Jejak Setia Acil Inur, Dua Dekade Menemani Ramadan dengan Cita Rasa Tradisional

Bagi Acil Inur, amparan tatak bukan sekadar kue tradisional atau takjil Ramadan. Namun, bagian dari identitas Ramadan Samarinda dengan cita rasa yang selalu dirindukan.
Devi Nila Sari
1.9k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Sore belum sepenuhnya jatuh di kawasan GOR Segiri, Samarinda. Namun, langkah warga kian ramai, dan aroma santan berpadu pisang matang menguar di ntara deretan lapak Pasar Ramadan.

Di antara puluhan penjual takjil yang berjejer rapi, satu meja sederhana selalu lebih dulu dikerubuti pembeli. Di sanalah Acil Inur berdiri, setia menjaga loyang-loyang amparan tatak yang telah menemaninya selama dua dekade Ramadan di Kota Tepian.

Bagi sebagian warga Samarinda, nama Acil Inur bukan sekadar pedagang kue. Ia adalah penjaga cita rasa tradisional yang selalu dirindukan. Amparan tatak buatannya lembut, legit, dan tak banyak berubah sejak pertama kali dijajakan 20 tahun silam dan menjadi bagian dari kenangan berbuka puasa.

“Setiap Ramadan ulun tatarusan begawi (saya terus berjualan, red) di sini. Jadi tradisi kami sudah lama dek ay,” ucap Inur sembari cekatan membungkus pesanan pembeli.

- Advertisement -
Ad image

Resep yang ia gunakan merupakan warisan keluarga. Tak banyak modifikasi, tak banyak eksperimen. Sejak pagi, ia bersama kerabat mulai mengaduk adonan, mengukus, lalu menyusun kue-kue tradisional agar tetap segar saat dibawa ke lapak menjelang sore.

Lebih dari 40 loyang aneka kue dibawanya setiap hari. Selain amparan tatak, tersedia pula putri selat, kararaban, sari pengantin, hingga nangka susu. Namun, amparan tatak pisang putih tetap menjadi primadona.

“Yang lakas habis (cepat habis, red) itu amparan tatak pisang putih. Bisa sampai empat loyang sendiri sehari,” tuturnya.

Amparan Tatak Bagian dari Idenditas Ramadan di Kota Tepian

Di tengah harga bahan baku yang terus merangkak naik, Inur memilih bertahan dengan harga ramah di kantong. Kue tradisional dijual rata-rata Rp15 ribu per potong. Untuk satu loyang amparan tatak utuh, pembeli cukup merogoh Rp150 ribu hingga Rp180 ribu, sementara bingka dibanderol Rp30 ribu per potong.

Keputusan itu membuat lapaknya tak pernah benar-benar sepi. Pelanggan lama datang kembali, seolah mencari potongan memori masa lalu. Sementara generasi muda mendekat dengan rasa penasaran, mencicipi kue yang lebih dulu akrab di telinga ketimbang di lidah mereka.

“Alhamdulillah dek, tiap tahun ada aja sidin manukar gawian acil. Urang lama tetap setia, yang muda-muda hancap jua (sering juga membeli, red),” katanya sambil memancarkan senyuman tipis.

Di tengah gempuran dessert modern dan jajanan kekinian, Acil Inur memilih bertahan pada akar. Baginya, amparan tatak bukan sekadar takjil berbuka. Ia adalah bagian dari identitas Ramadan Samarinda. Rasa yang diwariskan, bukan sekadar dijual.

Sejak Pasar Ramadan pertama kali digelar di kawasan GOR Segiri, ia tak pernah absen membuka lapak. Keramaian yang mulai memadati kawasan GOR Segiri sejak pukul 15.30 WITA menjadi saksi bahwa tradisi berburu takjil dan “rasa lama” itu masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Ibu Kota Kaltim ini.

Dari loyang ke loyang, dari tahun ke tahun, Acil Inur tak sekadar menjual kue. Ia merawat tradisi dan Ramadan pun terasa selalu pulang ke rasa yang sama.

“Selagi masih sihat, haur acil begawi teterusan dek. Doakan aja ni acil sihat jangan ngalih, baisukan pasti ay begawi,” tutupnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }