Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Setelah menunggu ketidakpastian selama dua pekan, pemilik kapal sungai penumpang dan barang tujuan Kutai Barat dan Mahakam Ulu sempat mendapat secercah harapan. Pasalnya, pemilik kapal pernah dijanjikan mendapat bahan bakar minyak (BBM) subsidi.
Oleh karena itu, pemilik kapal mulai menerima pemesanan tiket penumpang dan penitipan barang. Namun, belakangan janji BBM subsidi menguap di udara, berkas harus dilengkapi dulu baru memperoleh BBM tersebut. Hal ini diungkapkan oleh pemilik kapal Nor Indah Fitri 3, Adi Surya Budi.
“Kami sempat dijanjikan dapat BBM subsidi, jadi kami bukalah pemesanan tiket dan penitipan barang. Tapi hingga kunjungan kemarin (kunjungan BPH Migas, Dishub Kaltim, dan Pertamina Patra Regional Kalimantan) SK yang menjadi kunci keberangkatan belum keluar juga,” ujarnya saat diwawancarai awak media di Dermaga Mahakam Ulu, Sungai Kunjang, Samarinda, Selasa (10/2/2026).
Hal ini menimbulkan pertanyaan di hati Adi. Menurutnya, 10 kapal yang disebut belum melengkapi berkas ini, justru sudah memiliki dokumen lengkap. Sementara 13 kapal yang sudah mendapatkan rekomendasi malah belum memiliki berkas lengkap. Namun, justru mereka yang mendapatkan SK sementara.
Meski begitu, kata dia, pihak pemerintah daerah sudah mengatakan berkas mereka telah dikirimkan ke Kementerian Perhubungan dan akan diberikan tindak lanjut pada Rabu (11/2/2026) pagi ini.
Baca Juga
Pemilik Kapal Sungai Berharap Segera Berlayar
Dirinya berharap, segera ada jawaban di tengah ketidakpastian ini. Pasalnya, ada puluhan buruh dan anak buah kapal (ABK) yang menggantungkan nasibnya pada kapal tersebut. Belum lagi, kondisi ini turut berimbas pada perputaran ekonomi bagi masyarakat Mahakam Ulu (Mahulu) yang masih mengandalkan jalur air untuk mengantarkan bahan logistik.
Sebenarnya, BPH Migas menyarankan agar 13 kapal yang sudah dapat rekomendasi untuk beroperasi penuh menggantikan kapal yang masih belum bisa beroperasi ini.
Namun, Adi menjelaskan, 13 kapal itu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kebarangkatan kapal. Karena setiap harinya ada dua kapal yang berangkat dari Samarinda menuju Kubar dan Mahakam Ulu (Mahulu), begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, dalam sehari ada empat kapal yang harus berjalan mengantarkan penumpang dan barang ke tempat tujuan.
Baca Juga
“Jadi kami sangat berharap agar SK itu bisa segera keluar,” imbuhnya. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari