Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Kepala Sekolah SDN 008 Waru, Lina Nurhayati, angkat suara terkait insiden keracunan yang menimpa 25 siswa di Kecamatan Waru. Insiden tersebut diduga berkaitan dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Lina mengatakan, pihak sekolah telah mengumpulkan orangtua siswa pada Kamis (12/2/2026). Pertemuan tersebut dilakukan sebagai ajang silaturahmi sekaligus mempertemukan wali murid dengan Koordinator Regional SPPG Kaltim, Binti Maulina Putri.
Ia menyebut, pertemuan itu juga menjadi momentum penyampaian permohonan maaf dari pihak penyelenggara MBG, meskipun hasil pemeriksaan laboratorium hingga kini belum keluar.
“Kemudian himbauan kami dari sekolah, kami ini sebetulnya terbantu dengan MBG, sangat terbantu. Saya pun juga selalu mensukseskan program MBG itu. Maka dari itu, kami juga minta betul-betul MBG itu dikelola secara maksimal, untuk ke depannya harus lebih baik lagi,” ujar Lina.
Lina menjelaskan, gejala keracunan mulai dirasakan siswa sekitar 30 menit setelah mengonsumsi makanan MBG. Awalnya, dua siswa mengalami muntah-muntah.
Baca Juga
“Kita belum curiga, kira apakah karena kekenyangan mungkin habis makan kemudian lari-lari. Ya kita panggil saja ke kantor, tapi kita belum curiga,” terangnya.
Kecurigaan mulai muncul setelah pihak sekolah mendapat informasi adanya laporan siswa sakit perut di SMA 2. Setelah itu, jumlah siswa yang mengalami gejala serupa bertambah secara bertahap.
“Dan ternyata memang kita lihat mereka muntah-muntah semua. Turunlah mobil MBG di sini, mobil box sama mobil hitam. Jadi dua diangkut, tidak muat,” jelasnya.
Baca Juga
Tak lama kemudian, ambulans dari Puskesmas Waru datang untuk mengevakuasi korban lainnya. Lina memastikan tidak ada siswa yang pingsan saat kejadian berlangsung.
Menurut Lina, pihak sekolah sempat memberikan air kelapa kepada siswa yang mengalami gejala. Upaya tersebut dinilai membantu meredakan muntah pada beberapa siswa.
“Begitu dikasih air kelapa, muntahnya berkurang. Sudah tidak sesering sebelumnya. Awalnya anak-anak di dalam, keluar lagi muntah lagi,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah siswa masih mengalami pusing, lemas, dan sakit perut sehingga harus mendapatkan penanganan medis lebih lanjut di puskesmas.
Ia juga memastikan tidak ada penambahan korban baru. Sebagian siswa sudah kembali bersekolah, sementara lainnya masih menjalani masa pemulihan.
Lina menegaskan, pihak sekolah tidak menginginkan program MBG dihentikan. Menurutnya, program tersebut sangat membantu para siswa dan orangtua.
Baca Juga
“Kalau mau menghentikan juga, belum berani. Karena wali murid terbantu, sangat terbantu. Makanya kalau dari saya itu mau mencari solusinya, bukan MBG-nya yang diberhentikan,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan pelaksanaan MBG dapat berjalan lebih maksimal dengan pengawasan yang ketat serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) secara menyeluruh.
“Kita tidak mau kejadian seperti itu lagi. Tapi bukan berarti MBG diputuskan. MBG tetap oke, tapi harus dengan pengawasan yang lebih lagi,” jelasnya. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id