Mahasiswa Cap Gubernur Kaltim “WaluhPol”

Mahasiswa cap gubernur Kaltim “WaluhPol” sebagai ungkapan rasa kecewa atas implementasi program yang dinilai belum menjawab masalah masyarakat. Alhasil, janji politik atau pernyataan yang disampaikan disebut waluh atau bualan.
Devi Nila Sari
2.1k Views

Kaltim.akurasi.id, SamarindaKantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) digeruduk mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Samarinda. Aksi ini ditengarai oleh kekecewaan mahasiswa atas sejumlah program Pemprov Kaltim yang dinilai belum dapat dirasakan manfaatnya.

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Angga mengatakan, pada aksi bertajuk Satu Tahun Disiksa Rudy-Seno, GagalPol, ini mereka membawa tujuh tuntutan.

“Kalau pihak pemprov bicara di media, besar sekali. Padahal implementasi di lapangan sangat minim,” ujarnya di Samarinda, Senin (23/2/2026).

Adapun tujuh tuntutan yang disampaikan oleh Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) diantaranya evaluasi dan pemerataan Program Gratispol, tindak lanjut atas kerusakan ekologis di Kalimantan Timur, serta pemerataan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Kalimantan Timur.

Selain itu, massa juga mendesak penghentian praktik politik dinasti, menuntut jaminan perlindungan dan kepastian hak buruh serta masyarakat adat, meminta perlindungan penuh terhadap kebebasan berekspresi, dan menuntut transparansi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kalimantan Timur.

Angga menyebut, di Universitas Mulawarman (Unmul) ada banyak mahasiswa yang mendaftarkan diri untuk program tersebut. Namun, namanya justru tidak masuk ke dalam daftar penerima.

Pihaknya pun mempertanyakan esensi dari nama program tersebut. Karena ternyata, di balik kata gratis masih ada sejumlah persyaratan yang harus dilakukan.

“Jadi gratis darimana nya?” sambung dia.

Mereka pun memberi julukan WaluhPol kepada orang nomor satu Kaltim ini. Apabila diartikan secara harfiah, kata waluh berarti labu kuning (Cucurbita moschata).

Namun, dalam penggunaan sehari-hari atau slang di daerah tertentu seperti Kalimantan Timur, waluh juga digunakan sebagai kata olok-olokan yang bermakna berbohong, membual, atau bualan.

Julukan tersebut diberikan lantaran Rudy Mas’ud saat diwawancarai awak media, sering mengatakan ingin membangun Kaltim. Namun, nyatanya hal tersebut dinilai belum terwujud di satu tahun kepemimpinannya.

“Mulai dari kesehatan gratis sampai pendidikan gratis. Hanya omon omon saja. Rudy masud sama saja waluh,” jelasnya. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }