“Pesta Babi” Diputar di Bontang, Sineas Besai Berinta Buka Ruang Diskusi Film dan Isu Sosial

Pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” di Kota Bontang tak sekadar menjadi ajang nonton bareng. Kegiatan yang digagas komunitas Sineas Besai Berinta (SBB) ini justru menjelma ruang belajar dan diskusi kritis, mempertemukan pelajar, jurnalis, hingga pegiat kreatif.
Fajri
By
3.4k Views

Kaltim.akurasi.id, Bontang — Komunitas Sineas Besai Berinta (SBB) menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi karya Watchdoc Documentary di Kota Bontang, Sabtu (2/5/2026). Kegiatan ini dihadiri pelajar SMA/SMK, pembuat film, jurnalis, serta pegiat kreatif yang memiliki ketertarikan pada dunia perfilman dan isu sosial-lingkungan.

Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Mulyadi sebagai pemantik dari perspektif filmmaker, serta Fitri yang mengulas dari sudut pandang jurnalisme lingkungan. Diskusi berlangsung dinamis, membedah pesan film sekaligus mengaitkannya dengan realitas sosial yang terjadi di sekitar.

Perwakilan Sineas Besai Berinta, Arif Rahmatullah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan perdana tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menonton film, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang menonton, tetapi juga ruang untuk mengasah pemahaman tentang film sekaligus berdiskusi kritis terhadap isu-isu yang diangkat,” ujarnya.

Arif menjelaskan, SBB berkomitmen menjadikan kegiatan nobar dan diskusi sebagai agenda rutin. Langkah ini dinilai penting sebagai fondasi sebelum masuk ke tahap produksi karya.

“Kami percaya, sebelum membuat film, kita harus terlebih dahulu mencintai dan memahami film. Dari situ, ke depan kami berharap bisa melahirkan karya film asli Bontang, yang diproduksi oleh putra-putri daerah,” tambahnya.

Lebih jauh, SBB membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin bergabung tanpa proses seleksi. Komunitas ini diharapkan menjadi wadah inklusif bagi siapa saja yang ingin belajar, berdiskusi, dan berkolaborasi di bidang perfilman.

Sebagai komunitas kreatif, SBB tidak hanya berfokus pada aspek teknis produksi film, tetapi juga mendorong anggotanya untuk peka terhadap isu sosial, budaya, dan lingkungan. Film dipandang sebagai medium penting untuk menyampaikan perspektif lokal yang kuat dan berdampak.

“Kami ingin SBB menjadi ruang belajar dan tempat berkumpul untuk ngobrolin film. Dari sini, semoga lahir karya-karya yang benar-benar merepresentasikan Bontang,” jelas Arif. (*)

Penulis/Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana