlebih berujung pengguguran janin,” ujarnya. (*)

Penulis: Devi Nila Sari

Editor: Rachman W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Back to top button