Tradisi Lebaran Unik di Kaltim, Warisan Budaya yang Tetap Lestari

Berikut beberapa tradisi warga Kaltim saat menyambut Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini tidak hanya bersifat hiburan, namun memiliki makna spiritual dan kebersamaan.
Devi Nila Sari
2k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Perayaan Hari Raya Idulfitri di Kalimantan Timur (Kaltim) tidak hanya identik dengan salat Id dan silaturahmi keluarga. Lebih dari itu, masyarakat di wilayah ini juga memiliki beragam tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun dan masih terus dilestarikan hingga kini.

Tradisi Lebaran di Kaltim umumnya berakar kuat pada budaya pesisir dan sungai, terutama di sepanjang aliran Sungai Mahakam. Kehidupan masyarakat yang dekat dengan sungai membentuk berbagai tradisi khas yang sarat nilai religi, budaya, dan kebersamaan.

Berikut tradisi Lebaran di Kaltim.

1. Festival Ketupat

- Advertisement -
Ad image
Festival Ketupat Samarinda
Festival Ketupat Samarinda, lambang lambang kebersamaan dan saling memafkan. (Ist)

Di Samarinda terdapat tradisi Festival Ketupat yang menjadi daya tarik tersendiri saat Lebaran. Tradisi ini berpusat di kawasan Samarinda Seberang, yang dikenal sebagai Kampung Ketupat. Warga setempat yang mayoritas pengrajin ketupat memanfaatkan momen ini untuk merayakan hari raya dengan penuh kemeriahan.

Festival Ketupat biasanya digelar pada minggu pertama setelah Idulfitri. Berbagai kegiatan seperti arak-arakan, lomba, hingga makan bersama menjadi bagian dari perayaan. Ketupat yang menjadi simbol Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai makanan, tetapi juga lambang kebersamaan dan saling memaafkan.

2. Tradisi Leduman

Tampak beberapa pemuda saat menyalakan leduman di pinggir sungai. (Ist)

Di wilayah Berau dan Kutai Barat, masyarakat juga memiliki tradisi unik yang dikenal sebagai Leduman atau meriam karbit. Tradisi ini biasanya dilakukan saat malam takbiran atau menjelang waktu berbuka puasa selama Ramadan.

Meriam yang terbuat dari kayu besar atau bambu diisi dengan karbit dan dinyalakan hingga menghasilkan suara dentuman keras. Suara tersebut menggema di sepanjang sungai dan menjadi penanda suka cita menyambut Lebaran. Selain sebagai hiburan, tradisi ini juga menjadi simbol semangat kebersamaan masyarakat.

3. Tradisi Beseprah

Tampak masyarakat menikmati hidangan sambil duduk bersama. (Ist)

Tidak kalah menarik, masyarakat Kutai juga memiliki tradisi Beseprah, yakni makan bersama dalam satu hamparan panjang. Tradisi ini biasanya dilakukan setelah salat Id, di mana masyarakat duduk bersama menikmati berbagai hidangan khas. Beseprah mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang kuat.

4. Konvoi Takbiran

Konvoi takbiran dengan obor masih dilakukan di sejumlah daerah di Kaltim. (Ilustrasi)

Konvoi takbiran menyambut Idulfitri masih dibudayakan di sejumlah kabupaten atau kota di Kaltim, seperti Samarinda, Bontang atau Kutai Kartanegara. Meski ini merupakan kebiasaan yang umum, namun beberapa daerah memiliki ciri khas atau kebiasaan masing-masing.

Beberapa daerah di provinsi ini masih melakukan konvoi dengan membawa obor untuk menyambut Idulfitri. Namun, ada pula yang melakukan konvoi dengan menghias kendaraan, menyalakan kembang api, sambil berkeliling menggemakan takbir. Konvoi dilakukan sebagai bentuk suka cita, kegembiraan, dan kebersamaan dalam menyambut Idulfitri.

Tradisi Lain Saat Lebaran

Selain tradisi unik di atas, berikut beberapa kebiasaan yang turut terjadi atau dilakukan saat Lebaran.

1. Non Muslim Ramaikan Lebaran

Keberagaman budaya di Kaltim juga memperlihatkan tingginya toleransi antar umat beragama. Masyarakat suku Dayak atau non muslim misalnya, turut berpartisipasi dalam suasana Lebaran melalui tradisi open house. Mereka membuka rumah bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi, tanpa memandang latar belakang agama.

2. Halal Bihalal

Hal ini memperkuat makna Lebaran sebagai momen mempererat hubungan sosial. Tidak hanya antar sesama Muslim, tetapi juga lintas budaya dan kepercayaan.

Tradisi halal bihalal juga menjadi agenda rutin di berbagai daerah di Kaltim, terutama di kota-kota besar. Kegiatan ini biasanya melibatkan instansi pemerintahan, perusahaan, hingga komunitas masyarakat sebagai ajang saling memaafkan.

3. Ziarah Kubur

Selain itu, tradisi ziarah kubur juga menjadi bagian penting dari rangkaian Lebaran. Masyarakat mengunjungi makam keluarga untuk mendoakan leluhur, sekaligus mengingatkan akan nilai kehidupan dan kebersamaan.

Beragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa Lebaran di Kaltim bukan sekadar perayaan keagamaan. Lebih dari itu, momen ini menjadi ruang pelestarian budaya yang kaya akan makna.

Di tengah arus modernisasi, masyarakat Kaltim tetap berupaya menjaga tradisi agar tidak hilang. Generasi muda pun mulai dilibatkan dalam berbagai kegiatan budaya, sehingga warisan ini tetap hidup dan berkembang.

Dengan kekayaan tradisi yang dimiliki, Kaltim menawarkan pengalaman Lebaran yang berbeda dan penuh warna. Tradisi seperti Festival Ketupat hingga Leduman, menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Lebaran di Kaltim pun menjadi lebih dari sekadar hari kemenangan, melainkan juga perayaan harmoni antara budaya, religi, dan kebersamaan yang terus terjaga dari generasi ke generasi. (*)

Penulis: Pewarta
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana