Kaltim.akurasi.id, Bontang – Baru-baru ini jagat maya tengah dikejutkan dengan karya selebriti muda, Aurelie Moeremans yang membawa kisah kelam hidupnya dalam buku The Broken Strings. Melalui buku itu, dia menceritakan kisah perjalanan awal karir menjadi seorang artis yang terbang jauh dari Belgia kembali ke negara asal ibunya, Indonesia dan memulai karirnya menjadi seorang model.
Berbagai tantangan ia ceritakan, mulai dari keterbatasan biaya, penyesuaian bahasa, hingga child grooming yang dilakukan mantan kekasihnya. Misi mulia di balik perilisan bukunya adalah agar tidak ada orang lain yang merasa sendiri dalam menghadapi trauma yang mungkin sama dengan yang dialaminya.
Berikut 5 poin penting yang dirangkum Akurasi.id dalam buku tersebut yakni:
- Manipulasi Emosional
Aurellie jelas membahas terkait pembawaan emosional yang dilakukan oleh mantan kekasihnya, yang dalam buku itu ditulis sebagai Bobby. Sejak awal perkenalan, Bobby hadir layaknya sebagai pahlawan yang rela meluangkan waktunya untuk gadis muda yang polos.
Dia juga tak ragu untuk hadir di tengah hangatnya keluarga Aurellie dan muncul sebagai sosok religius yang takut akan Tuhan. Ia menawarkan bantuan (transport, perhatian, hadir di keluarga Aurelie), tampil religius, dan membangun kepercayaan.
Baca Juga
Aurelie pun merasa dihargai dan dilindungi, tapi sebenarnya ini membuatnya merasa berutang budi. Manipulasi ini membuat korban sulit membedakan kasih sayang asli atau justru hanyalah kontrol.
- Kekerasan Fisik
Setelah Aurelie berhasil terikat emosional dan merasa aman pada Bobby, kekerasan fisik muncul. Perasaan aman berubah menjadi ancaman saat Bobby mulai melakukan pemukulan, ancaman, dan kontrol fisik. Bagian ini adalah hal terberat yang Aurelie gambarkan dengan detail emosional, termasuk rasa takut, rasa bersalah, dan isolasi dari orang terdekat.
- Pola Kontrol dan Isolasi
Bobby secara bertahap mengisolasi Aurelie dari keluarga dan teman. Ia mengontrol komunikasi, jadwal, bahkan keputusan kecil. Kasus serupa akan sering kamu temui dalam abusive relationship di mana pasangan membuat korban bergantung sepenuhnya, sehingga sulit keluar. Aurelie merasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri, ditambah ancaman jika ia melawan, misalnya ancaman terhadap keluarga.
Baca Juga
- Kekerasan Seksual
Dari seluruh bagian, kekerasan seksual menjadi puncak eksploitasi dari grooming. Hubungan dimulai saat Aurelie masih di bawah umur, dan berlanjut dengan paksaan atau manipulasi emosional. Aurelie menjelaskan bagaimana grooming membuat korban membiasakan perilaku yang sebenarnya melanggar batas, sehingga korban sering merasa bingung atau menyalahkan diri sendiri.
- Proses Grooming
Aurelie menjelaskan grooming sebagai proses bertahap mulai dari membangun kepercayaan di mana Bobby rutin memberikan perhatian berlebih dan hadiah-hadiah kecil. Ketika ia mulai percaya, Bobby mulai mengisolasinya dan menarik Aurellie dari lingkungan sekitarnya.
Tanpa sadar, Aurellie yang polos mulai dibawa dalam sentuhan atau perilaku seksual secara perlahan. Ketika Ia menolak, Bobby mulai melakukan ancaman dan kekerasan. Akibatnya Aurellie menormalisasi kekerasan karena rasa bersalah dan takut kehilangan tumbuh.
Akhirnya kejadian muncul berulang yang dampaknya jangka panjang yakni trauma, depresi, kesulitan percaya orang, rasa bersalah, hingga pengaruh pada relasi dewasa.
Buku ini bukan hanya cerita kelam, tapi juga tentang harapan, penyembuhan, dan ajakan untuk peka terhadap tanda-tanda grooming di sekitar (terutama pada remaja). Banyak pembaca bilang buku ini triggering tapi healing, karena membuat mereka merasa didengar. (*)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi