BPBD Kaltim Ingatkan Ancaman Bencana hingga Akhir Maret, Ini Wilayah Rawan

Ancaman bencana hidrometeorologi masih membayangi Kalimantan Timur hingga penghujung Maret 2026. BPBD mencatat sejumlah daerah seperti Berau dan Kutai Timur masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi.
Fajri
By
2.4k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Intensitas hujan yang masih cukup tinggi di Kalimantan Timur membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Ancaman banjir dan tanah longsor diperkirakan masih membayangi sejumlah wilayah hingga penghujung Maret 2026.

Kepala BPBD Kalimantan Timur, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan berdasarkan rilis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi curah hujan harian di wilayah Benua Etam masih berada pada level sedang hingga tinggi. Kondisi ini dinilai berisiko memicu bencana, terutama di daerah dengan sistem drainase terbatas dan daerah aliran sungai yang sensitif.

“Kalau melihat data BMKG, sampai akhir Maret potensi hujan masih cukup signifikan. Ini yang membuat kami terus meningkatkan kewaspadaan,” kata Buyung.

Buyung menjelaskan, dinamika cuaca di Kalimantan Timur tidak hanya dipengaruhi faktor lokal. Perubahan pola atmosfer juga dipicu oleh fenomena global, termasuk pembentukan angin siklon di kawasan Pasifik yang berdampak pada wilayah Indonesia bagian timur.

- Advertisement -
Ad image

BPBD Kaltim mencatat, pada periode 4 hingga 9 Maret, curah hujan harian berada di kisaran 20 hingga 50 milimeter. Sejumlah daerah, seperti Kabupaten Berau dan Kutai Timur, masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas relatif tinggi.

“Wilayah kita memang tergolong rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Untuk beberapa daerah, potensi hujannya masih cukup besar,” ujarnya.

Meski demikian, ia memastikan kondisi secara umum masih dalam batas terkendali. Hingga kini, pemerintah pusat belum menetapkan status siaga bencana untuk Kalimantan Timur.

Terkait kejadian banjir yang sempat melanda sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Wahau, Buyung menyebut genangan air lebih banyak dipicu oleh luapan sungai serta pasang air laut (rob). Dengan demikian, peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh perubahan ekstrem kondisi geografis.

“Karakter tanah di Kalimantan Timur berbeda dengan wilayah pegunungan seperti di Sumatera. Sampai sekarang, kami belum menerima laporan kejadian tanah longsor,” sebutnya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, BPBD Kaltim terus memperkuat koordinasi lintas sektor. Kerja sama dilakukan dengan pemerintah kabupaten dan kota, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Basarnas guna memastikan kesiapan personel dan logistik.

“Kami siap melakukan langkah darurat, termasuk evakuasi dan pengungsian, apabila situasi di lapangan memburuk,” terangnya.

Ia menambahkan, dampak banjir yang paling terasa sejauh ini adalah terganggunya akses jalan di beberapa kawasan permukiman, seperti yang terjadi di Wahau.

Selain kesiapsiagaan sumber daya manusia, BPBD Kaltim juga menaruh perhatian pada kelengkapan alat mitigasi bencana. Buyung menyebut pendataan peralatan menjadi salah satu prioritas pembenahan internal.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi saya. Saya ingin memastikan langsung kondisi peralatan di lapangan, bukan hanya menerima laporan. Semua harus masuk dalam satu basis data yang akurat,” tukasnya.

Menurut Buyung, akurasi data menjadi kunci agar seluruh sarana dan prasarana penanggulangan bencana dapat berfungsi optimal saat dibutuhkan.

“Kalau datanya jelas, saat bencana terjadi, kita tidak lagi sibuk mencari alat,” jelasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana