Terungkap! Puding MBG di Waru Diduga Tercemar Kuman, 27 Anak Sempat Dilarikan ke Puskesmas

Dinas Kesehatan Penajam Paser Utara memastikan adanya kontaminasi kuman pada sejumlah sampel makanan program Makanan Bergizi Gratis di Kecamatan Waru. Salah satu yang terdeteksi tercemar adalah puding buah yang dikonsumsi siswa sebelum puluhan anak mengalami keracunan.
Fajri
By
2.8k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan keracunan massal di Kecamatan Waru akhirnya keluar. Pemeriksaan tersebut menemukan adanya kontaminasi kuman pada beberapa jenis makanan yang disajikan kepada siswa.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Penajam Paser Utara (PPU), Jansje Grace Makisurat, mengatakan kuman ditemukan pada sejumlah sampel makanan, salah satunya pada puding buah yang disajikan saat kejadian.

“Sudah ada hasilnya, memang ditemukan ada kuman di beberapa sampel. Kami juga sudah kembali melakukan pembinaan ke SPPG,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).

Grace menjelaskan, kontaminasi tersebut diduga terjadi karena makanan, termasuk puding, tidak tertutup rapat dalam waktu cukup lama sehingga berpotensi terpapar polusi udara.

- Advertisement -
Ad image

Terkait kelanjutan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru Nur Lampu, ia mengatakan keputusan sepenuhnya berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN). Dinkes PPU hanya memberikan rekomendasi teknis berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.

“Iya, nanti kalau mau buka lagi dan berkoordinasi dengan kami, tentu akan kami cek ulang,” katanya.

Grace juga membenarkan bahwa SPPG Waru Nur Lampu belum memiliki Surat Laik Higienis Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan PPU.

Akibat kejadian tersebut, pihaknya memberikan sejumlah rekomendasi perbaikan, di antaranya pembenahan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), pengelolaan sampah yang lebih baik, serta perbaikan saluran pembuangan limbah cair.

“SPPG harus mengerjakan sesuai rekomendasi kami,” tegasnya.

Selain itu, operasional SPPG tersebut saat ini masih dibatasi. Mereka hanya diperbolehkan melayani satu hingga dua sekolah hingga seluruh rekomendasi dipenuhi.

“Jadi dibatasi dulu sampai mereka menyelesaikan itu. Setelah itu baru bisa menambah sekolah lagi,” jelasnya.

Grace mengaku tidak mengingat secara rinci jenis kuman yang ditemukan dalam hasil pemeriksaan laboratorium. Namun ia menjelaskan bahwa gejala keracunan bisa berbeda pada setiap anak, tergantung kondisi tubuh masing-masing.

“Keracunan itu efeknya bisa berbeda. Ada yang muntah, diare, bahkan sesak napas, terutama pada anak yang punya riwayat asma,” terangnya.

Ia memastikan seluruh 27 siswa yang mengalami keracunan telah mendapatkan penanganan medis dan kini sudah pulih.

“Tapi semuanya sudah sembuh. Hari itu juga sebagian besar sudah pulang. Ada satu yang datang malam, tapi setelah ditangani juga langsung pulang. Tidak sampai dirujuk ke rumah sakit,” katanya.

Selain dampak kesehatan, Grace menilai kejadian tersebut juga menimbulkan trauma bagi siswa dan orang tua terhadap program MBG.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan pihak terkait seharusnya tidak hanya melalui guru, tetapi juga kepada para orang tua siswa.

“Kalau pendekatan hanya ke guru saja rasanya kurang tepat. Harusnya juga ke orang tua, karena banyak yang marah. Orang tua pasti khawatir memberikan makanan itu lagi kepada anaknya,” ujarnya.

Dinkes PPU juga menegaskan agar penyediaan makanan tidak lagi melibatkan pihak ketiga. Menurut Grace, penggunaan pihak ketiga menyulitkan pengawasan terhadap proses memasak dan standar higienitas makanan.

“Kami sudah melatih pengelola, tetapi kalau melibatkan pihak ketiga tentu berada di luar kontrol kami,” jelasnya.

Dari seluruh SPPG yang beroperasi di wilayah tersebut, ia menyebut hanya SPPG Polres yang juga belum memiliki SLHS dan saat ini masih dalam tahap evaluasi.

Grace berharap kejadian keracunan tersebut menjadi pelajaran penting agar tidak terulang di kemudian hari.

“Ini menjadi pelajaran berharga bagi kami. Kami berharap kejadian keracunan ini tidak terjadi lagi,” jelasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana