Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Mal Lembuswana pernah menjadi salah satu pusat perbelanjaan favorit masyarakat Kota Samarinda. Namun, seiring bermunculannya mal baru yang lebih modern, daya tarik pusat perbelanjaan ini perlahan menurun. Dampaknya kini dirasakan langsung para pedagang yang masih bertahan berjualan.
Salah satunya Lisianto, pedagang aksesori telepon genggam yang telah berjualan sejak 2014. Ia mengaku omzet usahanya merosot hingga 70 persen dibandingkan masa awal membuka gerai.
“Untuk omzet sekarang memang turun jauh. Tapi masih cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari dan biaya sewa tempat,” ujarnya saat ditemui di Samarinda, Senin (9/2/2026).
Lisianto mengatakan, untuk menyewa kios di Mal Lembuswana, ia harus membayar sekitar Rp5,6 juta per bulan. Menurutnya, angka tersebut sebenarnya sudah lebih rendah dibandingkan tarif sewa pada masa sebelumnya.
Ia juga menceritakan perubahan lokasi berjualan yang terpaksa dilakukan saat pandemi COVID-19 melanda. Semula, ia membuka gerai di lantai tiga. Namun karena sepinya pengunjung, ia bersama sejumlah pedagang lain memutuskan pindah ke lantai dua yang dinilai lebih strategis.
Baca Juga
Berdasarkan pantauan Akurasi.id, banyak kios di lantai tiga yang kini tutup. Aktivitas yang tersisa di lantai tersebut hanya beberapa tenant, seperti Matahari Department Store, wahana bermain anak Kidsdzone, serta arena permainan bom-bom car milik pengelola mal.
Sementara itu, area food court di lantai tiga juga terlihat tidak beroperasi saat dikunjungi pada Senin (9/2/2026). Tidak ada satu pun gerai makanan yang buka.
Lisianto menilai penurunan jumlah pengunjung mulai terasa sejak pandemi. Meski demikian, ia menyebut lonjakan pengunjung masih terjadi pada momen tertentu, terutama saat libur panjang dan Hari Raya Idulfitri.
Baca Juga
Kondisi serupa juga dirasakan Latifa, kasir di salah satu tempat bermain anak yang mulai beroperasi sejak 2019. Ia mengungkapkan pendapatan gerai tempatnya bekerja juga mengalami penurunan, bahkan lebih rendah dibandingkan wahana serupa di pusat perbelanjaan lain.
Ia mencatat jumlah kunjungan pada Januari 2026 hanya mencapai 114 tiket, Desember 2025 sebanyak 263 tiket, dan November 2025 sebanyak 181 tiket.
Menurut Latifa, kunjungan tertinggi saat ini umumnya terjadi pada akhir pekan dengan rata-rata sekitar 20 tiket per hari. Sementara pada periode Ramadan, jumlah pengunjung dapat meningkat hingga sekitar 100 tiket.
“Kalau di lantai tiga ini memang sudah sepi sejak saya mulai bekerja pada Juli 2025,” jelasnya.
Akurasi.id telah berupaya meminta tanggapan dari pihak pengelola Mal Lembuswana terkait kondisi tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen belum memberikan keterangan resmi. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id