Giripurwa hingga Babulu Masuk Zona Rawan, BPBD PPU Petakan Ancaman Karhutla dan Kekeringan

Sejumlah wilayah di PPU dipetakan sebagai titik rawan karhutla dan kekeringan jelang El Nino 2026, dengan kawasan lahan gambut menjadi perhatian utama.
Fajri
By
1.8k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memetakan sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan sebagai langkah antisipasi dampak El Nino 2026.

Kepala Pelaksana BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan pemetaan dilakukan berdasarkan riwayat kejadian pada tahun-tahun sebelumnya, terutama di kawasan dengan karakter lahan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

“Untuk karhutla, yang perlu penanganan ekstra itu lahan gambut. Berdasarkan data sebelumnya, wilayah rawan berada di Desa Giripurwa, Petung, Waru, hingga Pinang Jatus dan Labu Burok,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, karakteristik lahan gambut membuat api mudah menyebar dan sulit dikendalikan karena dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah.

“Lahan gambut itu cukup dengan kondisi panas saja bisa terbakar, dan api bisa menjalar di bawah tanah,” jelasnya.

Sementara itu, wilayah Sepaku dinilai relatif lebih aman karena didominasi tanah mineral. Meski demikian, pengawasan dan sosialisasi kepada masyarakat tetap diperlukan untuk mencegah praktik pembakaran lahan.

“Sepaku sebagian besar bukan lahan gambut, jadi lebih kepada pencegahan melalui komunikasi dan sosialisasi agar tidak terjadi pembakaran,” ujarnya.

Selain potensi karhutla, BPBD juga mewaspadai ancaman kekeringan, khususnya di Kecamatan Babulu yang sebelumnya kerap mengalami krisis air bersih.

“Di Babulu cukup sering dilakukan distribusi air bersih, seperti di wilayah Sumber Sari dan sekitarnya,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD telah menjalin kerja sama dengan PDAM serta mendorong optimalisasi embung sebagai sumber cadangan air.

“Kami sudah bekerja sama dengan PDAM. Namun jika kekeringan berlangsung panjang, sumber air bisa berkurang. Karena itu, embung perlu ditata dan dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.

Dalam kondisi darurat karhutla, BPBD akan memanfaatkan sumber air terdekat seperti sungai kecil untuk pemadaman, sementara air bersih diprioritaskan bagi kebutuhan masyarakat.

“Untuk pemadaman, kami gunakan sumber air di sekitar lokasi. Sedangkan air bersih diprioritaskan untuk warga,” jelasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana