Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – PIC Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru Nur Lampu dari Yayasan Bakti Benua Taka, Yedy Kusuma, menyebut dugaan sementara gangguan kesehatan yang dialami 25 siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) berasal dari menu puding yang dipasok pelaku UMKM.
“Bukan dari produk dapur kami. Makanan itu kita pesan ke UMKM, dan ini menjadi evaluasi kami ke depan karena mungkin ada item-item yang rentan,” kata Yedy.
Ia menegaskan, sejauh ini tidak ditemukan persoalan pada makanan yang diolah langsung di dapur SPPG. Program MBG pun masih berjalan sambil menunggu arahan lebih lanjut dari pihak terkait.
“Kalau dari produk dapur, sejauh ini tidak ada masalah. Untuk operasional besok, belum ada informasi penghentian, jadi masih tetap berjalan,” ujarnya.
Yedy menjelaskan, sebelum menjalin kerja sama, pihaknya telah melakukan proses penyaringan terhadap pelaku UMKM, termasuk menelusuri aspek legalitas serta rekam jejak produksi. Ia menyebut, UMKM yang memasok puding tersebut juga telah mendukung penyediaan makanan di beberapa dapur lain.
Baca Juga
“Dari awal proses sudah kita lakukan filterisasi. Legalitasnya kita cek, proses produksinya seperti apa. UMKM ini juga sudah mensupport beberapa dapur lain,” jelasnya.
Dari total 1.040 porsi makanan yang disiapkan, sebanyak 1.017 porsi didistribusikan ke sekolah. Dari jumlah tersebut, sekitar 25 siswa dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan dan masih dalam proses kajian lebih lanjut.
“Yang bermasalah kurang lebih 25 orang. Yang lain tidak ada masalah,” katanya.
Baca Juga
Yedy menduga persoalan kemungkinan terjadi pada masa tenggang atau ketahanan makanan sebelum dikonsumsi. Namun, untuk memastikan penyebab pasti, seluruh sampel makanan telah diamankan untuk pemeriksaan lanjutan.
“Sampel makanan ada dan semuanya disiapkan untuk pemeriksaan,” ujarnya.
Terkait aspek perizinan, Yedy menyampaikan dapur SPPG Waru Nur Lampu baru beroperasi sekitar satu minggu. Proses pengurusan Sertifikat Laik Higiene (SLH) masih berjalan, namun menurutnya regulasi memperbolehkan operasional berjalan beriringan dengan proses administrasi tersebut.
“Karena kami baru operasional satu minggu, proses SLH masih berjalan. Tapi secara regulasi tidak masalah, operasional dan proses perizinan berjalan bersamaan,” jelasnya.
Ia juga menyebut laporan gangguan kesehatan hanya terjadi di satu sekolah dasar, sementara di tingkat TK dan SMA tidak ditemukan kasus serupa.
“Tidak ada masalah di TK maupun SMA. Hanya di SD saja,” katanya.
Baca Juga
Terkait bentuk tanggung jawab, Yedy mengatakan pihaknya akan menggelar rapat internal untuk menentukan langkah lanjutan sesuai arahan yang diterima. Saat ini, fokus utama pihaknya adalah memastikan kondisi seluruh siswa telah pulih.
“Yang penting penanganan sudah selesai, anak-anak sudah sembuh dan kembali beraktivitas. Setelah ini kami akan rapat untuk menentukan langkah selanjutnya sesuai arahan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, sebagai PIC mitra, Yedy bertugas merekomendasikan bahan baku serta pemasok yang akan digunakan dalam operasional dapur SPPG. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id