Kaltim.akurasi.id, Bontang – Desember menjadi bulan istimewa bagi umat Kristen dan juga seluruh lapisan masyarakat. Perayaan Natal bersama dengan pergantian tahun membuat masyarakat bersatu dalam menyambut Desember. Natal normalnya identik dengan perayaan menghias pohon natal atau memasak kue kering. Tetapi sebenarnya, di beberapa daerah Indonesia, banyak tradisi natal dan tahun baru yang rutin dilakukan. Berikut Akurasi.id telah merangkum 5 tradisi unik perayaan natal di Indonesia.
Lovely December, Sulawesi Utara (Toraja)

Festival Budaya Lovely December Toraja merupakan perayaan natal tahunan yang rutin diadakan sejak Natal 2008. Kegiatan ini menjadi agenda utama promosi budaya pemerintah daerah. Berbagai kegiatan yang di antaranya adalah lomba toraja’s color run, festival kopi, lomba rakit tradisional lomba tangkap ikan, lomba permainan rakyat, pameran kuliner, kerajinan daerah, hingga yang paling terkenal pameran Kopi Toraja.
Festival ini akan ditutup meriah dengan ritual Lettoan yakni dengan mengarak babi dengan simbol budaya yang mewakili tiga dimensi kehidupan manusia. Di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, masyarakat setempat menyambut akhir setiap tahun dengan mengadakan festival pariwisata dan budaya Lovely December yang berlangsung selama sebulan.
Baca Juga
Festival ini merupakan salah satu acara paling populer dalam kalender pariwisata nasional Indonesia, dan berakhir tepat sebelum tahun baru. Festival ini umumnya ditutup dengan perayaan Lettoan parade rumah-rumah Toraja mini yang terbuat dari bambu dan kayu dengan seekor babi di dalamnya, dimana melambangkan persaudaraan dan rasa syukur.
Meriam Bambu, Nusa Tenggara Timur (Flores)

Baca Juga
Di Flores, ada ritual yang cukup unik jelang peringatan 25 Desember yakni merakit meriam bambu dan membangun kandang Natal. Meriam Bambu sebenarnya berbentuk kembang api tradisional. Minyak tanah dan abu gosok dimasukkan ke dalam batang bambu berlubang melalui lubang kecil di bagian belakangnya, yang akan dinyalakan dengan api untuk mengeluarkan suara ledakan.
Tradisi Meriam Bambu dilakukan hampir seluruh warga di Pulau Flores, terutama di desa yang memiliki banyak anak. Biasanya dirayakan pada masa kedatangan hingga hari raya Natal dan malam tahun baru. Setiap Masyarakat Flores di Nusa Tenggara Timur dahulu menggunakan meriam bambu untuk menandai kepergian seseorang. Meskipun saat ini tidak lagi digunakan untuk tujuan tersebut, tradisi ini tetap dipertahankan untuk melestarikan warisan lokal, dengan merayakan Natal dan Tahun Baru sebagai gantinya.
Badendang Rotan, Maluku

Ritual Badendang Rotan atau lebih dikenal sebagai Hela Rotan yang dijalankan oleh masyarakat Kabupaten Aboru di Maluku Tengah menjadi tradisi yang tidak hanya untuk merayakan tahun baru tetapi juga untuk menyatukan empat petuanan, atau laut yang dikelola secara kolektif oleh suatu komunitas. Empat laut tersebut adalah Latu Sinai dari Kabupaten Aboru, Latuconsina dari Kabupaten Pelauw, Marawakan dari Kabupaten Oma, dan Surinai dari Kabupaten Rohomoni.
Rotan Badendang biasanya diadakan setiap tahun dari akhir Desember hingga hari pertama tahun baru, dan menyoroti solidaritas masyarakat Maluku. Musik tradisional Maluku merupakan unsur penting dari tradisi ini. Masyarakat bernyanyi, memainkan Tifa atau gendang piala Maluku, dan menampilkan tarian Maluku mengikuti irama musik, dengan tetua desa mengumumkan dimulainya upacara.
Menariknya, di ujung kepulauan yang lain dari daerah asal mereka di Sumatra, komunitas Batak di Aboru juga mengadakan rotan badendang pada hari libur lainnya selain Malam Tahun Baru.
Kunci Taon, Manado

Suka cita Natal telah dirayakan umat kristiani Manado bahkan sejak awal Desember. Masyarakat Manado mengadakan pawai desa Kunci Taon mulai 1 Desember, dan akan berpuncak pada 25 Desember untuk merayakan hari H perayaan natal. Kunci Taon menandai akhir tahun dengan kombinasi antara kesungguhan dan kemeriahan. Perayaan Kunci Taon dimulai dengan kebaktian gereja dan ziarah untuk menghiasi makam kerabat dengan lampu.
Perwakilan dari setiap desa biasanya bergabung dalam Kunci Taon, yang menampilkan peserta mengenakan kostum unik dan menghibur. Meskipun Kunci Taon merupakan perayaan Natal, perayaan ini dapat berlangsung hingga minggu pertama tahun baru. Setelah Natal, orang-orang juga mengunjungi pemakaman untuk membersihkan makam keluarga dan menghiasinya dengan karangan bunga segar.
Marbinda, Sumatra Utara (Batak)

Marbinda merupakan tradisi yang terutama dipraktikkan oleh masyarakat Batak di Sumatera Utara. Ritualnya terkesan mirip dengan Iduladha, yakni Hari Raya Kurban dalam Islam, yang mana melibatkan ritual penyembelihan hewan yang kemudian dagingnya dibagi rata dengan orang lain.
Upacara ini melambangkan rasa syukur dan memperkuat ikatan kekerabatan, mencerminkan rasa kebersamaan yang mendalam dalam komunitas tersebut. Untuk mengumpulkan dana yang cukup untuk membeli hewan kurban, anggota komunitas Batak mengumpulkan uang mereka bersama-sama sebelum Natal atau malam tahun baru. Dana kolektif tersebut menentukan jenis hewan yang dapat mereka beli, dan kerbau atau babi sering dikurbankan selama perayaan tersebut. (*)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Redaksi Akurasi.id