Turunkan Angka Stunting, Sekda Kaltim Minta Masyarakat Gunakan Pangan Lokal

Devi Nila Sari
112 Views

Sedaprov Kaltim minta masyarakat manfaatkan pangan lokal yang bergizi seperti ubi dan jelai untuk turunkan angka stunting.

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Prevalensi stunting di Kalimantan Timur menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting di Kalimantan Timur tercatat mencapai 22,9 persen pada 2023. Angka ini turun apabila dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 23,9 persen.

Sementara itu, apabila menilik data e-PPGBM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) angka stunting di Kaltim mencapai 18,3 persen per Desember 2023 dan 14,5 persen per Juni 2024.

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Kaltim, Sri Wahyuni mengatakan, salah satu langkah yang ditempuh untuk menurunkan angka tersebut adalah dengan memberikan anak-anak makanan yang bergizi.

- Advertisement -
Ad image

Menurutnya, makanan bergizi tidak hanya bisa didapatkan dari makanan luar dengan harga mahal. Namun dapat pula ditemukan dari panganan lokal yang berasal dari berbagai daerah di Benua Etam.

“Masing-masing kabupaten atau kota punya keunggulan sendiri. Misalnya di Kutai Barat atau Mahakam Ulu itu mereka punya yang namanya jelai. Kemudian di daerah lain juga ada ubi,” tuturnya saat diwawancarai di Samarinda, Rabu (14/8/2024).

Pangan Lokal Bisa Dimodifikasi jadi Bahan Berkarbohidrat

Saat ini, berbagai pangan berbahan dasar nasi sudah banyak dimodifikasi menggunakan bahan berkarbohidrat lain. Ia bahkan pernah menemui nasi goreng menggunakan bahan pisang gepok. Atau sushi, makanan berasal dari Jepang, berbagai dasar dari ubi kayu. Saat di cicipi, menurutnya rasanya pun tidak berbeda jauh dengan nasi.

Ia berharap, ada banyak lagi menu yang bisa dikembangkan. Yang kemudian dapat disosialisasikan kepada masyarakat untuk menurunkan stunting.

Apabila hal itu dapat dilakukan, maka ia optimis angka pravelansi stunting dapat diturunkan. Kendati demikian, cita-cita ini masih membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.

Selain itu, ia meminta agar ekosistem pangan lokal terus dijaga.

“Jangan sampai bahan itu tidak tersedia dalam waktu lama. Jadi sudah ada upaya ciptakan diverifikasi pangan non beras tapi hulunya harus disiapkan,” pungkas Sri. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana