DBD Turun di Atas Kertas, Dua Nyawa Melayang di PPU

Penurunan angka Demam Berdarah di Penajam Paser Utara tidak sepenuhnya mencerminkan situasi lapangan. Pada Desember 2025, dua anak meninggal akibat DBD.
Fajri
By
3k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dalam beberapa tahun terakhir gencar menekan penularan Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun, pada Desember 2025, pemerintah daerah “kecolongan” dua kasus kematian akibat DBD, meski secara umum angka penularan penyakit tersebut justru menurun dibanding tahun sebelumnya.

Fungsional Entomologi Dinas Kesehatan PPU, Ponco Waluyo, mengatakan bahwa secara statistik jumlah kasus DBD tahun 2025 lebih rendah dibanding 2024. Namun, dua kasus kematian yang terjadi di akhir tahun menjadi alarm serius.

“Kita memang turun angkanya dari tahun lalu, cuma ternyata kita kecolongan. Di akhir-akhir Desember ini ada dua korban meninggal, dan itu yang menjadi perhatian,” ujar Ponco, Selasa (30/12/2025).

Kedua korban masing-masing berusia 10 dan 14 tahun. Satu korban berasal dari Kelurahan Semoi, Kecamatan Sepaku, dan satu lainnya dari Kecamatan Waru.

- Advertisement -
Ad image

Menurut Ponco, keterlambatan penanganan menjadi faktor utama kematian kedua pasien. Di Semoi, pasien baru dibawa ke puskesmas setelah tujuh hari sakit, sebelumnya sempat berobat di fasilitas lain namun tidak terdeteksi sebagai DBD. Sementara di Waru, pasien baru dibawa ke puskesmas pada hari keempat sejak demam.

“Ketika datang ke puskesmas, kondisinya sudah menurun, bahkan sudah mulai terjadi penurunan kesadaran. Keduanya sempat dirujuk ke RSUD Ratu Aji Putri Botung, tapi hanya bertahan satu malam,” jelasnya.

Ponco menilai kejadian ini menunjukkan masih lemahnya pemahaman masyarakat terkait gejala awal DBD dan pentingnya deteksi dini.

“Ini menunjukkan edukasi ke masyarakat masih kurang. Banyak yang menganggap demam itu biasa. Padahal demam tanpa sebab yang jelas justru harus diwaspadai,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat kerap baru membawa pasien ke fasilitas kesehatan setelah muncul tanda berat seperti mimisan, padahal saat itu kondisi sudah memasuki fase berbahaya.

Padahal, Dinas Kesehatan PPU telah mendistribusikan alat deteksi cepat NS1 ke seluruh puskesmas induk, seperti di Penajam, Petung, Waru, dan Babulu, untuk mendeteksi DBD sejak hari pertama hingga hari keempat demam.

“Kalau ada panas tanpa sebab, segera periksa. NS1 bisa mendeteksi dini supaya penanganan bisa cepat dan tidak memakan korban,” tegasnya.

Ponco juga menjelaskan bahwa faktor cuaca, terutama curah hujan, memengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Namun, nyamuk DBD justru berkembang biak di air bersih, bukan air kotor.

“Yang harus dijaga itu kebersihan di dalam dan sekitar rumah. Jangan sampai ada wadah air seperti kaleng bekas, gelas plastik, potongan bambu, atau penampungan air lain yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa Aedes aegypti tidak berkembang biak di genangan yang bersentuhan langsung dengan tanah, tetapi di wadah air bersih yang tertampung.

Meski demikian, Ponco menyebut ada wilayah yang berhasil bebas DBD dalam beberapa tahun terakhir, seperti Desa Sumber Sari di Kecamatan Babulu dan Kelurahan Sepan di Kecamatan Penajam.

“Itu tercatat bebas kasus DBD selama tiga tahun berturut-turut, dari 2022 sampai 2024,” jelasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }