Bayi Alami Luka Parah Usai Infus, RSUD AWS Bantah Malpraktik

Kasus bayi 3 bulan dengan luka serius usai pemasangan infus memicu sorotan, RSUD AWS menegaskan seluruh tindakan telah sesuai prosedur.
Fajri
By
1.7k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda memberikan klarifikasi terkait kasus bayi berinisial RA (3 bulan) yang mengalami luka serius pada tangan setelah menjalani perawatan di Ruang Melati.

Bayi tersebut awalnya dirawat akibat muntaber dengan kondisi dehidrasi berat pada awal Maret 2026. Namun, setelah dilakukan pemindahan posisi infus dari tangan kiri ke kanan, kondisi tangan bayi dilaporkan mengalami pembengkakan hebat, melepuh, hingga kulit menghitam.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Direktur Penunjang RSUD AWS, Mazniati, menegaskan bahwa seluruh tindakan medis telah dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

“Semua tindakan sudah sesuai prosedur. Edukasi juga sudah diberikan, tetapi memang ada gap dengan pihak keluarga pasien,” ujarnya di Samarinda, Senin (6/4/2026).

Ia menyebut pihak rumah sakit juga telah melakukan audit internal untuk menindaklanjuti kasus tersebut.

Mazniati turut membantah informasi yang menyebutkan penanganan pasien dilakukan oleh mahasiswa magang. Ia memastikan tidak ada mahasiswa magang yang bertugas di unit tersebut dalam beberapa bulan terakhir.

“Tidak ada mahasiswa magang di unit itu, bahkan sejak tiga bulan sebelum kejadian,” tegasnya.

Ia menambahkan, apabila terdapat mahasiswa magang dalam pelayanan medis, mereka tetap harus berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan profesional dan tidak diperkenankan menangani pasien secara mandiri.

Sebagai langkah penanganan lanjutan, bayi RA direncanakan menjalani prosedur operasi skin graft atau pencangkokan kulit. Tindakan ini bertujuan mempercepat proses penyembuhan jaringan yang rusak.

“Tujuannya untuk mempercepat penyembuhan. Jaringan kulit sehat akan ditempelkan di area luka. Kami akan memberikan yang terbaik,” ucap Mazniati.

Prosedur tersebut akan ditangani oleh dokter bedah plastik dengan subspesialis vaskular.

Mazniati juga mengakui bahwa setiap tindakan medis memiliki risiko, termasuk kemungkinan reaksi alergi terhadap obat atau efek dari pembiusan.

“Semua tindakan pasti ada risiko medis. Tapi semuanya sudah diperhitungkan dan diantisipasi sesuai standar,” jelasnya. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana