Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Masyarakat mempertanyakan komitmen Pemprov Kaltim dalam pengelolaan keuangan daerah. Pasalnya, di tengah suasana efisiensi anggaran, BPKAD sempat mengumumkan jika mereka tidak akan melakukan pengadaan kendaraan dinas pada 2025.
Namun, pada awal 2026 ini, publik justru dibuat kaget. Lantaran pengadaan kendaraan mobil dinas untuk pimpinan tetap dilakukan. Tak tanggung-tanggung, kendaraan yang dipilih ialah jenis SUV Hybrid 2996 cc dengan harga mencapai Rp8,5 miliar.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kaltim Ahmad Muzakkir memberikan klarifikasi. Dikatakannya, Pemprov Kaltim memang tidak melakukan pengadaan kendaraan dinas pada 2025. Namun, hal itu hanya dikhususkan untuk kendaraan pejabat eselon II dan operasional eselon III.
“Pembelian kendaraan itu khusus untuk pimpinan daerah. Kalau untuk kepala dinas, kepala bidang, dan lain-lain sudah tidak ada,” kata dia saat diwawancarai media ini melalui seluler, Jumat (13/2/2026).
Muzakkir menjelaskan, pengadaan mobil dinas pimpinan daerah memang harus dilakukan lima tahun sekali. Karena kendaraan sebelumnya sudah dibeli sejak awal kepemimpinan Mantan Gubernur Kaltim Isran Noor pada 2018 lalu. Kondisi mobil tersebut dinilai justru membebani operasional.
“Kendaraan yang digunakan sebelumnya sudah cukup tua dan biaya pemeliharaannya sudah tidak efisien lagi,” jelasnya.
Dia menyebut, pengadaan mobil listrik tidak hanya dilihat secara visual. Melainkan harus memiliki peruntukan yang jelas. Adapun salah satu pertimbangan pembelian kendaraan yakni karena Kaltim sering dikunjungi oleh pejabat dari pemerintah pusat.
“Penggunaannya juga untuk pelayanan tamu-tamu seperti menteri dan VVIP lainnya. Karena kita harus menggunakan kendaraan yang representatif,” tambah Muzakkir.
Baca Juga
Ia menegaskan, jika Pemprov Kaltim berpegang teguh pada prinsip efisiensi anggaran. Tanpa mengabaikan penyediaan sarana dan prasarana pendukung yang memang diperlukan.
“Keduanya harus dilakukan sesuai porsi demi kelancaran tugas pemerintah yang semakin kompleks,” pungkasnya. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari