Kaltim.akurasi.id, Bontang – Kabar duka hadir dari salah satu siswa Sekolah Dasar (SD) yang ditemukan tewas gantung diri pada Selasa (3/2/2026) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar berinisial YBR (10) ditemukan tewas gantung diri dan menuliskan sebuah surat pilu yang berisi ungkapan kekecewaan terhadap ibunya yang diduga belum mampu membelikan buku tulis.
Kejadian ini menjadi sinyal pahit bahwa depresi dan keputusasaan tidak mengenal usia. Masalah yang mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa, seperti buku tulis, bisa menjadi beban mental yang luar biasa berat bagi seorang anak. Kasus ini sekaligus membuka mata kita tentang pentingnya deteksi dini kesehatan mental di lingkungan terdekat.
Memahami Depresi: Bukan Sekadar Kesedihan Biasa
Menilik balik maraknya kasus serupa yang terjadi di Kota Bontang, Psikiater RSUD Taman Husada, dr. Dewi Maharni, M.Sc, Sp.KJ, menekankan bahwa tindakan nekat seperti bunuh diri sering kali berakar dari depresi berat yang tidak tertangani. Menurutnya, depresi berat bukanlah kondisi yang muncul secara tiba-tiba tanpa peringatan.
“Depresi berat biasanya memiliki tanda-tanda awal yang bisa dikenali, terutama oleh orang terdekat. Kuncinya adalah kepekaan,” ujar dr. Dewi, belum lama ini.
Penderita depresi berat cenderung mengalami perubahan perilaku yang drastis. Berikut adalah beberapa tanda utama yang harus kita waspadai pada teman atau anggota keluarga.
Baca Juga
Perubahan Fungsi Peran
Perubahan fungsi peran dimana seseorang yang biasanya aktif bekerja atau rajin sekolah tiba-tiba menjadi malas, sering melamun, dan mengabaikan tanggung jawabnya.
Menarik Diri
Baca Juga
Penarikan Diri dimana penderita cenderung kehilangan minat pada aktivitas sosial atau hobi yang biasanya mereka sukai.
Pola Makan dan Tidur Terganggu
Dalam kasus ini dr. Dewi menjelaskan bahwa gangguan ini tidak selalu berupa penurunan. Ada yang justru makan berlebih sebagai pelampiasan emosi, atau tidur berlebihan sebagai bentuk pelarian dari realitas. Sebaliknya, ada pula yang mengalami insomnia parah.
Beri Isyarat Verbal
Hal yang paling berbahaya adalah ketika penderita mulai memberikan isyarat verbal. Kalimat seperti “Aku ingin pergi jauh” atau “Aku capek hidup.” Kalimat ini tentu bukanlah sekadar keluhan biasa atau usaha mencari perhatian.
“Kalimat-kalimat itu adalah indikasi bahwa mereka tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri hidup,” tegas dr. Dewi.
Baca Juga
Menyakiti Diri Sendiri
Selain ucapan, tindakan fisik berupa self harm atau menyakiti diri sendiri seperti menyayat tangan atau membenturkan kepala ke tembok adalah pertanda yang tidak boleh diabaikan. Jika sinyal ini muncul, risiko percobaan bunuh diri semakin.
Saat menemukan kasus serupa, langkah penanganan yang paling tepat adalah jangan menunda. Jika menemukan orang terdekat sudah memiliki ide bunuh diri atau bahkan pernah mencobanya, langkah terbaik adalah segera membawanya ke tenaga kesehatan professional seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik Kesehatan mental.
Mencegah tragedi seperti yang dialami YBR di NTT memerlukan peran aktif lingkungan. Kita harus berhenti menganggap remeh perubahan perilaku seseorang atau melabeli mereka sebagai sosok yang lemah.
“Lebih baik bertindak cepat dengan memberikan perhatian dan bantuan medis daripada menyesal kemudian,” tutup dr. Dewi.
Kesehatan mental merupakan pondasi kehidupan. Dengan lebih peka terhadap kode-kode minta tolong di sekitar kita, kita mungkin bisa menyelamatkan satu nyawa hari ini. (*)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi