PT Silog Akui 3 Pekerja Tewas Belum Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan

Insiden tewasnya tiga pekerja proyek RDMP membuka fakta baru: PT Semen Indonesia Logistik (PT Silog) belum memperbarui data kepesertaan BPJS mereka. Kini perusahaan mengaku siap menanggung penuh kerugian dan berjanji memperbaiki sistem administrasi ketenagakerjaan.
Fajri
By
3.7k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Setelah inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan DPRD Penajam Paser Utara (PPU), PT Semen Indonesia Logistik (PT Silog) dan KPB Pertamina dipanggil untuk memberikan klarifikasi. Pemanggilan itu menyusul insiden kecelakaan kerja yang menewaskan tiga pekerja proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di kawasan Lawe-Lawe.

Divisi Konstruksi PT Silog, Rendra Sanjaya, mengakui bahwa perusahaannya belum memperbarui data kepesertaan ketiga pekerja tersebut dalam BPJS Ketenagakerjaan sebelum insiden terjadi. Akibat kelalaian itu, PT Silog siap menanggung seluruh konsekuensi dan mengganti kerugian kepada keluarga korban.

“Penanganan korban sudah kami lakukan. Pemulangan ke keluarga dan proses pemakaman kami dampingi. Santunan juga sudah diberikan. Kami beri Rp100 juta setiap keluarga,” ujar Rendra, Rabu (5/11/2025).

Ia menambahkan, PT Silog berkomitmen memenuhi seluruh hak ketenagakerjaan almarhum, termasuk penyelesaian administrasi kepesertaan BPJS. Menurutnya, pembaruan data BPJS dilakukan secara berkala mengikuti jumlah tenaga kerja aktif di proyek.

- Advertisement -
Ad image

“Awalnya terdaftar sekitar 30-an pekerja. Seiring penambahan tenaga kerja, data harus di-update. Untuk beberapa nama, pembaruan dilakukan pada 31 Oktober. Bila ada yang belum ter-cover, perusahaan menanggung tanggung jawab itu,” jelasnya.

Rendra memastikan seluruh pekerja PT Silog yang kini bertugas di proyek Lawe-Lawe telah terdaftar dan terlindungi dalam BPJS Ketenagakerjaan. Ia menjelaskan, perusahaan menerapkan skema pembayaran BPJS dengan menyisihkan sebagian persentase dari nilai proyek.

Dalam pertemuan bersama DPRD dan Dinas Tenaga Kerja PPU, pihak perusahaan juga diingatkan kembali mengenai kewajiban melaporkan seluruh pekerja ke Disnaker dan mematuhi ketentuan penggunaan tenaga kerja lokal.

“Sekarang kami tinggal mengupdate jumlah pekerja saja,” ucapnya.

Saat ini, PT Silog mencatat total 140 tenaga kerja yang terlibat di proyek RDMP Lawe-Lawe, dengan komposisi 50 persen tenaga lokal dan 50 persen non-lokal. Rendra menyebut, keterbatasan tenaga kerja terampil di daerah menjadi alasan perekrutan pekerja dari luar.

“Ke depan, rekrutmen tenaga kerja akan lebih dulu dikoordinasikan dengan Disnaker agar penyerapan tenaga lokal bisa lebih besar. Sebelumnya kami merekrut melalui LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat),” katanya.

Terkait kewajiban memiliki kantor perwakilan di wilayah kerja, Rendra mengaku pihaknya sedang berkoordinasi untuk memenuhi ketentuan tersebut. Sementara itu, proses investigasi penyebab kecelakaan masih menunggu hasil resmi dari PT Kilang Pertamina Indonesia (KPI).

“Belum dapat dipastikan kapan hasilnya keluar,” jelasnya.

Berdasarkan data yang diperoleh Akurasi.id, hingga 31 Oktober 2025, dua korban atas nama Hadi Martani dan Wendi Atnan Biu telah terdaftar dalam BPJS Ketenagakerjaan. Namun, Tri Mulyono, korban asal Girimukti, belum tercatat. Ketiganya baru dimasukkan dalam draft daftar pekerja proyek Jasa Instalasi Electrical MS-2 EPC Lawe-Lawe RDMP RU V Balikpapan dengan nomor penetapan 2500001539533. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana