Konflik AS–Iran Memanas, Kemenhaj Kaltim Imbau Jemaah Tak Paksakan Berangkat Umrah

Kemenhaj Kaltim imbau jemaah tak paksakan berangkat umrah, menyusul memanasnya konflik AS-Iran.
Devi Nila Sari
1k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berdampak pada meningkatnya risiko keamanan penerbangan di kawasan Timur Tengah.

Menindaklanjuti hal ini, Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umroh Kalimantan Timur, mengimbau calon jemaah umrah agar tidak memaksakan keberangkatan dan mengikuti arahan maskapai penerbangan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kanwil Kemenhaj dan Umroh Kaltim, Mohlis Hasan, mengatakan pihaknya telah menerima arahan lisan dari pemerintah pusat terkait situasi global yang berkembang, khususnya menyangkut keamanan penerbangan internasional.

“Ada imbauan dari kementerian haji dan umrah agar jemaah mengikuti arahan maskapai. Maskapai yang paling tahu kondisi keamanan penerbangan di lapangan,” tutur Mohlis, di Samarinda, Selasa (3/3/2026).

- Advertisement -
Ad image

Ia menegaskan, keputusan berangkat atau menunda sebaiknya mempertimbangkan faktor keselamatan. Menurutnya, tidak ada kewajiban untuk memaksakan perjalanan ibadah jika kondisi keamanan belum dapat dipastikan.

“Kalau belum yakin aman, lebih baik ditunda, yang terpenting keselamatan perjalanan,” tegasnya.

Mohlis mengungkapkan, sejumlah negara di sekitar Arab Saudi telah menutup wilayah udaranya sebagai dampak eskalasi konflik. Sementara itu, hingga kini belum ada data valid mengenai jumlah jemaah umrah asal Kaltim yang sedang berada di Tanah Suci maupun yang akan berangkat dalam waktu dekat.

“Kami belum punya data pasti. Jemaah umrah ini berbeda dengan haji. Banyak yang berangkat tidak melalui Kaltim, tapi lewat daerah lain seperti Kalteng, Banjarmasin, bahkan Jakarta. Di sini tercatatnya hanya jalan-jalan, baru nanti di imigrasi tercatat sebagai jemaah umrah,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi ini menyulitkan pendataan karena tidak semua biro perjalanan melaporkan keberangkatan jemaah. Terlebih, menjelang 10 hari terakhir Ramadan, intensitas umrah biasanya meningkat tajam.

“Kadang jemaah sudah terpanggil secara batin, tidak terlalu memikirkan risiko. Selama ada pesawat, mereka berangkat,” ujarnya.

Padahal, kata Mohlis, dalam ketentuan ibadah haji maupun umrah terdapat syarat utama yang harus dipenuhi, yakni sehat, mampu secara finansial, dan perjalanan yang aman.

“Kalau sehat dan mampu tapi perjalanan tidak aman, maka kewajiban itu gugur. Keselamatan itu syarat utama,” katanya. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }