Fira tidak segera menyentuh papan ketik.
Kursor pada layar berkedip di ujung kalimat pertama yang belum sempat menjadi apa-apa.
Seorang pekerja meninggal dunia akibat kecelakaan kerja…
Ia menghapusnya.
Menulis kembali.
Seorang pekerja dilaporkan meninggal…
Dihapus lagi.
Jari telunjuknya berhenti di atas huruf “D”. Ada debu tipis mengendap di sela kuku. Ia menggaruk perlahan sisi keyboard. Serbuk hitam berkumpul di antara tombol Ctrl dan Shift, seperti remah-remah arang.
Di meja seberang, seorang reporter olahraga bersin dua kali.
“Musim kemarau begini malah makin parah debunya.”
Tak ada yang menanggapi.
Kalimat itu jatuh begitu saja, menyatu dengan dengung pendingin ruangan.
Fira kembali membuka map.
Nama korban masih berada di halaman terakhir.
Usia: 31 tahun.
Ia mencoba mengingat umur seseorang.
Angka itu terasa akrab.
Namun, akrab dengan siapa, ia tidak tahu.
***
Jam sebelas lewat dua belas menit.
Mobil redaksi melaju menuju kawasan industri.
Sopir memutar radio pelan. Siaran berita siang sedang membacakan nilai tukar rupiah, lalu berpindah ke prakiraan cuaca. Penyiar mengatakan langit akan cerah hingga sore.
Fira melihat keluar.
Langit berwarna abu.
Ia mencoba mengingat seperti apa warna langit ketika masih kecil.
Yang muncul justru suara ibunya sedang menepuk-nepuk kasur kapuk di halaman rumah. Debunya beterbangan setiap pukulan. Matahari memantulkan ribuan butir kecil yang melayang di udara.
Ibunya selalu berkata, jangan berdiri melawan arah angin.
Kalau tidak, debunya masuk hidung.
Fira mengusap ujung hidungnya.
Jarinya kembali menghitam.
Sopir menyalakan wiper sekali.
Padahal kaca depan tidak basah.
“Refleks,” katanya pelan, seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
***
Pagar proyek telah dipenuhi orang.
Helm kuning.
Helm biru.
Helm putih.
Semuanya tampak serupa dari kejauhan.
Polisi memasang garis pembatas.
Seorang petugas humas perusahaan sedang berbicara kepada wartawan televisi. Senyumnya muncul dan hilang sesuai arah kamera.
Fira tidak ikut mendekat.
Ia justru memandangi deretan sepatu keselamatan yang berjejer di dekat pos keamanan.
Ada lumpur yang mengering pada solnya.
Ada semen.
Ada bekas oli.
Ada pula sepasang sepatu yang tali kirinya putus.
Tanpa alasan yang jelas, matanya terus kembali kepada sepatu itu.
Seakan-akan seseorang akan datang mencarinya.
“Bu.”
Seorang satpam menghampiri.
“Media?”
Fira mengangguk.
Satpam itu menyerahkan masker sekali pakai.
“Debunya lagi tebal.”
Masker itu masih terlipat rapi.
Fira menerimanya, tetapi tidak segera dipakai.
Tangannya justru meremas bungkus plastiknya hingga mengeluarkan bunyi lirih.
Krek.
Bunyi itu mengingatkannya pada sesuatu.
Sebuah kantong plastik lain.
Berwarna putih susu.
Berembun.
Seseorang pernah menyerahkannya kepadanya.
Di dalamnya ada jam tangan.
Dompet.
Telepon genggam.
Cincin.
***
Lalu ingatan itu putus.
Seolah seseorang mematikan listrik tepat sebelum gambar berikutnya muncul.
***
“Korban tertimpa struktur baja.”
Suara humas perusahaan terdengar datar.
“Proses evakuasi berlangsung sekitar empat puluh menit.”
Empat puluh menit.
Fira menuliskan angka itu pada buku catatan.
Beberapa saat kemudian ia melihat halaman yang sama.
Tak ada tulisan apa pun.
Ia memeriksa pena.
Tintanya masih keluar.
Ia membalik halaman.
Kosong.
Halaman berikutnya.
Kosong.
Fira memandangi ujung bolpoin cukup lama.
Baru kemudian ia sadar.
Ia belum pernah membuka buku itu.
Angka empat puluh menit tadi hanya terlintas di kepalanya.
***
Suara gerinda terdengar dari bangunan yang belum selesai.
Percikan api beterbangan.
Bau besi panas bercampur solar.
Asap tipis naik dari ujung logam yang dipotong.
Seorang pekerja melintas sambil memanggul pipa.
Langkahnya berat.
Helm putih.
Lengan baju digulung sampai siku.
Fira spontan memanggil.
“Mas…”
Lelaki itu berhenti.
Menoleh.
Bukan wajah yang ia kira.
Bukan.
Tidak pernah.
Lelaki itu mengangguk sopan sebelum kembali berjalan.
Fira baru sadar ia belum mengatakan apa-apa.
***
Di belakang ambulans, terpal biru bergoyang pelan diterpa angin.
Ia tidak mendekat.
Tubuhnya justru bergerak ke arah tempat sampah besar yang diletakkan di samping gudang.
Di sana, masker-masker bekas bercampur botol air mineral, sarung tangan robek, dan bungkus nasi.
Seekor kucing kurus melompat turun ketika melihat Fira.
Di bibir tong sampah, debu hitam mengendap lebih tebal daripada tempat lain.
Ia mengusapnya.
Sidik jarinya tertinggal jelas.
Beberapa detik kemudian, angin datang.
Sidik jari itu menghilang.
***
Sore mulai turun ketika redaksi menerima foto resmi dari perusahaan.
Korban tampak sedang tersenyum.
Foto identitas.
Kemeja biru.
Latar merah.
Fira memperbesar gambar itu.
Bukan karena wajahnya.
Melainkan karena ada noda kecil pada kerah bajunya.
Hitam.
Seukuran kepala peniti.
Ia memperbesar lagi.
Pecah menjadi piksel.
Tetap hitam.
Ia tiba-tiba teringat kemeja terakhir milik Arga.
Kemeja putih yang dijemurnya tiga hari sebelum…
Tiga hari sebelum apa?
Ia menunggu jawaban muncul.
Tak ada.
Yang muncul justru suara mesin cuci.
Berputar.
Berhenti.
Berputar lagi.
Padahal mesin cuci di rumah sudah rusak hampir dua bulan.
Baca juga: Jelaga (Bagian I)
***
Menjelang petang, kantor mulai lengang.
Berita kecelakaan sudah naik.
Headline berganti.
Redaktur lain sibuk membahas rapat esok.
Seseorang tertawa keras dari ruang iklan.
Fira masih duduk.
Monitor memantulkan wajahnya sendiri.
Di belakang pantulan itu, kaca kantor memperlihatkan cerobong pabrik yang terus mengeluarkan asap.
Ia memicingkan mata.
Ada sesuatu di pantulan monitor.
Seseorang berdiri di belakang kursinya.
Kemeja putih.
Lengan digulung.
Tangan kanan menggenggam helm.
Fira menoleh cepat.
Tak ada siapa-siapa.
Ketika kembali melihat monitor, pantulan itu pun lenyap.
Yang tersisa hanya dirinya sendiri.
Dan debu tipis di atas layar yang belum sempat dibersihkan.
Ia mengambil tisu.
Mengusap layar perlahan.
Sekali.
Dua kali.
Pada usapan ketiga, tisu berubah keabu-abuan.
Ia melipatnya.
Membuangnya ke tempat sampah.
Lima menit kemudian, ketika hendak mematikan komputer, layar itu kembali tampak kusam.
Seolah jelaga memang tidak pernah benar-benar pergi.
Di luar, sirene pergantian sif pabrik meraung panjang.
Suara itu selalu terdengar pukul enam.
Dan setiap kali suara itu datang, Fira merasa ada seseorang yang seharusnya pulang.
Tetapi tak pernah sampai di depan pintu.
(Bersambung ke Bagian III)
Fajri Sunaryo; Jurnalis Akurasi.id