Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Praktik prostitusi terselubung di Kalimantan Timur teridentifikasi berjalan dalam pola yang terstruktur. Temuan ini mencakup migrasi pekerja seks dari luar daerah, modus penyamaran tempat praktik, hingga dugaan pembiaran aparat lingkungan yang menerbitkan surat domisili bagi pendatang baru.
Satpol PP Kaltim menyebut pola tersebut mengindikasikan lemahnya pengawasan wilayah dan celah besar dalam tata kelola keamanan lingkungan.
Kepala Bidang Trantibum Satpol PP Kaltim, Edwin Noviansyah Rachim, mengatakan sebagian besar pekerja seks yang terjaring berasal dari luar daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Mereka rata-rata baru tiba 3–5 hari sebelum tertangkap, tetapi sudah mengantongi surat domisili dari ketua RT setempat.
“Ini bukan hal kecil. Kalau ada pendatang baru dalam jumlah besar dan semuanya mendapatkan surat domisili, berarti ada prosedur yang dilompati,” tegas Edwin.
Satpol PP juga menemukan sejumlah pekerja seks yang positif HIV dan sifilis. Meski demikian, mereka mengaku tetap melayani pelanggan dengan hanya mengandalkan obat untuk meredakan gejala. Edwin menilai kondisi ini sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Baca Juga
Di beberapa lokasi, praktik prostitusi dijalankan dengan memanfaatkan rumah tinggal atau berkedok panti pijat. Saat operasi, petugas menemukan ruangan yang didesain khusus untuk aktivitas ilegal, penjualan minuman keras tanpa izin, hingga alat kontrasepsi. Beberapa lokasi bahkan tetap nekat beroperasi meski mengetahui adanya rencana penertiban.
“Kami melihat pola yang terorganisir, bukan aktivitas spontan,” ujarnya.
Edwin menambahkan, sebagian pekerja seks bergantung pada pekerjaan tersebut karena minim keterampilan. Tanpa program pemulangan dan pembinaan yang memadai, mereka berpotensi kembali ke lingkaran prostitusi.
Baca Juga
“Kalau tidak punya keahlian, mereka tidak punya pilihan lain. Ini harus diselesaikan dari hulunya,” lanjutnya.
Saat ini, Satpol PP memperluas pemetaan titik rawan, termasuk lokasi yang dilaporkan masyarakat sebagai tempat hiburan malam yang diduga melibatkan remaja dan pelajar.
“Kami memastikan operasi berikutnya akan dilakukan tanpa pemberitahuan untuk mencegah kebocoran informasi,” jelasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id
