
Buntut video dugaan pungli, jembatan penghubung di kawasan Pendamaran, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara dibongkar. Warga yang diduga menarik pungli khawatir mendapat masalah.
Akurasi.id, Samarinda – Pembongkaran jembatan penghubung di kawasan Pendamaran, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara membuat warga kecewa. Sebab, warga menganggap keberadaan jembatan tersebut sangat membantu mobilitas lalu lintas sehari-hari.
Pembongkaran jembatan terjadi merupakan buntut video dugaan pungli yang menimpa tim Basarnas. Saat hendak melintasi jembatan tersebut ke arah Desa Tuana Tuha dengan tujuan mencari korban tenggelam, beberapa hari lalu.
Karena warga yang diduga menarik pungli khawatir mendapat masalah, alhasil pembongkaran pun terjadi. Berbagai spekulasi dan protes pun bermunculan di dunia maya.
Warga merasa terusik atas pembongkaran jembatan, sebab keberadaannya ketika jalan putus atau rusak parah merupakan hal yang lumrah di daerah hulu, khususnya kawasan Kecamatan Kembang Janggut dan Kecamatan Kenohan. Sebab, pemerintah daerah (pemda) tidak dapat langsung memberikan bantuan dengan memperbaiki jalan ketika kerusakan terjadi atau akses terputus.
Untuk itu, biasanya warga setempat akan gotong royong membuat jembatan agar mobilisasi masyarakat dapat terus berjalan. Dengan ketentuan, ada biaya tambahan atas penggunaan fasilitas tersebut.
[irp]
Warga Mengeluh di Media Sosial
Seperti yang diungkapkan akun facebook Sekar Madu, yang menampilkan keadaan jalanan tersebut usai jembatan terbongkar. Yang mana, dengan kondisi jalan yang tidak bersahabat, tambah hujan deras merupakan bencana bagi pengemudi yang melintas.
“Kami semua yang lewat tidak menganggap Rp20 ribu sebagai uang pungli. Kalau tidak ada mereka, kami tidak bisa lewat. Mereka juga pakai modal untuk beli balok dan papan. Mereka juga pakai tenaga untuk menaruh pohon. Kemudian susun dan jadi jembatan,” keluhnya dalam keterangan tertulis di laman pribadi.
“Sungguh terlalu kita orang berpangkat tidak punya hati. Hanya karena uang Rp20 ribu, kami sengsara. Sungguh ironis,” sambungnya.
[irp]
Pemerintah Setempat akan Melakukan Pembenahan Sementara
Sementara itu, usai mendapat informasi mengenai pembongkaran jembatan, Camat Kenohan Kaspul mengatakan, bersama jajaran muspika dan beberapa kepala desa setempat langsung mendatangi lokasi untuk mengatasi kembali putusnya akses jalan tersebut.
“Hari ini saya rencana beli batu dulu. Karena jembatannya sudah habis terbongkar. Yang penting akses jalan ini bisa dilewati sambil menunggu air surut,” tuturnya.
Mengantisipasi pembahasan yang semakin meluas dan menyudutkan, Kaspul meminta, agar persoalan yang ramai jadi perbincangan hingga di media sosial berhenti sampai di sini. Menurutnya, hanya dengan memperbincangkan persoalan ini tidak membuat masalah selesai. Selain itu, ia menegaskan, akan menyampaikan persoalan akses yang terputus ini ke Bupati Kukar.
Baca Juga
“Saya masih sakit. Cuma ingat warga saya, langsung berangkat. Mudah-mudahan hari ini batu sudah masuk, kita perbaiki perlahan. Yang penting bisa lewat saja mobil-mobil,” ujarnya.
[irp]
Jalan Kerap Rusak, Hadirnya Jembatan atau Feri Dadakan Sudah Biasa di Tanah Hulu
Sebagai informasi tambahan, akses jalan di kawasan hulu memang biasanya terputus atau rusak parah ketika bencana banjir terjadi. Bahkan, banjir telah merendam kawasan tersebut sejak beberapa pekan lalu.
Terlebih, jalan di kawasan Sebelimbingan hingga Pendamaran memang dalam kondisi rusak parah, bahkan sebelum bencana banjir terjadi dan merendam jalanan. Akibat bencana banjir tersebut, akses jalan biasanya rusak parah. Bahkan tak jarang, akses menjadi terputus.
Apabila akses jalan terputus cukup panjang, warga setempat biasanya akan menggunakan jasa feri penyeberangan untuk lalu lintas dan kena tarif beragam. Namun, apabila akses yang terputus agak pendek, maka biasanya warga akan gotong royong membuat jembatan.
Anggaran maupun bahan yang digunakan biasanya swadaya, hanya dari beberapa pihak dan biasanya tidak ada dari pemda. Karena itu kena tarif apabila melintas.
Jembatan ataupun feri penyeberangan akan menghilang, ketika pemda sudah mulai turun tangan memperbaiki jalan. Turunnya pemda dalam memperbaiki akses jalan memang tidak dapat dikatakan seperti membalik telapak tangan, perlu proses. (*)
Penulis: Devi Nila Sari
Editor: Redaksi Akurasi.id
