Mira menangis tersedu-sedu pagi itu. Pipinya menjadi hamparan tanah lapang bagi air mata. Pikirannya tak menentu. Segalanya berkecamuk. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Namun rasa ingin menghalangi. Gundah, pagi itu segalanya terasa gulita. Sebagaimana hujan membasuh pagi, dipenuhi embun, membawa dingin yang merayap ke tulang sumsum. Seolah tidak ada apa-apanya dengan kesenduan perasaan gadis berjilbab itu.
Ia mencoba mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi. Namun semuanya hanya membuyarkan genangan air matanya yang tidak berhenti mengalir. Ia ingin memberontak pada dirinya sendiri. Mencabik-cabik setiap waktu yang telah berlalu. Di balik tangis yang tak mengenal henti, pikirannya mencoba menalarkan ulang segala yang terjadi. Dan lagi, ia hanya mendapatkan kesedihan yang kian sulit dibendung. Yang kian menguburnya hidup-hidup.
Angin pagi yang berhembus, seakan sedang berdendang dan mengurai nada-nada lirih pada kekalutan Mira. Ia menari-nari di telinganya. Membisikan kata demi kata yang tak mampu tertulis dalam kalimat, yang hanya terjawab lewat linangan air mata. Sesekali ia mencoba menyapu kesedihan yang membalur pipihnya. Namun hal itu tidak mengurai apapun atas dukanya, atas semua penyesalannya, di balik nasib yang mendera.
Gadis asal Dusun Marga Indah itu, hampir tidak pernah memikirkan kalau ia akan duduk terpaku dan terpenjara di titik serendah ini. Mimpi-mimpi besar yang dulu ia rakit di kepala dan ingin ia raih seolah hancur berkeping-keping. Menjadi abu yang hilang tertiup angin. Sirna tanpa berani ia merajutnya kembali. Tangis itu pun kembali pecah dalam keheningan. Hanya cicak yang bertengger di ujung plafon yang menatap kesedihannya.
***
Baca Juga
“Mira, bangun, sudah mau pagi. Jangan lupa salat,” teriak ibunya yang telah terjaga sejak pukul empat subuh. “Habis itu, langsung mandi, berangkat sekolah sana,” sambungnya membuyarkan tidur Mira.
Dengan sedikit keengganan, Mira memaksa tubuhnya bangun dari tilam. Rambut berantakan, mata yang masih sipit, mengharapkan sedikit waktu untuk kembali merebahkan badan. Namun selintas Mira mengingat kalau hari ini ia bertugas membersihkan kelas bersama teman-temannya.
Tanpa pikir panjang, dia bergegas ke kamar mandi. Menarik gayun secepat mungkin lalu membasuh tubuhnya dengan air. Bergelinjang, tubuh Mira bergidik hebat tatkala bertarung dengan dinginnya air yang telah tertampung di tempayan semalaman.
Baca Juga
“Mira, cepat, sudah ditunggu Amar,” kembali ibunya berteriak dari arah dapur rumah.
“Iya, Bu. Suruh Amar tunggu sebentar,” sahut Mira dari balik pintu kamarnya.
Kokoh dan kekar, Mira duduk menyamping di belakang Amar yang mendayuh sepeda tua miliknya. Sepeda tua itu menyapu keheningan pagi Dusun Marga Indah. Dua remaja belasan tahun yang telah duduk di bangku Kelas 3 SMA itu, sesekali melempar senyuman kepada orang-orang yang mereka lewati sepanjang jalan.
Tak banyak obrolan atau percakapan sepanjang kedua remaja itu mengarungi jalan desa menuju sekolah. Sebagaimana hari-hari yang sudah-sudah, Amar -remaja berambut ikal dengan tubuh tinggi dan kekar- memang bukan pria yang banyak berbicara. Ia hanya akan bicara jika ditanya. Menjawab, pun tidak panjang. Kebalikannya dengan Mira yang sepanjang waktu mulutnya akan terus ngerocos tanpa mengenal lelah. Namun bersama Amar, Mira seolah ikut membisu. Tetapi Mira tahu, Amar anak yang sangat baik dan religius. Ia telah mengenal Amar sebagaimana ia mengenal dirinya yang telah tumbuh. Keduanya adalah teman sejak mereka masih dalam kandungan ibu masing-masing.
“Makasih, Amar,” ucap Mira yang bergegas lari menuju kelasnya.
Amar hanya melempar anggukan sembari melihat Mira berlari menjauh darinya. Keduanya sekolah di tempat yang sama, namun berbeda kelas. Mira adalah anak IPA. Sementara Amar memilih jurusan IPS. Di sekolah itu, Amar mengenal Mira sebagai perempuan yang cerdas dan pandai bergaul.
***
Hujan membasuh pepohonan. Dedaunan yang telah lama layu, kering, dan lusuh, kembali bersolek. Hidup segan mati pun tak mau. Begitulah gambaran hamparan rerumputan yang telah menantikan tangisan langit. Hujan hari itu seolah membawa keberkahan bagi setiap makhluk hidup di Dusun Marga Indah. Sebab sudah berbulan-bulan lamanya kemarau menyelimuti.
Pandangan Mira seolah melayang tanpa tujuan. Ia duduk termenung di teras depan kelasnya, menikmati tempias hujan. Entah apa yang ia pikirkan di balik senyum tipis yang menyungging di pipi lesungnya. Ia tenggelam bersama irama hujan yang menari di atas bangunan kelasnya.
Lamunan itu pun kembali terjaga tatkala seorang perempuan tiba-tiba menepuk bahu Mira. Dengan sedikit kaget, Mira membalikkan wajahnya.
“Mira, kamu dipanggil Pak Gembul. Kamu disuruh ke UKS,” kata Jian.
“Dipanggil kenapa?” tanya Mira.
“Aku enggak tahu. Tadi Pak Gembul meminta kamu ke UKS,” ucap Jian lalu berlalu meninggalkan Mira.
Tanpa pikir panjang, Mira lantas bangun dari tempat duduknya dan bergegas ke UKS yang terletak di sisi barat sekolah. Di bawah gemuruh langit dan hujan yang kian membasuh bumi, Mira terus berjalan. Tempias hujan yang membasahi pakaian tidak diperdulikannya. Ia terus meluncur melewati beberapa kelas, termasuk Amar yang melempar senyum di depan kelasnya.
Di sudut sekolah di bawah papan nama yang tergantung, seorang pria berbadan gempal berusia lima puluh tahunan tengah berdiri tegap. Matanya tajam memandang. Sembari menarik bahu bajunya, ia melambaikan tangan. Melihat itu, Mira kian tergesa-gesa melangkah, dari langkah kecil berubah jadi lari-lari kecil.
“Iya Pak,” ucap Mira yang telah berhadap-hadapan dengan Pak Gembul.
“Ada apa ya, Pak? Bapak memanggil saya?” timpal Mira.
“Iya. Bapak mau minta tolong ke Mira buat membantu membereskan laporan belanja obat-obatan. Sekalian bapak mau minta tolong agar Mira merapikan semua obat-obatan yang baru dibeli,” ucapnya, lalu menarik Mira masuk UKS.
Tanpa banyak berpikir, Mira hanya bisa mengikuti arah tarikan tangan Pak Gembul. Pikirannya hanya membisu. Mulutnya tak bisa berkata apa-apa. Badannya seolah bergerak sendiri dalam tarikan Pak Gembul.
“Itu, ada beberapa obat-obatan di atas meja. Tolong bantu rapikan. Di situ, bapak sudah kasih catatan untuk setiap obatnya. Kamu tinggal memasukkannya dalam plastik. Setelah itu, kamu buatkan catatannya, biar bapak masukan dalam laporan belanja,” demikian Pak Gembul memberikan tugas kepada Mira.
Bagi Mira, Pak Gembul adalah sosok guru yang dia hormatin dan takuti. Ia hormat karena Mira mengenal Pak Gembul sebagai guru Matematika yang sangat pandai dalam mengajar. Namun dia juga takut padanya, karena semua siswa tahu betul, kalau Pak Gembul marah, tangan besarnya tidak sungkan menampar siswa yang melakukan kesalahan atau berbuat nakal.
Hujan deras yang membasuh siang itu, perlahan menurunkan intensitasnya. Hembusan angin membawa dingin, menyelinap masuk dari pintu UKS yang terbuka. Jarum jam yang terpajang di tembok menunjukkan pukul dua siang. Mata Mira menyorot ke arah itu. Seekor cicak merayap di tengah-tengah jam dinding. Bulu kuduk Mira mendadak bergidik melihat cicak yang membalas tatapannya.
“Pak, semua obat-obatan sudah saya bereskan. Catatannya juga sudah saya buat. Kalau tidak ada lagi yang saya kerjakan, saya izin pamit, Pak. Sudah waktunya pulang sekolah juga pak,” ucap Mira.
“Hujan masih rintik-rintik. Kenapa terburu-buru? Biarkan hujannya reda dulu dengan baik, baru pulang.”
“Iya, enggak apa-apa, Pak. Kebetulan saya sudah janjian sama Amar untuk pulang bersama.”
Mira bangun dari tempatnya duduknya. Kemudian melangkah keluar UKS. Namun tangan Pak Gembul mendadak menarik tangan Mira. Ia pun kaget, lalu berbalik ke arahnya.
“Tunggu sebentar, ini ada uang 50 ribu untukmu.”
“Uang untuk apa ini, Pak?” tanya Mira ragu.
“Terima saja, itu uang buatmu, kamu sudah membantu bapak.”
“Tidak usah, Pak. Saya senang bisa membantu. Kan saya juga biasa ke sini dan bantu-bantu.”
Anggap uang terima kasih dari Bapak. Ambil saja.”
Tak ingin mengobrol terlalu lama, Mira pun mengiyakan dan mengambil uang itu. Ia melangkah dengan tergesa-gesa. Ia harus kembali ke kelasnya untuk mengambil tas. Mira tahu Amar telah menunggunya di pos jaga pintu gerbang. Tempat yang sama selama 3 tahun terakhir, Mira dan Amar, biasa bergoncengan tatkala ke sekolah maupun pulang.
Mira paham betul sifat Amar, dia tidak pernah telat untuk pulang. Amar adalah anak yang tidak banyak berbicara. Anak rumahan yang tidak begitu senang bergaul, seingat Mira, Amar juga tidak punya banyak teman. Kalau bukan karena tetangga, Mira bahkan tidak akan cukup mengenalnya.
Di bawah rintik hujan yang masih membasahi Dusun Marga Indah. Amar mendayu sepeda. Tas punggung yang telah dibungkus plastik, menjadi payung dadakan Mira untuk sedikit berlindung dari rintik hujan yang masih enggan berhenti seutuhnya.
***
Pagi belum sepenuhnya menunjukan teriknya, ketika Mira terjaga. Ia terhuyung-huyung melangkah. Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul, saat ia menyadari jarum jam di dinding kamar keluarga, telah berada di pukul 5.40 pagi. Searah dengan sisa-sisa gulita malam yang perlahan berganti binar mentari.
Mata Mira seolah terbuka sepenuhnya, pikirannya pun sekejap tersadar. Ia lantas bergegas menuju kamar mandi yang terletak di belakang dapur rumah. Dengan rasa enggan yang masih menyelimuti, Mira memaksa tangannya membasuh air ke sekujur tubuh. Dingin air yang telah terselimuti hawa malam, membuat seluruh tubuh Mira bergidik. Sebuah keadaan yang selalu terulang dan tidak ingin ia lakukan.
Namun semua ia lakukan dengan sebuah keterpaksaan, demi membersihkan badan. Dalam hitungan ketiga, secepat mungkin Mira mengguyur badan dengan air. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Selain karena dingin yang menusuk tulang. Ia harus lekas bersiap-siap.
Sabtu, pagi itu, Mira akan mengikuti lomba cerdas cermat mewakili sekolahnya. Pukul 6.30 pagi, ia sudah harus berangkat ke kota kecamatan. Mira menyadari benar, keterlambatannya bagun pagi ini, lantaran ia tidur larut malam. Lebih tepatnya ia baru tidur jam 3 pagi. Ia belajar hampir semalam suntuk mempersiapkan diri untuk lomba cerdas cermat yang dipercayakan sekolahnya.
“Mira, cepat, nanti kita ketinggalan bus,” ucap Samir yang memanggil Mira dari seberang jalan.
“Ayuk, cepat,” timpal Iskandar yang juga menjadi salah satu anggota kelompok dalam lomba itu.
“Iya, iya. Bentar, aku ikat tali sepatu dulu,” ujar Mira.
Bus tua itu menderu dengan segala kebisingannya menuju kota kecamatan. Setiap kali menjumpai jalan berlubang, suara auman bus kian memekik, diikuti asap tebal membumbung dari knalpot yang juga sudah termakan usia. 25 tahun, bus itu telah menjadi transportasi yang begitu setia bagi warga Dusun Marga Indah dan sekitarnya untuk bepergian ke kota kecamatan. Mira bersama kawan-kawannya, adalah generasi yang juga ikut merasakan perjuangan bus tua itu.
Setelah menempuh waktu selama hampir satu setengah jam lamanya. Mira, Samir, dan Iskandar yang tiba di kota kecamatan disambut Pak Gembul yang telah lebih awal berada di tempat itu. Hampir semua perwakilan sekolah dari berbagai kecamatan di Kabupaten Ulung Sindang, telah berkumpul di balai pertemuan umum kantor kecamatan.
Menit berganti jam, Mira dan teman-temannya beradu pengetahuan dengan peserta lainnya. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sekolah Mira selalu mampu tampil baik. Mereka bahkan mampu melangkah hingga final. Hingga tanpa terasa, waktu terus bergulir menuju petang.
Perjuangan Mira bersama teman-temannya, hari itu, harus kembali puas di peringkat dua. Selisih poin yang terbilang tipis, membuat Mira harus kembali mengakui kemampuan para siswa SMA 1 Ulung Sindang. Sebagaimana di tahun sebelumnya, SMA 1 Ulung Sindang menjadi tantangan terberat sekolah Mira. Walau begitu, Mira tetap berbangga hati, karena mereka mampu mempertahankan posisi kedua.
“Tidak perlu berkecil hati, kesempatan berikutnya, kita akan berusaha sebaik mungkin,” kata Iskandar.
“Iya, pengalaman hari ini, akan kita jadikan pelajaran untuk kita ajarkan kepada adik-adik kelas kita,” ucap Samir.
“Iya deh, kita akan berjuang lagi sebaik yang kita bisa,” ujar Mira.
Sinar mentari sore laman-laman berganti gulita malam. Lampu-lampu sepanjang jalan poros kecamatan tampak indah dengan pancaran cahaya. Hewan-hewan kecil tampak berterbangan di sekitar binar cahaya.
Mira sore itu, pulang bersama Pak Gembul yang kebetulan membawa mobil Kijang tuanya. Sementara Iskandar dan Samir, memutuskan tidak langsung pulang hari itu. Keduanya telah membuat janji menghabiskan waktu malam mingguan di kota kecamatan. Keduanya akan menginap di rumah paman Iskandar yang berada tidak jauh dari kantor kecamatan.
***
Bintang tampak gemerlap malam itu. Langit cerah memberikan pertanda jika malam itu, bintang bebas bersolek. Memancarkan setiap binarnya kepada siapapun yang menyaksikannya. Sinar bulan menjadi pemberi kuasa, jika bintang adalah penerang lain yang berkuasa malam ini.
Hembusan angin menggoyangkan dedaunan, menepikan keriuhan dalam heningnya malam. Khidmat. Tenang. Syahdu. Seakan-akan ingin menjadi pemberi irama akan megahnya bintang yang membasuh angkasa. Irama gesekan dari dahan pepohonan pun bagai mendendangkan tarian dengan menggoyangkan dedaunan.
Cahaya lampu yang hilang timbul sepanjang jalan-jalan desa menegaskan keheningan malam. Bising kendaraan seharian tadi, pun seolah ikut membisu bersama redupnya malam di bawah rindang pepohonan. Mira, begitu larut dalam suasana malam, hingga tanpa dia sadari hanyut dalam beratnya mata yang perlahan tertutup. Sandaran yang menegak, juga perlahan bersandar penuh di kursi mobil. Kaki Pak Gembul, pun berirama memainkan gas mobil menyusuri jalan poros kecamatan.
Kaca mobil yang sedikit terbuka membawa hembusan angin. Memberikan ketenangan. Membuat Mira kian lelap. Dengkuran kecil, menjadi penanda Mira yang lelah dan telah sepenuhnya berada dalam buaian mimpi. Suara mesin mobil milik Pak Gembul terus menderu di tengah lenggangnya malam.
Sorot mata Pak Gembul sesekali melirik ke arah Mira. Matanya kian lekat dan sering melihat Mira saat mendapati kerudung gadis itu sedikit tersingkap, memperlihatkan bagian leher yang tampak begitu putih dan bersih. Sesekali, Pak Gembul mencoba menarik napas panjang.
Ia menyadari jika gadis yang berada di sampingnya adalah sosok perempuan yang begitu cantik. Matanya sedikit sipit. Bibir tipis. Hidung mancung, kulit putih. Alis mata yang lurus, menegaskan wajah Mira yang anggun dan manis. Anak gadis yang merupakan campuran darah blasteran. Orang-orang di kampungnya tahu persis, kalau orang tua laki-laki Mira berdarah Jepang. Namun sejak kecil, Mira tumbuh tanba kasih sayang ayahnya yang telah kembali ke Jepang.
Melihat keanggunan gadis itu, pikiran Pak Gembul mendadak kalut dan melayang tanpa bisa ia kendalikan. Tarikan nafasnya sedikit berat. Sejurus dengan kemampuannya menginjak gas mobil yang mulai tidak stabil.
Mira masih syahdu dalam tidurnya, tatkala tangan Pak Gembul menyentuh bajunya. Di bawah binar bintang, Pak Gembul menepikan laju kendaraan ke sisi kiri jalan, lalu masuk ke sebuah jalan setapak kecil yang terletak di antara hutan kecil jalan poros kecamatan. Dalam bilangan menit, mobil itu telah terparkir rapi di area hutan kecil itu. Lampu mobil diredupkan Pak Gembul sebelum ia mematikan mesinnya.
Suara hewan-hewan kecil menggantikan suara mobil yang telah sepenuhnya mati. Angin berhenti sejenak di bawah temaramnya malam. Cahaya bintang hanya mengintip dari balik rindangnya pepohonan. Cahaya bulan pun demikian.
Tangan Pak Gembul yang semula hanya memegang ujung-ujung daun jilbab, perlahan mengangkatnya, lalu menepikannya. Dengan ketenangan yang seolah telah terbiasa, jari-jari tangan itu menjalar ke bagian kancing baju. Melihat lekukan dadakan yang terbungkus rapi di balik baju, membuat tangan Pak Gembul mendadak gemetaran. Sejenak ia menarik napas kecil dan menenangkan diri, sebelum ia perlahan membuka satu persatu kancing bajunya.
Entah berapa detik atau menit tangan itu bergerak dalam senyap hingga seluruh kancing baju Mira telah terbuka seutuhnya. Badan gadis itu pun tersibak. Putih mulus. Mendapati itu, dada Pak Gembul kian berdetak kencang. Derik suara pepohonan menyambut hembusan angin yang perlahan berganti dengan rintik hujan, seketika langsung menyadarkan Mira dari tidurnya. Betapa kagetnya Mira mendapati bajunya yang telah tersibak dengan tangan Pak Gembul yang sudah memegang kedua dadanya. Wajah Pak Gembul pun sudah tepat berada di depan wajahnya.
“Pak, apa yang bapak lakukan? Kenapa bapak melakukan ini,” ucap Mira yang diikuti dengan air mata yang berlinang. Wajahnya pucat sepenuhnya. Badannya kaku. Mematung tanpa perlawanan. Kesadarannya tertampar kenyataan. Jika seorang lelaki yang ia hormati telah menindih badannya. Menguasai seutuhnya seluruh jiwanya.
“Pak, tolong jangan lakukan,” tangis Mira meminta iba.
Seakan membisu, Pak Gembul menatap tajam Mira sebelum mencium wajahnya. Mira mencoba memberikan perlawanan. Namun kedua tangannya yang telah sepenuhnya digenggam dan dicengkram erat, membuat ia sulit bergerak. Ingin ia berteriak sekencang mungkin. Namun suaranya seolah telah ditahan. Membisu. Tenggorokannya seolah-olah telah tertutup rapat tembok besar. Hanya air mata yang mengalir tanpa henti. Bagai mata air yang keluar dari dasar bumi. Tidak pernah berhenti. Mengalir dengan begitu deras. Membawa jiwa dan raga kenyataan yang tidak pernah terbayangkan.
“Pak Gembul, kasihani saya. Tolong jangan lakukan ini. Jangan rusak masa depan saya. Tolong kasihani saya,” suara lirih itu tidak mampu menyurutkan jiwa kebinatangan yang telah sepenuhnya menguasai pria 50 tahun itu.
Rintik-rintik perlahan berganti guyuran hujan. Langit yang semula cerah dengan gantungan bintang berbintang, mendadak bermuram durja. Bintang yang menawarkan keindahan seakan bersembunyi dan mematung diri dibalik guyuran hujan malam. Ia menjadi saksi bisu atas jiwa binatang seorang lelaki tua yang telah mencabik-cabik keperawatan dan kesucian Mira. Hujan yang membasahi hutan membisukan suara Mira yang tak lagi kuasa dalam cengkraman Pak Gembul. Kesadaran Mira sepenuhnya hilang malam itu, hingga ia menyadari, jika dirinya telah berada di atas kasur kamarnya. Masih lengkap dan utuh dengan pakaian sekolah, kecuali kesadarannya atas sesuatu yang lalu ia tangisi sendiri dengan suaranya yang membisu.
Pena Hijau. Seorang penulis kelahiran Bima yang selalu menemukan keindahan dalam setiap kata. Melalui tulisannya, ia mengajak pembaca untuk menyelami cerita-cerita penuh makna.