Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Gangguan operasional eskalator di Pasar Pagi Samarinda terus terjadi dalam sepekan terakhir. Pedagang maupun pengunjung mengeluhkan eskalator kerap mati saat jam operasional pasar, tanpa adanya informasi dari pengelola.
Alhasil, hal ini membuat pengunjung kecewa. Lantaran tidak terbilang mudah untuk menjelajahi bangunan setinggi tujuh lantai itu.
Padahal, gedung pasar pagi tersebut masih terbilang sangat baru, bahkan belum diresmikan secara oleh Wali Kota Samarinda, Andi Harun.
Abi, pedagang jasa servis perhiasan di Pasar Pagi, mengatakan eskalator yang bermasalah tidak seluruhnya mati, melainkan hanya salah satu arah.
“Yang naik jalan, yang turun mati. Di sisi lain kebalikannya,” ungkap Abi, Selasa (27/1/2026)
Kondisi tersebut berlangsung sekitar satu minggu dan muncul pada jam-jam tertentu. Ia menilai situasi ini membingungkan, terutama bagi pengunjung yang membawa barang atau sudah lanjut usia.
“Biasanya siang. Ada jam-jamnya, tiba-tiba berhenti,” ujarnya.
Abi menegaskan, tidak ada pemberitahuan resmi dari petugas pasar terkait penyebab gangguan eskalator tersebut. Dia juga tidak mengetahui apakah kerusakan disebabkan persoalan teknis, pemeliharaan, atau pengurangan daya listrik.
Baca Juga
“Enggak ada pengumuman apa-apa. Memang tiba-tiba begitu aja,” imbuhnya.
Di hari yang sama, Abi menyebut, kedua eskalator kembali berfungsi normal. Namun, dirinya tidak mengetahui apakah perbaikan dilakukan karena laporan pedagang atau karena sorotan di media sosial.
“Hari ini jalan dua-duanya mati. Entah kenapa,” ucapnya.
Selain eskalator, Abi juga mengungkap, adanya keluhan terkait lift pasar yang disebut-sebut kadang tidak dapat digunakan. Meski ia sendiri tidak pernah menggunakan lift, informasi tersebut ia dengar dari pengunjung lain.
“Katanya kadang enggak bisa dipakai. Mungkin masih baru, ada trouble sedikit,” terangnya.
Apalagi, lanjut dia, saat ini ada pembatasan jam kunjungan pengunjung yang dinilai merugikan pedagang. Ia mengatakan, sekitar pukul 17.00 Wita, pengunjung diminta meninggalkan area pasar melalui pengeras suara.
Baca Juga
“Jam lima sudah dikoar-koar pakai mic, pengunjung disuruh pulang,” ungkapnya.
Sementara itu, aktivitas pedagang disebut tidak dibatasi secara tegas, meski ada teguran untuk menutup lapak sekitar pukul 17.30 hingga 18.00 Wita. Abi menilai, kebijakan tersebut kurang mempertimbangkan jenis usaha tertentu.
“Kalau servis perhiasan kan butuh waktu. Kadang orang antre, minta selesai hari itu juga. Kalau dibatasi, ya susah,” pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari