Kaltim.akurasi.id, Bontang – Baru memulai awal tahun 2026, dunia maya Indonesia sudah diramaikan dengan gelombang kalimat absurd yang mendadak viral di TikTok, X, dan Instagram. Frasa-frasa seperti “adalah pokoknya”, “atur sebrengsek mungkin”, “plenger final boss”, serta “sewajarnya manusia aja” menjadi senjata utama warganet untuk mengekspresikan segala hal dari sindiran halus, kekesalan, hingga humor absurd yang bikin ngakak sendiri. Fenomena ini bukan sekadar tren sementara, melainkan cerminan kreativitas bahasa gaul Gen Z dan Milenial yang semakin liar di masa kini.
Adalah Pokoknya
Salah satu yang paling mendominasi yaitu “adalah pokoknya”. Frasa ini sering muncul sebagai respons santai terhadap pertanyaan atau pernyataan yang terlalu serius atau bertele-tele. Misalnya, kalau ada yang nanya “Kok gini sih hidupnya tahun ini?”, komen warganet akan menjawab “adalah pokoknya.”
Kalimat ini netizen juga mengaitkannya dengan dialog viral berantai seperti “jangan terlalu diiniin, apa sih namanya?” yang dijawab “adalah pokoknya.” Dalam hitungan hari, frasa ini banjir di caption TikTok, X, bahkan jadi sound original yang dipakai ribuan video. Maknanya sederhana yakni menerima kenyataan apa adanya tanpa perlu penjelasan panjang lebar. Simpelnya jadi seperti versi kekinian dari “ya sudahlah” atau “emang gitu”.
Atur Sebrengsek Mungkin
Kata viral selanjutnya yakni “atur sebrengsek mungkin”, yang lebih pedas dan penuh emosi. Kata ini biasanya keluar ketika seseorang muak dengan situasi yang tak terkendali atau orang yang seenaknya sendiri. Contoh: “Orang itu atur sebrengsek mungkin aja hidupnya!”. Artinya kurang lebih “atur sesesat, sebrengsek, semaunya mungkin.”
Biasanya ekspresi ini akibat kekesalan maksimal terhadap kekacauan atau sikap tak bertanggung jawab. Frasa ini sering muncul di komentar berita politik, drama selebgram, atau curhatan pribadi soal hubungan toxic. Viralnya membuat banyak netizen pakai variasi seperti “atur seplenger mungkin” untuk nuansa lebih absurd lagi.
Plenger Final Boss
Ada juga yang lebih ikonik yakni “plenger final boss” jadi julukan buat orang atau tingkah yang sudah di level “raja absurd”. Kata “plenger” sendiri berasal dari konten kreator TikTok seperti BANGDO7, yang menggambarkan perilaku random, tidak jelas, tapi overpower.
Kalau seseorang melakukan hal-hal gila berulang-ulang tanpa ada yang bisa ngalahin, dia disebut “plenger final boss” bos akhir yang tak terkalahkan dalam keanehan. Contoh: “Padahal nggak ada yang mention dia di kasus ini, tapi dia sendiri yang muncul dan marah-marah tidak jelas. Memang dasar plenger final boss!”
Jangan Diiniin Banget
Ada juga frasa “jangan diiniin banget” yang dipakai ketika orang yang saling berkomunikasi sudah saling paham artinya tanpa perlu dijelaskan. Kata “diiniin” menjadi pengganti kata yang harusnya diungkapkan, tetapi pembicaranya lupa. Justru di situlah titik lucunya yang mengundang gelak tawa netizen hingga akhirnya menjadi viral.
Sewajarnya Manusia Aja
Terakhir, “sewajarnya manusia aja” menjadi salah satu istilah absurd warganet 2026 ini. Kalimat ini sering dipakai untuk menjawab overekspektasi atau kritik berlebihan. Misalnya, kalau ada yang judge orang biasa karena enggak sempurna, biasanya akan dijawab dengan kalimat “sewajarnya manusia ajalah, enggak usah terlalu dijadiin standar dewa.” Ini frasa yang humble sekaligus nyindir yang mengingatkan bahwa semua orang punya batas kewajaran sebagai manusia.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia terus berevolusi di tangan netizen. Di tengah banjir informasi dan tekanan hidup awal 2026 seperti bencana alam dan isu kesehatan, warganet memilih humor absurd sebagai pelarian. Kalimat ini lahir dari kreativitas di mana ada satu orang bikin, yang lain remix, lalu meledak jadi tren massal.
Tapi, di balik lucunya, ada sisi menyembuhkan atau yang disebut coping mechanism. Saat realitas terasa berat, bahasa muncul sebagai pelarian untuk meredam stres. “Adalah pokoknya” mengajarkan menerima, “atur sebrengsek mungkin” meluapkan amarah, “plenger final boss” merayakan keunikan, dan “sewajarnya manusia aja” mengingatkan untuk tak terlalu keras pada diri sendiri atau orang lain.
Tahun 2026 baru dimulai, tapi sudah jelas kreativitas bahasa warganet Indonesia tak pernah kehabisan bahan bakarnya. Bisa jadi, di bulan-bulan selanjutnya akan ada frasa baru yang lebih absurd lagi. Sembari menunggu, ya sudahlah ya mari kita nikmati saja ininya, adalah pokoknya. (*)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi