Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Sejumlah pedagang yang menempati kios di bagian ujung barat gedung baru Pasar Pagi Samarinda harus beradaptasi dengan kondisi bangunan yang dinilai belum ramah terhadap cuaca. Saat hujan, kios kerap terkena tempias, sementara pada siang hingga sore hari, terik matahari langsung menyasar area dagang.
Kondisi tersebut memaksa pedagang berinisiatif memasang paranet secara mandiri untuk meminimalkan dampak hujan dan panas yang hampir setiap hari mereka rasakan.
Salah satu pedagang pakaian, Kholif, mengatakan pihaknya telah melaporkan kondisi tersebut kepada instansi terkait. Namun hingga kini, belum ada penanganan konkret di lapangan.
“Kami sudah melaporkan kondisi di lapangan ke instansi terkait. Tinggal mereka yang punya kebijakan. Laporan soal kebocoran, tempias hujan, sampai panas matahari sudah disampaikan,” jelas Kholif.
Ia menyebutkan, paparan panas matahari pada siang hingga sore hari cukup berdampak terhadap barang dagangan. Pakaian yang terpapar langsung berisiko rusak dan warnanya cepat pudar.
Baca Juga
“Kalau siang, panasnya itu bisa merusak pakaian, jadi pudar,” katanya.
Karena belum ada solusi dari pihak berwenang, para pedagang akhirnya mengambil langkah sendiri dengan memasang paranet tanpa izin resmi. Langkah tersebut terpaksa diambil demi menjaga kelangsungan usaha.
“Ini inisiatif sendiri, tidak ada izin. Tapi kalau tidak, ekonomi kami terganggu. Kalau hujan atau panas, kami tidak bisa berdagang,” ungkapnya.
Menurut Kholif, pemasangan paranet dilakukan secara mandiri dengan biaya sendiri. Bahkan, di lantai atas gedung Pasar Pagi, terdapat pedagang yang melakukan iuran bersama untuk memasang pelindung serupa.
“Ini hanya untuk meminimalisir saja. Kalau hujan, tempiasnya cukup tinggi, tapi dengan paranet jadi lebih teredam. Panas matahari juga sama,” imbuhnya.
Tak hanya pedagang, kondisi panas juga dinilai memengaruhi kenyamanan pembeli, meski sejauh ini belum ada keluhan yang disampaikan secara langsung.
“Posisi kami ini kena matahari dari barat. Sekitar jam dua atau tiga sore baru terasa. Panasnya cenderung sore,” sebutnya.
Akibat kondisi tersebut, para pedagang terkadang terpaksa menutup kios lebih cepat demi menghindari risiko kerusakan barang dagangan.
“Bukan sampai kena barang, tapi kami lebih cepat tutup. Kalau tetap buka, risikonya bisa masuk ke dalam,” ujarnya.
Baca Juga
Kholif berharap keluhan para pedagang segera mendapat respons dari Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, terlebih menjelang bulan Ramadan.
“Harapan kami segera diatasi. Jangan diabaikan terlalu lama. Apalagi mau bulan puasa. Pasar Pagi ini kan seharusnya mensejahterakan pedagangnya,” pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id