Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengakui distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya combine harvester, belum merata di seluruh Brigade Pangan (BP). Kondisi ini membuat sebagian petani masih harus menyewa alat panen untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Kepala Bidang Pertanian Distan PPU, Mahfud Hadi, mengatakan kebutuhan alsintan roda empat seperti traktor dan rotavator relatif telah terpenuhi. Namun, ketersediaan combine harvester masih terbatas.
“Dari total 29 Brigade Pangan, baru empat yang mendapatkan combine. Satu unit dari tahun lalu, dan tiga unit baru saja didistribusikan ke Babulu, Waru, dan Penajam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sekitar 25 Brigade Pangan lainnya masih mengusulkan bantuan serupa, meski tidak semuanya mengajukan karena sebagian telah memiliki alat dari bantuan sebelumnya.
“Ada juga yang tidak mengusulkan karena sudah punya, seperti di Sumber Sari yang mendapat bantuan dari provinsi,” jelasnya.
Selain combine, distribusi teknologi pertanian lain seperti drone juga belum berjalan optimal. Distan PPU baru memiliki lima unit drone, namun belum disalurkan karena masih menunggu pelatihan dan sertifikasi operator.
“Drone sudah ada lima unit, tapi belum kita distribusikan karena pilotnya harus dilatih dan bersertifikat,” katanya.
Keterbatasan combine harvester berdampak langsung pada petani yang masih bergantung pada sistem sewa, terutama saat musim panen. Mahfud menyebut kondisi ini belum dapat dihindari.
“Memang masih banyak petani yang menyewa karena jumlah combine belum mencukupi untuk melayani seluruh lahan,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai sistem sewa tetap diperlukan, bahkan jika jumlah alsintan mencukupi, untuk menutup biaya operasional dan perawatan alat.
“Kalau tidak ada sewa, biaya operasional seperti BBM dan perbaikan tidak tertutupi. Jadi tetap perlu, tapi tarifnya diharapkan lebih terjangkau,” tegasnya.
Mahfud menambahkan, setiap Brigade Pangan rata-rata mengelola lahan hingga 200 hektare. Dengan cakupan tersebut, satu unit combine dinilai belum memadai dan berisiko mempercepat kerusakan alat.
“Kalau satu combine dipakai untuk 200 hektare, jelas tidak cukup dan bisa cepat rusak,” jelasnya. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id