Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Peringatan dua tahun anugerah The Zayed Award for Human Fraternity Muhammadiyah menjadi momentum refleksi bagi setiap individu. Untuk terus menyerukan toleransi dan persaudaraan dunia.
Penegasan itu disampaikan melalui forum refleksi yang digelar di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Samarinda, Kamis (12/2/2026). Forum ini turut Tokoh Nasional Filsafat Teologi Prof. Dr. Franz Magnis Suseno SJ dan mantan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005–2010, Dr. (HC) dr. Sudibyo Markus, MBS,
Tepat 5 Februari 2024, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam yang menerima penghargaan ini, serta penerima pertama di Asia. The Zayed Award for Human Fraternity merupakan penghargaan tingkat internasional yang digelar sebagai bentuk apresiasi individu atau entitas yang berkontribusi besar terhadap kemajuan peradaban manusia dan pembangunan perdamaian.
Dalam kesempatan itu, Rektor UMKT Kaltim Dr Muhammad Musiyam MT menyampaikan, penghargaan ini bukan sekadar formalitas, namun merupakan pengakuan visi atau nilai-nilai yang menjadi fondasi Muhammadiyah.
“Artinya, konsistensi gerakan Muhammadiyah di bidang kemanusiaan diakui internasional,” tuturnya.
Baca Juga
Ia juga memaparkan, berbagai tantangan global yang dihadapi dunia, dari percepatan digitalisasi, revolusi industri, mobilitas kemanusiaan, perubahan iklim dan geopolitik. Menurutnya, ini bukan sekadar fenomena fisik, melainkan persoalan kemanusiaan, ekologis, dan masa depan peradaban.
Di tengah dinamika ini, Muhammadiyah menegaskan peran untuk terus berkontribusi, salah satunya melalui penguatan peran perguruan tinggi.
“Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan iklim bukan hanya masalah ilmiah, namun persoalan kemanusiaan yang harus dihadapi bersama, ” ujarnya.
Baca Juga

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Muhammadiyah Kaltim Siswanto menilai, penghargaan ini menjadi bukti bahwa organisasi Islam Indonesia mampu menjadi contoh dalam membangun kehidupan damai dan persaudaraan global.
Hal ini terlihat dari visi yang terus diemban, yakni menyuarakan kehidupan berdampingan antar umat beragama. Serta membangun solidaritas dan keadilan antar masyarakat, mengingat Indonesia sendiri merupakan negara dengan keberagaman suku dan agama.
“Semoga penghargaan ini menggugah hati masyarakat untuk terus menghadirkan persaudaraan global. Kita bisa hidup berdampingan secara damai, menjunjung tinggi solidaritas dan keadilan, serta mewujudkan apa yang diidamkan masyarakat dunia,” harapnya. (adv)
Penulis: Pewarta
Editor: Devi Nila Sari