AI Mulai Menggeser Pekerjaan Pemula, Generasi Muda jadi Kelompok Paling Rentan

Seiring perkembangan teknologi, AI mulai mengambilalih pekerjaan pemula. Dalam hal ini, generasi muda dituntut untuk beradaptasi dan memanfaatkan potensi terciptanya jenis keterampilan baru.
Devi Nila Sari
2.3k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Gelombang perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah wajah pasar kerja global pada 2026. Posisi pekerjaan tingkat pemula atau entry level menjadi sektor yang paling terdampak, akibat semakin luasnya penggunaan teknologi otomatisasi di berbagai industri.

Sejumlah perusahaan teknologi dunia mulai memangkas kebutuhan tenaga kerja administratif, pemasaran, hingga pengembang perangkat lunak junior karena sebagian pekerjaan kini dapat dilakukan oleh sistem AI generatif dalam hitungan detik. Kondisi ini membuat lulusan baru perguruan tinggi dan pencari kerja usia muda menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.

Laporan terbaru dari berbagai lembaga riset menunjukkan lowongan pekerjaan tingkat pemula di sektor yang paling terpapar AI mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode sebelum kemunculan teknologi generatif. Di Amerika Serikat, lowongan pekerjaan entry level tercatat turun hingga 35 persen dalam 18 bulan terakhir, seiring meningkatnya penggunaan AI untuk menjalankan tugas-tugas rutin seperti entri data, penulisan dokumen, hingga layanan pelanggan.

Sementara itu, studi terbaru di Swiss menemukan lowongan kerja junior pada sektor yang paling terpapar AI mengalami penurunan hingga 32 persen dibandingkan periode sebelum kemunculan AI generatif. Sebaliknya, permintaan terhadap pekerja senior yang memiliki kemampuan mengelola dan mengawasi teknologi AI justru meningkat sebesar 26 persen.

Jenis Pekerjaan Tingat Pemula yang Paling Rentan Terdampak Perkembangan AI

Pekerjaan tingkat pemula menjadi yang paling rentan terdampak perkembangan AI generatif karena sebagian besar tugasnya bersifat rutin, administratif, dan berbasis pengolahan informasi. Beberapa di antaranya meliputi:

1. Staf administrasi dan entri data

2. Customer service atau layanan pelanggan tingkat dasar

3. Staf pemasaran digital pemula yang fokus pada pembuatan konten sederhana dan laporan rutin

4. Copywriter dan penulis konten dasar

5. Desainer grafis junior untuk pekerjaan template dan desain sederhana

6. Analis data pemula yang mengerjakan proses pengolahan data rutin

7. Paralegal atau asisten hukum yang bertugas menelusuri dokumen dan membuat ringkasan hukum

8. Staf keuangan dan akuntansi tingkat awal yang mengerjakan pembukuan sederhana

Di sektor teknologi, AI bahkan mulai mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya menjadi ruang belajar bagi programmer junior, seperti penulisan kode sederhana, pengujian perangkat lunak, hingga dokumentasi teknis. Akibatnya, banyak perusahaan kini lebih memilih merekrut pekerja berpengalaman yang mampu mengawasi, mengevaluasi, dan mengintegrasikan hasil kerja AI ke dalam proses bisnis mereka.

Meski demikian, para ahli menilai AI tidak sepenuhnya menghilangkan pekerjaan manusia. Perubahan terbesar justru terjadi pada jenis keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.

Laporan dari PricewaterhouseCooper (PwC) menunjukkan pekerjaan tingkat pemula yang berkaitan dengan AI kini tujuh kali lebih banyak menuntut kemampuan yang sebelumnya identik dengan pekerja senior, seperti kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, kreativitas, hingga penilaian strategis.

Generasi Muda Harus Beradaptasi

CEO Sundar Pichai bahkan menyebut optimisme dan kemampuan beradaptasi menjadi modal utama generasi muda menghadapi era AI. Menurutnya, teknologi tidak hanya menghilangkan pekerjaan lama, tetapi juga akan menciptakan profesi baru yang saat ini bahkan belum dikenal publik.

Berbagai lembaga riset global juga memperkirakan pekerjaan yang memiliki keterkaitan dengan AI justru akan tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan sektor lainnya. Lowongan kerja yang membutuhkan keterampilan AI tercatat tumbuh hampir delapan kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan sejak 2019.

Untuk menghadapi perubahan tersebut, generasi muda dinilai perlu mulai mengubah cara mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Tidak lagi cukup hanya menguasai keterampilan teknis dasar, pekerja masa depan juga dituntut mampu menggunakan AI sebagai alat pendukung produktivitas.

Beberapa kemampuan yang diperkirakan akan semakin dibutuhkan antara lain literasi AI, analisis data, kreativitas, komunikasi, kemampuan memecahkan masalah, kepemimpinan, serta kemampuan bekerja secara kolaboratif. Kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan juga diprediksi menjadi keterampilan yang paling sulit digantikan oleh mesin.

Di sisi lain, penggunaan AI oleh generasi muda sendiri terus meningkat. Sebanyak 85 persen mahasiswa tingkat akhir di berbagai negara dilaporkan telah menggunakan AI dalam proses belajar maupun menyelesaikan tugas akademik, menandakan bahwa kemampuan memanfaatkan teknologi tersebut mulai menjadi kebutuhan dasar di dunia kerja modern.

Tantangan terbesar bagi pemerintah dan institusi pendidikan saat ini bukan lagi sekadar mengenalkan teknologi AI, melainkan memastikan proses peningkatan keterampilan (upskilling) dan pembelajaran keterampilan baru (reskilling) dapat berjalan lebih cepat dibandingkan perkembangan teknologinya sendiri.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar di era AI bukanlah apakah teknologi akan menggantikan manusia, melainkan siapa yang mampu beradaptasi lebih cepat dengan perubahan tersebut. (*)

Penulis: Muhamamad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana