Buaya Muncul di Sungai Tunan, BPBD PPU Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

BPBD PPU minta warga tingkatkan kewaspadaan, lantaran ada pergerakan buaya di sekitar Sungai Tunan.
Devi Nila Sari
1.4k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Kepala Pelaksana BPBD Penajam Paser Utara (PPU), Nurlaila, menyampaikan bahwa upaya normalisasi Sungai Tunan dan saluran drainase di wilayah sekitarnya berdampak pada pergerakan satwa liar, khususnya buaya, ke area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.

Menurut Nurlaila, normalisasi dilakukan pada aliran Sungai Tunan serta drainase di kawasan sekitar guna mengantisipasi dampak pasang surut air, terutama saat terjadi pasang tinggi yang juga dipengaruhi aliran dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Adas. Kondisi tersebut turut memengaruhi wilayah Tunan, Waru, hingga kawasan sekitar lainnya.

“Pergerakan buaya ini mengikuti aliran air. Ketika terjadi pasang tinggi, mereka bisa masuk ke saluran drainase primer, namun bukan ke permukiman warga, melainkan lebih banyak ditemukan di area perkebunan sawit,” tuturnya.

Ia menyontohkan, kejadian terbaru di mana buaya memangsa ternak milik warga. Peristiwa tersebut menjadi salah satu indikasi, meningkatnya interaksi antara satwa liar dan aktivitas manusia di sekitar aliran air.

Terkait penanganan, Nurlaila menegaskan, bahwa BPBD tidak memiliki kewenangan langsung terhadap satwa liar. Penanganan buaya dan hewan dilindungi lainnya berada di bawah otoritas balai konservasi sumber daya alam (BKSDA).

“Kami tidak bisa sembarangan melakukan tindakan terhadap hewan liar, karena dilindungi. Penanganannya ada di bawah BKSDA,” jelasnya.

BPBD, lanjutnya, hanya dapat melakukan langkah mitigasi berupa sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati, terutama bagi warga yang beraktivitas di sekitar sungai, danau, maupun saluran air.

“Karena habitatnya memang di air, maka masyarakat yang beraktivitas di lokasi tersebut harus meningkatkan kewaspadaan,” katanya.

Secara geografis, Kabupaten PPU memiliki banyak aliran sungai kecil yang saling terhubung, mulai dari wilayah Sepaku, Babulu, Waru hingga Tunan. Kondisi ini membuat potensi kemunculan buaya di berbagai titik menjadi hal yang sulit dihindari.

“Wilayah kita ini memang didominasi sungai-sungai kecil yang terhubung hingga ke drainase di dekat permukiman dan perkebunan. Jadi potensi itu pasti ada,” tambahnya.

Meski demikian, Nurlaila menegaskan, bahwa pengendalian satwa liar di alam bebas bukan hal yang mudah dilakukan, sehingga peran kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah terjadinya insiden.

“Kami juga telah berkoordinasi dengan BKSDA terkait keberadaan buaya di sejumlah titik. Data terkait kemunculan satwa tersebut juga terus diperbarui secara berkala, termasuk dalam periode tiga bulanan,”tutupnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana