Makam Bocah 14 Tahun di Samarinda Dibongkar, Status WhatsApp Bongkar Kejanggalan Kematian

Sebuah status WhatsApp mengubah kasus kematian seorang bocah 14 tahun di Samarinda dari “wafat wajar” menjadi dugaan kekerasan. Polisi kini membongkar makam korban untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada malam sebelum ia meninggal.
Fajri
By
2.8k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda — Polresta Samarinda melakukan pembongkaran makam seorang bocah berusia 14 tahun di salah satu TPU, Jumat (21/11/2025). Langkah ekshumasi ini diambil untuk menelusuri ulang penyebab kematian korban setelah keluarga melaporkan dugaan kekerasan yang diduga terjadi sebelum ia meninggal.

Tim forensik RSUD Abdul Wahab Sjahranie langsung melakukan pemeriksaan sesaat setelah jenazah diangkat. Dokter Forensik RSUD AWS, Kristina Uli, menyebut kondisi tubuh korban telah mengalami perubahan signifikan akibat proses pembusukan.

“Jaringan sudah banyak mengalami peluruhan. Beberapa persendian juga terlepas karena proses alami,” jelas Kristina.

Meski demikian, tim tetap mengambil sejumlah sampel untuk pemeriksaan laboratorium. Ia menegaskan hasil laboratorium menjadi faktor penentu apakah terdapat indikasi kekerasan atau penyebab lain yang mempengaruhi kematian korban. Proses analisis diperkirakan selesai dalam dua pekan.

- Advertisement -
Ad image

Kasus ini kembali mengemuka setelah sebuah unggahan status WhatsApp memicu kecurigaan keluarga. Teman korban menulis, “Aku ikhlas dengan kepergianmu, tapi aku tidak ikhlas dengan cara kematianmu,” sehingga keluarga kembali mempertanyakan penyebab kematian yang sebelumnya dianggap wajar.

Unggahan itu membuat keluarga melapor ke polisi, hingga proses penyelidikan yang tadinya hanya memandang kematian korban sebagai peristiwa biasa berubah arah menjadi dugaan kekerasan anak terhadap anak.

Kasat Reskrim Polresta Samarinda, AKP Agus Setyawan, mengatakan pihaknya membuka kembali rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal. Ekshumasi dilakukan setelah laporan resmi keluarga diterima.

“Kami dalami dugaan adanya perkelahian pada malam sebelum korban meninggal,” jelasnya.

Polisi juga telah memeriksa tujuh saksi, sebagian besar teman sebaya korban. Beberapa di antaranya mengaku berada di lokasi saat peristiwa yang diduga terkait dengan kematian korban terjadi.

Namun demikian, polisi belum dapat menyimpulkan adanya tindak pidana.

“Kami menunggu hasil laboratorium untuk memastikan apakah kematiannya berkaitan dengan kekerasan atau faktor lain,” tegas Agus. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana