Kaltim.akurasi.id, Bontang – Setiap tahun, jutaan warga di seluruh negeri merayakan tahun baru dengan pertunjukan kembang api yang indah. Tepat tengah malam, pertunjukan kembang api warna-warni meledak di bawah langit malam untuk menandai berakhirnya tahun dan dimulainya tahun baru. Tapi sobat akurasi.id, tahu enggak sebenarnya dari mana tradisi ini berasal?
Kembang api yang kita lihat hari ini dulunya tidak selalu terlihat semeriah sekarang. Menurut beberapa sejarawan, kembang api sudah ada sejak Dinasti Han di Tiongkok (202 SM-220 M), ketika orang-orang melemparkan batang bambu ke dalam api untuk menghasilkan ledakan.
Namun, ada perdebatan tentang kapan hal itu dimulai. Sejarawan lain mengaitkan asal-usulnya dengan Dinasti Song di Tiongkok (960-1279 M), di mana orang-orang membuat petasan menggunakan tabung yang terbuat dari lembaran kertas yang digulung berisi bubuk mesiu dan sumbu. Mereka juga merangkai petasan-petasan ini menjadi ukuran yang lebih besar dan menyalakannya.
Pada masa itu, kembang api mengiringi banyak perayaan, termasuk pernikahan, kelahiran, dan perayaan lainnya untuk mengusir roh jahat. Pada abad ke-14, kembang api telah sampai ke Eropa, dan semakin populer di wilayah tersebut pada abad ke-17.
Berbagai produk kembang api kemudian mulai tersedia secara luas pada tahun 1830-an. Selama Renaisans Italia (1340-1550), kembang api menjadi populer berkat para ahli kembang api yakni orang-orang yang bertanggung jawab atas eksperimen dan pertunjukan kembang api. Sekitar waktu itulah kembang api dengan berbagai warna mulai dikembangkan.
Baca Juga
Sekolah piroteknik dibuka untuk mengajarkan generasi muda cara menguasai keahlian baru yang menarik ini. Di Amerika Serikat, para pemukim awal membawa kecintaan mereka pada kembang api dan kemudian membawanya menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan pertama. Oleh karenanya, pesta kembang api menjadi sebuah tradisi yang berlanjut setiap tanggal 4 Juli di AS.
Mengapa tahun baru juga harus dirayakan dengan kembang api?
Meskipun tidak ada jawaban yang pasti, beberapa sejarawan percaya bahwa kembang api mengalami perkembangan dari yang awalnya digunakan untuk perayaan hingga menjadi bagian penting dalam perayaan Malam Tahun Baru. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh keinginan universal manusia untuk menandai momen-momen penting dengan kemegahan.
Baca Juga
Perayaan yang melibatkan indra ini menandai akhir tahun dengan rasa kagum dan takjub, serta awal yang baru dengan kegembiraan dan hiburan, menjadikannya pilihan populer untuk menandai acara tersebut. Menurut Encyclopedia Britannica, bangsa Romawi mengambil nama bulan Januari dari dewa mereka, Janus, yang memiliki dua wajah, satu menghadap ke belakang dan yang lainnya ke depan. Para ahli percaya bahwa ini juga bisa menjadi salah satu alasan mengapa tradisi mempraktikkan resolusi Tahun Baru menjadi populer, hingga saat ini termasuk di Indonesia.
Pertunjukan kembang api pertama di Indonesia memang tidak ada tanggal pasti, tapi diperkirakan masuk dari pendatang Tiongkok pada abad ke-18 dan berkembang pesat saat masa kolonial Belanda. Perayaan kembang api mulanya dipakai untuk perayaan ulang tahun Ratu Belanda.
Tradisi ini kemudian menyatu dengan budaya lokal, terutama dalam perayaan Tahun Baru. Tidak heran, pesta kembang api menjadi bagian tak terpisahkan dari kemeriahan, seperti yang dijelaskan dalam buku Alwi Sahab, dan diadopsi secara luas di berbagai wilayah. (*)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Redaksi Akurasi.id
