Komisi XII DPR RI turut turun tangan atas dugaan pencemaran di Muara Badak, Kukar. Diharapkan kasus ini segera selesai.
Kaltim.akurasi.id, Kutai Kartanegara – Polemik antara pembudidaya kerang dara di Muara Badak dan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) terus bergulir.
Hingga saat ini kedua belah pihak masih menanti hasil uji lab, atas dugaan pencemaran terhadap para pembudidaya akibat aktivitas pengeboran rig perusahaan tersebut.
Permasalahan ini mencuat sejak Desember 2024 dan berdampak pada mata pencaharian masyarakat setempat. Warga telah menempuh berbagai cara, termasuk menggelar aksi demonstrasi pada 4-12 Januari 2025, yang akhirnya berujung pada penangkapan beberapa warga yang dianggap sebagai provokator.
Menindaklanjuti hal tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI Syafruddin bersama tim melakukan kunjungan kerja ke PT Pertamina Hulu Sanga Sanga di Kutai Kartanegara, Minggu (16/2/2025) lalu .
Baca Juga
Kunjungan ini juga dihadiri oleh Dirut Pertamina Hulu Indonesia, pejabat Kementerian ESDM, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Syafruddin menegaskan, kehadiran mereka bertujuan untuk mencari solusi konkret terkait persoalan pencemaran yang merugikan masyarakat Muara Badak.
“Kami datang untuk mendengarkan langsung aspirasi masyarakat dan memastikan solusi atas dugaan pencemaran, akibat aktivitas Pertamina Hulu Sanga Sanga. Harapannya, ada langkah nyata yang bisa segera diambil,” tuturnya mengutip dari laman resmi Parlementaria.
Baca Juga
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalimantan Timur, Syafruddin mengapresiasi respon positif yang ditunjukkan oleh pihak Pertamina dalam menangani persoalan ini.
“Alhamdulillah, pihak Pertamina menunjukkan sikap terbuka dan berkomitmen untuk menangani masalah ini dengan serius. Kami berharap mereka dapat menjelaskan langkah-langkah konkret yang akan diambil ke depan,” tambahnya.
PT Pertamina Komitmen Berikan Bantuan Tali Asih
Sementara itu, Dirut PT Pertamina Hulu Indonesia, Sunaryanto, mengakui adanya keluhan masyarakat terkait kematian kerang dara. Ia menyebutkan, pihaknya tengah berupaya memastikan apakah ada hubungan langsung antara aktivitas perusahaan dan permasalahan yang terjadi.
“Ada dua aspek utama yang perlu diperhatikan. Pertama, soal pembuktian. Namun, yang lebih penting adalah tanggung jawab perusahaan. Jika memang terbukti ada kaitannya, kami siap bertanggung jawab,” ungkapnya.
Meski proses investigasi masih berjalan, Sunaryanto menegaskan, pihaknya tetap akan memberikan perhatian kepada masyarakat terdampak.
“Kami akan menyalurkan bantuan dalam bentuk tali asih kepada warga terdampak, bukan sebagai ganti rugi, tetapi sebagai wujud kepedulian,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, Syafruddin menyambut baik sikap Pertamina dan menegaskan bahwa DPR RI akan terus mengawal persoalan ini hingga ditemukan solusi terbaik bagi masyarakat.
“Langkah masyarakat yang melaporkan masalah ini kepada DPR adalah langkah yang tepat. Sebagai wakil rakyat, kami akan terus mendiskusikan masalah ini dan memastikan, ada solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat,” tuturnya.
Selain Syafruddin, kunjungan ini juga dihadiri oleh sejumlah anggota Komisi XII DPR RI, diantaranya Wakil Ketua Komisi XII Bambang Haryadi, serta anggota Bambang Wuryanto, Sigit Karyawan Yunianto, Arif Riyanto Uopdana, Mukhtarudin, Dewi Yustisiana, Christiany Eugenia Paruntu, Ade Jona Prasetyo, Rocky Candra, Cheroline Chrisye Makalew, Iyeth Bustami, Muh. Haris, Aqib Ardiansyah, dan Nurwayah.
Hadir pula pejabat dari Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, serta direksi PT Pertamina Hulu Sanga Sanga. Dengan adanya keterlibatan berbagai pihak, diharapkan solusi yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak dapat segera terwujud. (*)
Penulis: Dwi Kurniawan
Editor: Devi Nila Sari
