Hutan Kaltim Tergerus 175 Ribu Hektare, Rudy Mas’ud: “Hutan Kita Masih Luas”

Data global menunjukkan Kaltim kehilangan tutupan hutan paling besar di Indonesia, namun Rudy Mas’ud menilai provinsi ini masih memiliki hutan yang luas. Ia menyerukan perlunya strategi baru untuk menahan laju deforestasi yang kini didominasi oleh industri sawit, tambang, dan pembangunan.
Fajri
By
3.3k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda — Kalimantan Timur kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru mencatat provinsi ini sebagai penyumbang deforestasi tertinggi di Indonesia pada 2024. Total kehilangan hutan netto mencapai 175,4 ribu hektare, berasal dari deforestasi bruto 216,2 ribu hektare dikurangi reforestasi seluas 40,8 ribu hektare.

Sebagian besar kehilangan tutupan hutan, sekitar 92,8 persen terjadi pada hutan sekunder. Adapun 69,3 persen hilangnya hutan berada di dalam kawasan hutan. Ekspansi perkebunan sawit, pertambangan, penebangan liar, serta pembangunan infrastruktur, termasuk proyek Ibu Kota Negara (IKN), disebut sebagai faktor pemicu utama.

Data Global Forest Watch mencatat bahwa sepanjang 2001–2024, Kaltim telah kehilangan 3,1 juta hektare tutupan pohon, atau setara 27 persen dari total tutupan pohon tahun 2000. Dua wilayah menjadi penyumbang terbesar, dengan Kutai Timur berada di posisi teratas melalui kehilangan sekitar 920 ribu hektare, atau 51 persen dari total kehilangan di provinsi ini.

Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, mengakui tekanan terhadap kawasan hutan masih tinggi. Meski demikian, ia menilai Kaltim tetap memiliki cadangan hutan yang luas dan harus dikelola secara berkelanjutan.

“Hutan kita masih sangat luas, sekitar 8,5 juta hektare. Saat ini kegiatan sektor kehutanan sedikit melambat karena harga kayu murah. Kita berdoa agar hutan kita tetap terjaga,” ujar Rudy, Selasa (25/11/2025).

Namun ia menegaskan perlambatan sektor kehutanan tidak otomatis mengurangi risiko deforestasi. Menurutnya, tekanan justru lebih besar datang dari industri ekstraktif lain seperti perkebunan dan pertambangan.

“Perlambatan kegiatan kehutanan saja tidak cukup. Kita membutuhkan strategi baru untuk menekan pembukaan lahan, terutama yang memicu hilangnya hutan sekunder,” tegasnya.

Rudy menutup dengan menekankan pentingnya langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. “Ini bukan hanya soal data tahunan, tetapi tentang masa depan lingkungan dan generasi mendatang,” jelasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }