Dinkes Kaltim Ingatkan Bahaya Overwork: Stres Kerja Bisa Picu PCOS

Dinkes Kaltim ingatkan bahaya bekerja berlebihan. Dapat menyebabkan stess bahkan PCOS.
Devi Nila Sari
1.1k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Waktu kerja yang panjang dan tekanan yang tinggi diwaspadai dapat menjadi penyebab Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Lantaran keduanya dapat memicu stress.

Sebagai informasi, PCOS adalah gangguan hormonal umum pada wanita usia subur yang ditandai dengan menstruasi tidak teratur, kadar hormon androgen (pria) berlebih, dan kista kecil di ovarium. Kondisi ini menyebabkan sel telur gagal dilepaskan, sering memicu infertilitas, resistensi insulin, serta obesitas.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin bagi pekerja wanita yang ada di Kaltim. Mengingat wilayah ini menjadi daerah dengan pekerja overwork tertinggi kedua di Indonesia.

Ia menyebut, kelelahan fisik dan mental serta tingkat stres yang tinggi dapat mengganggu keseimbangan hormon, seperti estrogen dan progesteron.

Alhasil, kondisi ini dapat menyebabkan siklus haid menjadi tidak teratur dan dalam jangka panjang berisiko memicu penyakit seperti PCOS.

“Hal ini dapat terjadi secara tidak langsung akibat beban kerja yang terlalu tinggi,” jelasnya saat diwawancarai awak media di Samarinda.

Waktu Bekerja Ideal 40 Jam Seminggu

Jaya menjelaskan bahwa idealnya, jam kerja disesuaikan dengan kemampuan kerja yang telah dihitung, yaitu sekitar 40 jam per minggu.

Perhitungan ini berlaku baik di dunia usaha maupun di instansi pemerintahan seperti ASN dan PPPK. Jika terdapat tambahan pekerjaan, kata Jaya, sebaiknya diselesaikan melalui lembur yang terkontrol dan tidak menambah beban kerja secara berlebihan.

Alternatif lainnya adalah dengan sistem outsourcing atau pembagian shift, seperti yang diterapkan di rumah sakit yang beroperasi 24 jam namun tetap menjaga batas beban kerja.

Kelelahan kerja juga dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Risiko kecelakaan meningkat, begitu pula gangguan fisik dan mental seperti gangguan pencernaan, gastritis, dan keluhan psikosomatis. Stres berkepanjangan dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga pekerja lebih mudah terkena infeksi seperti ISPA, flu, batuk, dan pilek.

Beban Kerja Berlebihan Pengaruhi Kesehatan, Keselamatan, dan Kinerja

Dikatakannya, beban kerja yang berlebihan tentunya harus dikurangi karena dapat menimbulkan dampak kesehatan seperti burnout, kelelahan mental, dan kejenuhan.

Adapun dampak ini sangat terasa terutama di sektor jasa. Kelelahan fisik dan mental dapat mengganggu kualitas pelayanan publik. Misalnya, pekerja menjadi kurang ramah karena kelelahan, tidak fokus, atau hak-hak seperti cuti haid tidak dimanfaatkan.

Padahal saat haid, kondisi hormonal perempuan sedang tidak stabil sehingga dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental. Akibatnya, pelayanan kepada masyarakat tidak optimal dan produktivitas menurun.

Selain itu, kelelahan kerja juga berdampak pada keselamatan. Dalam lingkungan kerja seperti pabrik dan industri, kelelahan dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja karena pekerja menjadi kurang fokus.

“Hal ini tentu bertentangan dengan upaya mewujudkan zero accident di tempat kerja,” jelasnya. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }