ASDP Ungkap Kronologi Perempuan yang Lompat dari Kapal Ferry Penyeberangan Penajam-Balikpapan

ASDP mengungkapkan bahwa perempuan yang lompat dari kapal ferry penyeberangan Penajam-Balikpapan lompat sendiri dari pintu darurat.
Devi Nila Sari
1.6k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser UtaraKepala ASDP Penajam, Heru Susanto, memastikan insiden penumpang perempuan yang melompat ke laut dari kapal ferry di Pelabuhan Penajam berhasil ditangani cepat sesuai standar operasional prosedur (SOP), dalam keadaan selamat.

Heru menjelaskan, peristiwa terjadi saat proses bongkar muat kendaraan dan penumpang. Korban merupakan penumpang terakhir yang turun dari kapal.

“Menurut keterangan ABK, yang bersangkutan melompat sendiri dari pintu darurat di area tangga tengah. Tidak ada dorongan dari siapa pun,” kata Heru, Senin (18/1/2026).

Aksi tersebut pertama kali diketahui oleh ABK dan petugas tambat. Kru kapal langsung melakukan pertolongan pertama sesuai SOP penanganan orang jatuh ke laut. Proses penyelamatan berlangsung sekitar 15 menit.

“Pukul 13.50 WITA korban berhasil dievakuasi, lalu pukul 13.55 dibawa ke dermaga dan pukul 14.42 diantar ke Klinik Pelabuhan ASDP Penajam,” jelasnya.

Di klinik, korban dalam kondisi lemas namun sadar. Setelah mendapatkan penanganan awal, korban mulai pulih dan dapat diajak berkomunikasi, meski belum mau menjelaskan alasan tindakannya. Korban diketahui berjalan kaki dari rumahnya sekitar Gunung Steleng Kota Balikpapan dan meninggalkan identitasnya.

Petugas kemudian berkoordinasi dengan kepolisian dan instansi terkait. Korban yang diketahui berisinial SW, warga Balikpapan, selanjutnya dibawa ke polsek untuk pendalaman lebih lanjut sebelum akhirnya dijemput pihak keluarga pada malam hari.

Heru menegaskan, selama proses evakuasi, aktivitas bongkar muat kapal tetap berjalan dengan pembagian tugas oleh nahkoda, agar keselamatan dan pelayanan penyeberangan tidak terganggu.

Terkait pencegahan, ASDP telah memasang rambu peringatan, pengumuman keselamatan, CCTV, serta menerapkan zonasi penumpang. Namun, Heru mengakui, belum ada sistem khusus berupa hotline pencegahan krisis psikologis di lingkungan pelabuhan.

“Fokus kami adalah keselamatan penyeberangan. Untuk aspek psikologis, itu ranah instansi lain

seperti dinas sosial. Kami tentu berharap kejadian seperti ini tidak terulang,” ujarnya.

Ia menambahkan, sepanjang 2025 tidak terdapat kasus serupa di Pelabuhan Penajam.

“Kasus seperti ini sangat jarang. Terus terang, kami berharap jangan pernah terjadi lagi,” tutupnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }