Fira baru sadar ada debu hitam di dalam lubang hidungnya ketika mencuci muka sebelum berangkat bekerja.
Ia menunduk di depan wastafel. Air mengalir tipis dari keran yang kepalanya sudah mulai berkerak. Dua kali ia mengusap hidung, dua kali pula ujung jarinya meninggalkan garis abu-abu di atas porselen putih. Garis itu cepat larut, berputar mengitari saringan pembuangan, lalu hilang.
Besok pagi akan ada lagi.
Sudah bertahun-tahun begitu.
Tak ada seorang pun di kota itu yang benar-benar memiliki hidung bersih.
Di balkon rumah petak yang menghadap kawasan industri, jemuran putih tak pernah benar-benar putih. Di atas daun cabai yang ditanam tetangga dalam ember cat bekas, selalu ada lapisan tipis yang membuat hijau tampak kusam. Pada kaca jendela, jika telunjuk digesekkan perlahan, akan muncul jalur bening sepanjang beberapa sentimeter, seperti seseorang baru saja membuka tirai dari langit yang keruh.
Asap tidak pernah terlihat sedang turun.
Ia hanya sudah ada.
Fira menyandarkan dahi pada kaca jendela.
Cerobong-cerobong itu berdiri jauh di seberang jalan nasional. Dari rumahnya hanya tampak ujungnya. Tiap beberapa detik kepulan baru keluar, menggulung perlahan sebelum larut bersama langit pagi yang bahkan belum sempat benar-benar biru.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali melihat awan tanpa harus menebak mana awan dan mana asap.
Tak berhasil.
Telepon genggamnya bergetar.
07.13
Rapat redaksi dipercepat.
Satu pekerja meninggal.
Diduga kecelakaan di kawasan industri.
Pesan itu muncul dari grup kantor.
Fira membaca tiga kali.
Entah karena kalimatnya terlalu pendek atau matanya yang lambat menangkap arti, ia tetap merasa ada sesuatu yang belum selesai dibaca.
Ia membuka lagi.
Masih sama.
Satu pekerja meninggal.
Ia menaruh telepon itu di meja makan.
Lima detik kemudian ia mengambilnya lagi karena lupa mengapa tadi meletakkannya.
Di atas meja masih ada dua cangkir.
Salah satunya memiliki retak halus pada bagian gagang. Retak itu membelah glasir seperti akar pohon yang mencari air. Fira mengangkat cangkir tersebut, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Ia tidak pernah memindahkan cangkir itu.
Padahal tak pernah ada lagi yang memakainya.
Di dapur, kulkas mengeluarkan dengungan panjang.
Lalu diam.
Sesaat lagi berbunyi kembali.
Dengungan itu selalu membuat Fira merasa ada seseorang sedang menahan napas di dalam rumah.
***
Di kantor, layar-layar monitor menyala lebih dulu daripada percakapan.
Editor video sedang memotong rekaman kebakaran semalam.
Reporter kriminal memeriksa ulang nama seorang tersangka.
Seorang magang sibuk menghapus koma yang salah pada naskah ekonomi.
Tak ada yang benar-benar saling memandang.
Semua orang hanya memandang layar.
Di sudut ruangan, pendingin udara menetes pelan ke dalam ember plastik.
Tok.
Tok.
Tok.
Fira duduk di meja yang sudah ia tempati hampir delapan tahun.
Keyboard hitamnya selalu terasa sedikit kasar.
Jika telapak tangan disentuhkan terlalu lama, akan ada serbuk tipis yang menempel di garis-garis kulit.
Ia mengusapnya ke celana.
Celana berubah sedikit lebih gelap.
Tak ada bedanya.
Semuanya memang selalu berdebu.
“Fir.”
Ia mendongak.
Pemimpin redaksi berdiri sambil membawa map cokelat.
“Berita kecelakaan kawasan industri. Tolong pegang.”
Fira mengangguk.
Map berpindah ke mejanya.
Ia belum membukanya.
Tatapannya lebih dulu berhenti pada sidik jari hitam yang tertinggal di sampul map.
Barangkali tinta.
Barangkali debu.
Barangkali memang semua benda di kota ini sedang perlahan berubah warna.
Ia membuka map.
Foto pertama memperlihatkan pagar proyek.
Foto kedua ambulans.
Foto ketiga helm keselamatan yang penyok.
Foto keempat…
Tangannya berhenti membalik.
Helm putih.
Pecah pada sisi kiri.
Ia pernah melihat retakan seperti itu.
Bukan.
Bukan pernah.
Tangannya menutup map.
Beberapa detik kemudian ia membukanya lagi.
Foto yang tadi dilihatnya tidak ada.
Kini foto pertama memperlihatkan ambulans.
Foto kedua petugas keamanan.
Foto ketiga garis polisi.
Fira memeriksa napasnya sendiri.
Pelan.
Ia menoleh ke meja editor di sebelah.
“Mas…”
Lelaki itu masih mengetik.
“Ya?”
“Tadi ada foto helm putih?”
Lelaki itu memiringkan kepala.
“Helm apa?”
“Yang… pecah.”
Ia mengambil map dari tangan Fira.
Membuka satu demi satu.
Mengembalikannya.
“Enggak ada.”
Fira menerima map itu kembali.
Di halaman paling belakang, terselip daftar identitas korban.
Ia membaca nama pertama.
Bukan.
Nama kedua.
Bukan.
Nama ketiga.
Tangannya berhenti sebelum menyentuh nama keempat.
Ada bekas jelaga di ujung ibu jarinya.
Ia menggosokkannya ke kertas.
Bekas itu justru semakin melebar.
Fira menatap noda tersebut cukup lama hingga huruf-huruf pada daftar nama perlahan kehilangan bentuknya.
Seperti ada sesuatu yang pernah ia ketahui, tetapi seseorang diam-diam menghapus beberapa detik dari kepalanya.
Di luar gedung redaksi, cerobong pabrik terus mengirimkan asap ke langit.
Tak ada yang terburu-buru.
Asap memang selalu punya waktu lebih panjang daripada ingatan manusia.
(Bersambung ke Bagian II)
Fajri Sunaryo; Jurnalis Akurasi.id