Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular pernapasan yang mirip Covid-19 dan kematian per tahunnya lebih tinggi dari Covid-19. Penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan amat penting.
Kaltim.akurasi.id, Bontang – Temuan kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Bontang terbilang cukup tinggi. Data Dinas Kesehatan menunjukkan, hingga Mei 2024 ada sebanyak 222 warga Kota Bontang dinyatakan positif tuberkulosis. Pasien didominasi usia dewasa sebanyak 140 orang, anak-anak 59 orang, dan lansia sebanyak 23 orang. Bahkan, tiga pasien diantaranya dinyatakan meninggal dunia. Angka temuan tersebut diperkirakan akan terus bertambah.
Koordinator Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Bontang, Nur Ilham melalui penanggung jawab program TB, Astika Putri mengatakan, penanganan penyakit menular ini (tuberkulosis-red) perlu dijadikan prioritas. Pasalnya, TBC telah menjadi penyakit menular paling mematikan urutan kedua setelah Covid-19.
Jika menilik data yang ada, jumlah pasien tuberkulosis di Kota Bontang tahun 2023 sebanyak 933 orang. Pasien juga didominasi kelompok usia dewasa dengan jumlah laki-laki sebanyak 310 orang, dan perempuan sebanyak 211 orang. Anak laki-laki sebanyak 186 pasien, dan anak perempuan 162 pasien. Untuk lansia lansia laki-laki sebanyak 50 pasien, dan perempuan sebanyak 14 orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan dari tahun 2021 yang sebanyak 438 kasus dan 2022 sebanyak 715 kasus.
“Pasien yang meninggal sebanyak 14 orang di tahun 2023,” kata Astika kepada wartawan Akurasi.id, Selasa (21/5/2024).
Baca Juga
“Penemuan kasus tersebut merupakan akumulasi dari seluruh fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) yang tersebar di masing-masing wilayah dan program lainnya yang dilakukan oleh Dinkes,” sambungnya.
Dia bilang, rendahnya angka temuan kasus di tahun 2021 akibat penyebaran wabah virus Covid-19, yang menyebabkan penurunan jumlah pasien yang melapor di fasyankes, dan terhambatnya program aktif yang seharusnya dilakukan oleh Dinkes Bontang.
“Semakin tinggi jumlah penemuan itu justru semakin baik, artinya upaya kita untuk menjaring pasien itu semakin maksimal,” imbuhnya.
Baca Juga
Astika menjelaskan, tuberkulosis adalah penyakit menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis, umumnya menyerang paru-paru, tetapi bisa juga menyerang organ lain seperti ginjal, tulang belakang dan otak.
“Penularan TB terjadi akibat seseorang secara tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) saat seseorang yang terinfeksi TB bersin atau batuk,” ujarnya.
Umumnya, gejala yang akan dialami oleh pasien TBC yakni batuk hingga 3 minggu dan dapat disertai dahak atau darah. Selain itu, gajala lainnya seperti demam, nyeri dada, dan berkeringan di malam hari.
Pengobatan pasien TBC sendiri memerlukan waktu yang cukup lama, yakni kisaran 6 sampai 12 bulan. “Tergantung kondisi dan kepatuhan pasien untuk menjalani perawatan,” katanya.
Kata dia, sejauh ini Dinkes Bontang terus berupaya melakukan temuan kasus pasien tuberkulosis. Diketahui, ada dua cara yang dilakukan Dinkes untuk menjaring pasien yakni secara pasif dan aktif. Cara pasif melalui data penemuan di fasyankes, sedangkan aktif yakni menjemput bola dengan memberi layanan pengecekan kesehatan langsung kepada masyarakat.
“Kalau di fasyankes itu kan pasien yang datang dengan keluhan, sedangkan kalau secara aktif kita melakukan program tertentu, atau bekerjasama dengan instansi lain seperti di layanan posyandu atau program lansia, program kesehatan ibu dan anak (KIA) atau turun langsung kerumah warga,” jelasnya.
Sebagai infomasi, berikut sebaran kasus tuberkulosis per Kelurahan di Kota Bontang pada tahun 2023:
Kecamatan Bontang Utara:
- Api-api: 67 kasus
- Bontang Baru: 43 kasus
- Bontang Kuala: 30 kasus
- Gunung Elai: 52 kasus
- Lok Tuan: 95 kasus
- Guntung: 42 kasus
Kecamatan Bontang Selatan:
- Satimpo: 30 kasus
- Tanjung Laut: 75 kasus
- Tanjung Laut Indah: 59 kasus
- Berbas Pantai: 52 kasus
- Berbas Tengah: 53 kasus
- Bontang Lestari: 35 kasus
Kecamatan Bontang Barat:
- Belimbing: 48 kasus
- Gunung Telihan: 50 kasus
- Kanaan: 23 kasus
Sebaran kasus tuberkulosis per Kelurahan di Kota Bontang pada tahun 2022:
Kecamatan Bontang Utara:
- Api-api: 51 kasus
- Bontang Baru: 31 kasus
- Bontang Kuala: 30 kasus
- Gunung Elai: 37 kasus
- Lok Tuan: 92 kasus
- Guntung: 30 kasus
Kecamatan Bontang Selatan:
- Satimpo: 26 kasus
- Tanjung Laut: 74 kasus
- Tanjung Laut Indah: 39 kasus
- Berbas Pantai: 35 kasus
- Berbas Tengah: 71 kasus
- Bontang Lestari: 19 kasus
Kecamatan Bontang Barat:
- Belimbing: 43 kasus
- Gunung Telihan: 46 kasus
- Kanaan: 17 kasus
Sebaran kasus tuberkulosis per Kelurahan di Kota Bontang pada tahun 2021:
Kecamatan Bontang Utara:
- Api-api: 44 kasus
- Bontang Baru: 18 kasus
- Bontang Kuala: 9 kasus
- Gunung Elai: 19 kasus
- Lok Tuan: 56 kasus
- Guntung: 19 kasus
Kecamatan Bontang Selatan:
- Satimpo: 17 kasus
- Tanjung Laut: 52 kasus
- Tanjung Laut Indah: 31 kasus
- Berbas Pantai: 22 kasus
- Berbas Tengah: 39 kasus
- Bontang Lestari: 14 kasus
Kecamatan Bontang Barat:
- Belimbing: 20 kasus
- Gunung Telihan: 32 kasus
- Kanaan: 16 kasus
Penulis: Nuraini
Editor: Redaksi Akurasi.id
