Soal Dugaan Keracunan MBG, Kapolres PPU: Polisi Tunggu Hasil Lab

Polres PPU menanti hasil uji lab soal dugaan gangguan kesehatan massal program MBG.
Devi Nila Sari
1.1k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Kapolres Penajam Paser Utara (PPU), Andreas Alek Danantara, menyatakan kepolisian masih menunggu hasil uji laboratorium. Terkait dugaan gangguan kesehatan massal yang dialami puluhan siswa penerima manfaat program makan bergizi gratis (MBG).

Peristiwa tersebut terjadi saat 27 anak mengalami mual, muntah, dan pusing secara bersamaan. Dari jumlah itu, 25 siswa merupakan pelajar SD dan dua siswa SMA. Seluruhnya merupakan penerima manfaat makan siang, sementara penerima manfaat pagi dari tingkat SD dilaporkan tidak mengalami keluhan.

“Untuk saat ini tim kesehatan, polres, dan pemda turun langsung karena ini masuk kategori kejadian luar biasa. Dampaknya memang dirasakan anak-anak secara bersamaan, sehingga kecenderungannya mengarah ke makanan,” tuturnya.

Andreas menjelaskan, pengambilan sampel telah dilakukan terhadap seluru menu yang disajikan dan kini dalam uji lab oleh dinas kesehatan. Menu tersebut antara lain telur, sayur, buah, puding, serta tahu kecap. Hasil uji laboratorium diharapkan keluar paling cepat dalam tiga hari sejak sampel diambil. Terkait kemungkinan unsur pidana, Andreas menegaskan, proses hukum tetap terbuka.

“Belum sampai pada unsur membahayakan, tetapi jika dalam pengembangan ditemukan unsur kesengajaan, tentu akan kami proses sesuai hukum,” katanya.

Ia menambahkan, semua pihak pada dasarnya memiliki niat baik untuk menyukseskan program nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, pengawasan akan diperketat tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

PPU Memiliki Delapan SPPG

Dalam kesempatan yang sama, Andreas juga menyampaikan, saat ini PPU telah memiliki delapan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), dan jumlah tersebut akan terus bertambah. Distribusi makanan dari SPPG yang berlokasi di Polres PPU bahkan telah dimulai, dengan sasaran lebih dari 1.100 anak dari TK Bhayangkari, SMP 21, dan SD di sekitarnya.

“Selama Ramadan, program tetap berjalan. Polanya sama, kecuali Sabtu. Untuk Sabtu, makanan kering diberikan pada Jumat sore agar relawan bisa beristirahat,” jelasnya.

Ia menegaskan, seluruh makanan diproduksi di dapur sendiri, tanpa melibatkan pihak ketiga dalam proses memasak. Pihak luar hanya menyuplai bahan baku.

“Relawan berjumlah 47 orang, semuanya masyarakat lokal Penajam, sudah bersertifikat penjamah makanan dan melalui uji kelayakan,” ujarnya.

Pengawasan dilakukan berlapis, mulai dari internal kepolisian, Yayasan Bhayangkari, hingga prosedur rapid test makanan sebelum disajikan. Sebagian makanan juga disimpan sebagai sampel antisipasi bila terjadi kejadian khusus.

“Kami terbuka, dapur dan fasilitas bisa dilihat langsung dengan prosedur APD. Prinsipnya, transparan dan akuntabel,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }