Di Mana Laut Mengubur Namanya

Terminal tua itu menjadi tempatnya menggenggam kenangan—menanti kapal bagang, seolah laut masih bisa mengembalikan apa yang telah direnggut badai
Fajri
By
11.2k Views

Terminal tua itu berdiri seperti tulang rusuk dunia yang dibiarkan menua tanpa penjaga. Catnya terkelupas, memanjang seperti luka lama yang tak pernah sembuh. Seng atapnya memantulkan panas siang dengan suara mendesis—seperti logam yang baru saja ditempa oleh matahari. Setiap kali angin pesisir lewat, debu halus beterbangan, lalu jatuh kembali seperti serpih kenangan yang tak jadi pergi.

Laut di kejauhan bergemerisik. Bukan suara lembut seperti biasanya, melainkan seperti bisikan seseorang yang sedang menahan tangis. Terminal itu sepi, kecuali suara sandal yang menyeret pelan, menghampiri bangku kayu yang hampir patah.

Itu Raka.

Pria 38 tahun, rambut ikal sebahu, kulit terbakar matahari, dan jemari yang tak betah diam tanpa sebatang rokok. Ia duduk pelan, seperti tak ingin membuat bangku itu menyerah terlalu cepat. Dari mana pun orang melihat, ia lebih mirip bayangan daripada manusia—tenang, tapi menyimpan badai kecil di matanya.

Ia menyalakan rokoknya, mengisapnya perlahan. Asapnya naik seperti garis nasib yang tak pernah selesai ditafsirkan.

“Waktu itu lucu…” gumamnya. “Semua berjalan maju, tapi rasa sakit tetap di tempatnya.”

Angin membawa serpihan plastik dan kertas bekas tiket kapal. Benda-benda itu menari sebentar, lalu jatuh di dekat kaki Raka. Ia memperhatikannya lama, seperti membaca pesan yang tak tertulis.

Dari kios kecil di dekat terminal, suara Mak Ning terdengar memecah panas siang.

“Ka! Kau datang lagi ee. Kau ini tiap hari baku bakar diri di terik begini, apa tidak pusing kah?”

Raka tersenyum tipis. “Pusing sudah biasa, Mak. Panasnya siang cuma kalah jauh dari panas ingatan.”

Mak Ning mendengus kecil. “Aduh… omonganmu kalau tidak buat orang sedih, ya buat orang menunduk.”

Ia menyerahkan gelas plastik berisi kopi hitam pekat.

“Ini. Minum.”

Raka mengambilnya. Uapnya naik, bercampur aroma pahit yang mengingatkannya pada banyak hal: malam panjang, dingin laut, dan doa-doa yang tidak terkirim.

Tak jauh dari sana, seorang sopir angkot tua menyapa sambil mengencangkan tali atap mobilnya.

“Ka! Nunggu kapal bagang lagi, toh?”

“Iye, daeng,,” jawab Raka.

“Susah kau ini. Orang lain nunggu rezeki, kau nunggu kenangan yang bikin hati karam.” Raka hanya tertawa pelan, suara yang terdengar lebih seperti desahan.

Badai Yang Menelan Segalanya

Satu hembusan angin membawa aroma asin yang lebih tajam dari biasanya—dan seperti selalu, itu cukup untuk membuka pintu ingatan yang selama ini ia coba tutup.

Malam itu, bertahun-tahun lalu.

Badai datang tanpa salam. Awan hitam menggunung seperti dinding raksasa yang hendak merobohkan dunia. Raka ingat betul bagaimana suara petir memecah langit, sesekali membuat wajah istrinya—Mila—terlihat dalam cahaya singkat. Mata perempuan itu selalu menentramkan, tetapi malam itu, ketenangannya seperti kertas rapuh yang ditempelkan di jendela badai.

Ardi, anak mereka, terlelap di pangkuannya, digoyang-goyang oleh gelombang yang kian meninggi.

“Kita harus percaya air akan tenang,” kata Mila, meski suaranya lebih mirip doa ketakutan.

“Kapalnya kuat?” tanya Raka pada nakhoda.

Nakhoda hanya menatap lantai kapal yang sudah mulai retak. “Semoga.”

Namun harapan tak pernah cukup untuk menahan murka laut.

Gelombang pertama menghantam dari samping, membuat kapal miring. Gelombang kedua datang seperti binatang besar yang melompat. Kayu kapal berderak, retakan memanjang seperti gurat petir di permukaan laut. Hujan turun seperti kerikil yang dilempar dari langit.

“Raka!” Mila berteriak, menggenggam tangannya. “Pegang Ardi kuat-kuat!”

Namun kapal itu sudah menua. Sudah lelah. Sudah lama tidak dipelihara. Seperti manusia yang mencoba terus berjalan dalam kesedihan, ia akhirnya menyerah.

Air masuk cepat sekali, seperti seseorang yang tak sabar menghapus jejak kehidupan. Lampu kapal mati. Teriakan orang-orang bercampur dengan gemuruh badai. Ada yang menyebut nama Tuhan, ada yang menyebut nama anaknya.

Bahu Raka terseret sesuatu—mungkin pecahan papan, mungkin tangan orang lain yang putus harapan.

Ia berusaha mencari Mila. “Milaaa! Pegang aku!”

Tapi gelombang ketiga datang seperti dinding gelap. Setelah itu, semuanya menjadi kaca buram: suara air, tubuh-tubuh hanyut, dingin yang menggigit sampai tulang.

Yang ia ingat terakhir sebelum pingsan hanyalah sandal kecil warna hijau mengambang di sampingnya.

Sandal Ardi.

Laut tak pernah mengembalikan tubuh Mila dan anak mereka, hanya serpihan kayu dan pakaian yang tenggelam bersama kenangan yang tak sempat selesai.

Raka menarik napas panjang. Kopinya sudah mulai dingin, tapi ia masih menggenggamnya seperti jangkar kecil agar pikirannya tak terus hanyut.

Dari arah pelabuhan, burung camar berputar-putar, suaranya seperti panggilan yang terlambat.

Sebuah kapal bagang tua baru saja merapat. Kayunya kusam, catnya mengelupas, namun tetap berdiri—seperti Raka.

Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju tepian dermaga, meninggalkan terminal yang semakin memudar warnanya.

Ketukan gelombang di badan kapal kedengaran seperti seseorang yang mengetuk pintu rumah yang tak pernah dibukakan lagi.

Sehelai koran lusuh tersangkut di kaki Raka. Ia mengambilnya.

“Mila selalu marah kalau aku injak kertas,” gumamnya. “‘Kertas itu tempat tulisan. Tulisan tempat doa.’ Katanya begitu.”

Tiba-tiba, seorang anak muda penjaga kapal berseru.

“Paman! Mau ikut naik? Kalo mau liat ikan segar, masih banyak ini!”

Raka menggeleng. “Tidak, Nak. Biar aku dengar suara air saja.”

Ia berdiri lama di situ. Angin membawa kantong plastik yang tersangkut di pemecah ombak, bergerak-gerak seperti tangan kecil melambai.

Raka menelan sesuatu yang terasa sangat keras di tenggorokannya.

“Waktu…” katanya, “adalah laut juga. Kadang ia tenang, kadang ia menelan. Yang berbeda hanya satu—laut mengembalikan serpihan. Waktu tidak.”

Air mata hampir jatuh, tapi ia menahannya. Beberapa hal harus disimpan di dalam dada, bukan di pipi.

Mak Ning memanggil dari jauh. “Ka! Kau jangan lama-lama di situ! Panasnya sudah bikin orang waras jadi linglung!”

Raka menoleh, mengangkat tangan sebentar, tapi langkahnya tak bergerak.

Ia tetap berdiri di tepi laut, seperti seseorang yang masih menunggu sesuatu yang logikanya tahu tak akan datang.

Kapal bagang menyalakan mesin, getarannya merambat ke permukaan air. Burung camar terbang rendah, dan serpih koran yang tadi ia pegang jatuh tersapu angin, berputar sekali lalu hilang.

Raka membisik pelan,

“Kadang… harapan bukan untuk sampai. Tapi untuk membuat kita terus pulang ke tempat yang sama.”

Suara air, plastik yang menari sebentar, bau asin yang menua bersama terminal—semuanya menyatu menjadi pesan samar yang hanya bisa didengar oleh orang yang pernah kehilangan terlalu banyak.

Dan ketika kapal mulai menjauh, Raka menutup matanya.

Laut bergemerisik.

Seolah sedang mengatakan sesuatu.

Sesuatu yang masih belum selesai.

 

Fajri Sunaryo, Jurnalis Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }