Tak Tahan Bau Sampah, 20 Operator Insinerator DLH Samarinda Mengundurkan Diri

Sebanyak 20 operator insinerator DLH Samarinda mengundurkan diri karena tidak tahan bau sampah.
Devi Nila Sari
1.4k Views

Kaltim.akurasi.id, SamarindaDinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda menghadapi kendala dalam pemenuhan tenaga kerja operator insinerator. Sedikitnya 20 orang calon operator mengundurkan diri setelah mengikuti pelatihan, karena tidak sanggup menghadapi bau menyengat dari sampah basah.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan fenomena ini dipicu oleh ketidaksiapan mental para peserta saat harus berhadapan langsung dengan kondisi pekerjaan di lapangan.

Menurutnya, banyak calon pekerja yang masih awam dan belum terbiasa bersentuhan dengan sampah, khususnya sampah basah yang mengeluarkan aroma tidak sedap.

“Banyak yang masih awam dan tidak terbiasa bersentuhan dengan sampah, sehingga proses adaptasinya agak lambat,” kata Fajar.

Ia mengungkapkan, tantangan terbesar berasal dari kondisi sampah yang masuk ke fasilitas insinerator yang masih tercampur dari tempat pembuangan sementara (TPS). Tidak hanya sampah rumah tangga, material yang masuk juga kerap bercampur dengan bangkai hewan.

Kondisi tersebut membuat banyak peserta pelatihan yang dilaksanakan di Kecamatan Samarinda Ulu pada Januari lalu memilih berhenti. “Kalau sampah kering mungkin lebih mudah, tapi ini yang basah, bahkan ada bangkai hewan. Orang yang tidak terbiasa tentu kaget,” bebernya.

DLH Samarinda Butuh 46 Tenaga Kerja Tambahan

Saat ini, DLH Samarinda masih membutuhkan sekitar 46 tenaga kerja tambahan untuk mengoperasikan 10 unit mesin insinerator yang seluruhnya telah selesai dirakit dan dipasang.

Karena minimnya minat pelamar, DLH memutuskan untuk melonggarkan syarat rekrutmen. Jika sebelumnya minimal lulusan SMA, kini persyaratan diturunkan menjadi cukup memiliki ijazah apa pun sebagai identitas diri, dengan syarat memiliki kemauan kuat untuk bekerja.

“Kita turunkan kualifikasinya, yang penting ada ijazah dan kemauannya. Kemarin ijazah kita tetapkan di SMA, ternyata susah, kita turunkan lagi,” tuturnya.

Selain membuka peluang bagi masyarakat umum, DLH juga menjajaki kerja sama dengan dinas sosial untuk memberdayakan kelompok masyarakat tertentu, termasuk manusia silver, sebagai operator.

Meski demikian, proses penerimaan tetap dilakukan secara ketat melalui masa pelatihan dan percobaan sebelum penerbitan Surat Keputusan (SK) pengangkatan.

“Kita tidak langsung terima dan keluarkan SK. Ada masa training dulu, kita lihat motivasi mereka selama beberapa minggu apakah bisa bertahan atau tidak,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana